
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah kamu pernah menjalani sebuah perjalanan sederhana, bahkan dengan kendaraan tua, justru menjadi kenangan paling hangat yang tak tergantikan dalam hidup?
Selama hidup, pengalaman mudik yang saya alami sebenarnya tidak banyak. Ada dua fase yang paling berkesan. Pertama, ketika masih melajang pada rentang 2005–2008, saya sempat beberapa kali mudik dari Banda Aceh ke Bandung.
Kedua, ketika sudah berkeluarga, antara 2010 hingga 2016, mudik dilakukan dari Depok menuju Bandung.
Dari dua fase itu, kisah yang paling membekas justru datang dari periode kedua—mudik bersama keluarga, ditemani sebuah mobil tua yang kami beri nama: Tohaga.
Judul “mudik bersama mobil tua” mungkin terdengar sederhana, bahkan sedikit janggal. Namun, bagi kami, Tohaga bukan sekadar kendaraan. Ia telah menjadi bagian dari keluarga.
Menjelang Lebaran, percakapan ringan dengan tetangga menjadi hal yang lumrah.
“Lu kapan mudik?”
“Pakai apa mudiknya?”
“Sama siapa aja?”
Saat itu kami tinggal di kawasan Depok, di lingkungan yang mayoritas dihuni warga Betawi. Suasana kampung yang masih asri, dengan pohon belimbing dan aliran Sungai Ciliwung di sekitarnya, membuat momen-momen seperti ini terasa hangat.
“Dua hari lagi, Bang,” jawab saya suatu waktu.
“Bareng keluarga… sama si Tohaga.”
Tak jarang, orang mengira Tohaga adalah nama anak atau saudara. Padahal, Tohaga adalah Land Rover tua milik keluarga kami—bahkan usianya hanya terpaut setahun dari saya.
Namun, karena diberi nama dan begitu dekat dengan kehidupan kami, kehadirannya memang terasa seperti anggota keluarga. Sejak anak pertama lahir, Tohaga sudah menemani perjalanan kami. Bahkan ketika anak bungsu lahir, mobil inilah yang menjemputnya dari rumah sakit.
Mudik bersama Tohaga selalu menghadirkan cerita tersendiri.