
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Sekarang ada yang lazim sekali kita lihat ketika pagi maupun sore hari: orang-orang yang berlari atau jalan kaki di sepanjang jalan.
Ada yang di trotoar jalan, lintasan lari, hingga jalan-jalan komplek yang menghubungkan dari satu jalan ke jalan lainnya.
Olahraga kini seperti sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Hal ini tentu baik, mengingat manfaatnya yang berdampak positif bagi kesehatan fisik dan juga mental.
Maka, dari banyaknya olahraga yang bisa dilakukan, nampaknya lari dan jalan kaki kini sedang naik daun.
Olahraga yang dikatakan murah, karena hanya bermodal kaki, beda hitungan jika sudah melibatkan pernak-pernik lainnya. #eh
Sama-sama Kardio
Berlari atau berjalan, keduanya adalah jenis olahraga kardio/aerobik. Olahraga jenis ini dapat meningkatkan detak jantung dan juga pernapasan.
Dampaknya jenis olahraga ini dapat melatih sistem kardiovaskuler seperti jantung, paru-paru dan pembuluh darah bagi yang rutin melakukannya.
Meski sama-sama kardio, intensitas lari dan jalan kaki berbeda. Hal ini yang mengakibatkan energi yang dikeluarkan berbeda. Orang yang melakukan lari pun bisa berbeda pengeluaran energinya tergantung kecepatan/pace pelari. Secara umum, lari akan lebih membakar kalori daripada berjalan kaki.
Ingat Prinsip Berolahraga
Lalu apakah semua orang harus berlari, atau berjalan kaki saja cukup?
Jika ditanya demikian, maka ingat dulu ada namanya prinsip dalam melakukan olahraga yaitu BBTT (Baik, Benar, Terukur, dan Teratur).
Baik maksudnya sesuaikan dengan kondisi fisik dan gunakan perlengkapan yang sesuai seperti baju olahraga dan sepatu yang nyaman.
Benar maksudnya olahraga sebaiknya dilakukan bertahap dari pemanasan, inti, dan pendinginan. Jadi sebelum berlari, misalnya. Pastikan diri kamu sudah melakukan pemanasan untuk menghindari diri dari cedera. Banyak sekali tutorial pemanasan yang bisa ditiru di media sosial.
Terukur yaitu adanya pengukuran nadi/detak jantung. Saat ini, sudah banyak orang yang melakukan prinsip ini karena terbantu oleh alat seperti smartband. Bahkan muncul istilah Polisi HR (heart rate) untuk orang-orang yang sering berkomentar tentang denyut jantung saat olahraga.
Selanjutnya prinsip teratur, di mana olahraga sebaiknya dilakukan minimal 3-5x seminggu. Bukan hanya sekadar ikut-ikutan lalu lupa.
Ingat ada faktor yang tidak bisa diubah juga secara usia. Hal ini perlu menjadi perhatian karena semakin berusia, denyut jantung maksimal juga akan berkurang.
Artinya, intensitas olahraga perlu disesuaikan agar tidak membuat jantung malah menjadi kepayahan.
Terutama bagi pemula/baru melakukan olahraga, sebaiknya kamu tahu kemampuan tubuhmu seperti apa.
Bagaimana hitungannya? Berikut rumus denyut jantung maksimal (HR max)= 220-usia.
Jadi kalau kamu memang tidak suka berlari, silakan jalan kaki. Tidak semua orang harus mendadak jadi pelari, kok. Jika ingin berlari atau jalan kaki juga pastikan di lingkungan yang tidak membahayakan. Hati-hati jika berlari di bahu jalan, apalagi jika menggunakan earphone.
Tulisan ini tidak bertujuan untuk membandingkan mana yang terbaik, karena keduanya sama-sama baik dan bisa dilakukan tergantung dari kondisi masing-masing. Jika ingin berlari, silakan. Jika ingin berjalan, silakan.
Jika ingin keduanya divariasikan, juga boleh. Lari dan jalan sama-sama baik untuk kesehatan, daripada tidak melakukan aktivitas sama sekali alias mageran, ya to?
Kamu yang mana?
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Lari vs. Jalan Kaki, Kamu yang Mana?"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang