Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Akhlis Purnomo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Akhlis Purnomo adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Tren Berolahraga, Ikut Tanpa Perlu dengan Ekstrem

Kompas.com, 27 Mei 2025, 17:51 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ada yang patut disyukuri dari tren olahraga yang berkembang sekarang: membantu kita terus menambah tingkat kebugaran secara umum.

Menurut Indeks Pembangunan Olahraga yang disusun oleh Kemenpora, di tahun 2024 Indonesia IPO Indonesia mencatatkan peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 0,007 poin, dari 0,327 pada 2023 menjadi 0,334. 

Dengan kata lain, masih banyak orang Indonesia belum mau dan sadar pentingnya olahraga dan ini berdampak besar pada prestasi olahraga Indonesia di kancah internasional.

Buktinya di Olimpiade prestasi kita memble, padahal dalam hal jumlah penduduk Indonesia terbanyak nomor 4 di dunia.

Meski di satu sisi masih banyak orang Indonesia yang malas olahraga, di sisi lain kita bisa temukan juga anak-anak muda dan kaum paruh baya yang keranjingan olahraga ekstrem semacam CrossFit, lari marathon, competitive bodybuilding, sepeda jarak jauh, dan sebagainya.

Tujuan mereka berolahraga begitu keras biasanya karena tren gaya hidup, mencari jati diri, mencari validasi eksternal, mengisi waktu luang, mendapatkan body goal tertentu atau karena ingin lebih bugar dan sehat serta panjang umur dan menua dengan sehat.

Sayangnya, kadang sebagian lupa bahwa makin keras berolahraga, belum tentu kita makin panjang usia. Bahkan malah akibatnya bisa memperpendek usia yang biasanya diakibatkan memakai zat peningkat performa tanpa pengawasan dokter dalam jangka panjang. 

More Is Not Always Better

Tim peneliti dari University of Jyvskyl, Finland, meneliti kaitan antara aktivitas fisik dan risiko kematian dalam jangka panjang dan untuk mengetahui apakah kegiatan fisik bisa menurunkan risiko kematian akibat kerawanan genetik terhadap penyakit-penyakit.

Sebagai informasi, studi ini melibatkan 22.750 orang Finlandia yang lahir sebelum tahun 1958. Temuan dipublikasikan di laman sciencedaily pada 13 Maret 2025.

Hasil studi ini ternyata menunjukkan bahwa kegiatan fisik yang bersifat moderat (tidak terlalu ringan tapi juga tidak terlalu keras dan menguras energi) dalam jangka panjang memberikan manfaat paling banyak jika kita ingin memperpanjang angka harapan hidup.

Bahkan peneliti menyatakan bahwa aktivitas fisik yang terlalu ekstrem dan keras tidak membawa manfaat ekstra bagi kesehatan dan harapan hidup.

Namun, dalam jangka pendek diakui memang level intensitas aktivitas fisik yang makin tinggi bisa menurunkan risiko kematian seseorang.

Lebih lanjut, peneliti mengatakan bahwa harapan hidup mereka yang olahraga keras tak jauh berbeda dari mereka yang kurang berolahraga.

Oleh karena itu, berolahraga terlalu keras justru bisa membuang waktu dan mensabotase Anda dalam mencapai tujuan untuk menjaga kebugaran dan menua dengan sehat. 

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau