
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Mereka duduk bersama untuk merancang anggaran bulanan, menentukan prioritas pengeluaran, hingga menyusun rencana tabungan jangka panjang. Meskipun istri memegang kendali teknis atas keuangan, suami tetap dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Buat sebagian suami, ini justru membebaskan mental: “Aku capek di kerjaan, dan senang kalau urusan keuangan rumah tangga bisa dibantu istri. Asal aku tahu uang ke mana aja, aku sih oke.”
Begitu juga untuk para istri yang memang memiliki kecakapan lebih dalam budgeting, mencatat pengeluaran, hingga mencari promo bulanan. Peran ini menjadi bagian dari kolaborasi, bukan dominasi.
Artinya, ketika penyerahan gaji dilakukan secara sadar, terbuka, dan saling menghargai, justru bisa memperkuat hubungan. Ada rasa saling percaya, kerja sama, dan visi bersama yang menyehatkan kehidupan rumah tangga.
Namun, cerita manis ini bisa berubah arah—jika kontrol hanya ada di satu tangan, dan komunikasi mulai putus.
Sisi Gelapnya, Kapan Ini Bisa Jadi Toxic?
Sayangnya, tidak semua pasangan yang menjalani pola “gaji suami diserahkan ke istri” berjalan mulus.
Ketika komunikasi mulai terputus dan pengelolaan uang menjadi monopoli, pola ini bisa berubah menjadi sesuatu yang tidak sehat — bahkan toxic.
Ada beberapa tanda ketika ada permasalahan keuangan keluarga:
1. Suami tidak tahu kemana uangnya pergi. Karena hanya menyerahkan tanpa keterlibatan, suami jadi awam soal arus kas keluarga.
Hal ini berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan dan rasa tidak dihargai.
2. Istri menjadi “penguasa keuangan” yang mutlak. Ketika semua keputusan finansial ada di tangan istri tanpa diskusi, suami bisa merasa kehilangan kontrol dan kebebasan dalam rumah tangga.
3. Suami enggan bertanya atau ikut urusan keuangan. Bisa jadi karena sudah “pasrah” atau takut dicap nggak paham.
Namun, ketidaktahuan ini berisiko bikin suami merasa tidak dihargai sebagai kepala keluarga.
4. Pertengkaran soal uang jadi sering terjadi tapi tidak terselesaikan. Karena ada ketidakseimbangan informasi dan pengambilan keputusan, konflik bisa berulang tanpa solusi.
5. Perasaan tekanan dan stres pada istri. Mengelola seluruh keuangan keluarga tanpa dukungan bisa jadi beban berat, terutama jika suami tidak peduli atau tidak terlibat sama sekali.
Dalam konteks ini, pola “gaji suami diserahkan semua ke istri” bukan lagi soal pembagian tugas, tapi sudah menjadi bentuk ketergantungan dan dominasi yang berpotensi merusak keharmonisan.
Kuncinya: Komunikasi dan Kesepakatan