Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Listhia H. Rahman
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Listhia H. Rahman adalah seorang yang berprofesi sebagai Ahli Gizi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Lebih Mending Mana, Lari atau Jalan Kaki?

Kompas.com, 20 Juli 2025, 16:03 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Sekarang ada yang lazim sekali kita lihat ketika pagi maupun sore hari: orang-orang yang berlari atau jalan kaki di sepanjang jalan.

Ada yang di trotoar jalan, lintasan lari, hingga jalan-jalan komplek yang menghubungkan dari satu jalan ke jalan lainnya.

Olahraga kini seperti sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Hal ini tentu baik, mengingat manfaatnya yang berdampak positif bagi kesehatan fisik dan juga mental.

Maka, dari banyaknya olahraga yang bisa dilakukan, nampaknya lari dan jalan kaki kini sedang naik daun.

Olahraga yang dikatakan murah, karena hanya bermodal kaki, beda hitungan jika sudah melibatkan pernak-pernik lainnya. #eh

Sama-sama Kardio

Berlari atau berjalan, keduanya adalah jenis olahraga kardio/aerobik. Olahraga jenis ini dapat meningkatkan detak jantung dan juga pernapasan.

Dampaknya jenis olahraga ini dapat melatih sistem kardiovaskuler seperti jantung, paru-paru dan pembuluh darah bagi yang rutin melakukannya.

Meski sama-sama kardio, intensitas lari dan jalan kaki berbeda. Hal ini yang mengakibatkan energi yang dikeluarkan berbeda. Orang yang melakukan lari pun bisa berbeda pengeluaran energinya tergantung kecepatan/pace pelari. Secara umum, lari akan lebih membakar kalori daripada berjalan kaki.

Ingat Prinsip Berolahraga

Lalu apakah semua orang harus berlari, atau berjalan kaki saja cukup?

Jika ditanya demikian, maka ingat dulu ada namanya prinsip dalam melakukan olahraga yaitu BBTT (Baik, Benar, Terukur, dan Teratur).

Baik maksudnya sesuaikan dengan kondisi fisik dan gunakan perlengkapan yang sesuai seperti baju olahraga dan sepatu yang nyaman.

Benar maksudnya olahraga sebaiknya dilakukan bertahap dari pemanasan, inti, dan pendinginan. Jadi sebelum berlari, misalnya. Pastikan diri kamu sudah melakukan pemanasan untuk menghindari diri dari cedera. Banyak sekali tutorial pemanasan yang bisa ditiru di media sosial.

Terukur yaitu adanya pengukuran nadi/detak jantung. Saat ini, sudah banyak orang yang melakukan prinsip ini karena terbantu oleh alat seperti smartband. Bahkan muncul istilah Polisi HR (heart rate) untuk orang-orang yang sering berkomentar tentang denyut jantung saat olahraga.

Selanjutnya prinsip teratur, di mana olahraga sebaiknya dilakukan minimal 3-5x seminggu. Bukan hanya sekadar ikut-ikutan lalu lupa.

Ingat ada faktor yang tidak bisa diubah juga secara usia. Hal ini perlu menjadi perhatian karena semakin berusia, denyut jantung maksimal juga akan berkurang.

Artinya, intensitas olahraga perlu disesuaikan agar tidak membuat jantung malah menjadi kepayahan.

Terutama bagi pemula/baru melakukan olahraga, sebaiknya kamu tahu kemampuan tubuhmu seperti apa.

Bagaimana hitungannya? Berikut rumus denyut jantung maksimal (HR max)= 220-usia.

Jadi kalau kamu memang tidak suka berlari, silakan jalan kaki. Tidak semua orang harus mendadak jadi pelari, kok. Jika ingin berlari atau jalan kaki juga pastikan di lingkungan yang tidak membahayakan. Hati-hati jika berlari di bahu jalan, apalagi jika menggunakan earphone.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk membandingkan mana yang terbaik, karena keduanya sama-sama baik dan bisa dilakukan tergantung dari kondisi masing-masing. Jika ingin berlari, silakan. Jika ingin berjalan, silakan.

Jika ingin keduanya divariasikan, juga boleh. Lari dan jalan sama-sama baik untuk kesehatan, daripada tidak melakukan aktivitas sama sekali alias mageran, ya to?

Kamu yang mana?

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Lari vs. Jalan Kaki, Kamu yang Mana?"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau