
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah pasangan kita akan keberatan jika sebagian penghasilan digunakan untuk menafkahi orangtua?
Apa risiko yang bisa muncul bila tidak terbuka soal keuangan kepada pasangan?
Setelah menikah, cara kita mengelola keuangan tentu berubah. Saat masih lajang, mungkin kita bebas menentukan arah penggunaan uang: mau ditabung, dipakai jalan-jalan, atau sekadar memenuhi hobi.
Namun, ketika sudah berumah tangga, kita punya tanggung jawab baru: ada pasangan dan keluarga yang harus diprioritaskan.
Nah, di tengah kebutuhan rumah tangga, muncul pertanyaan yang kerap bikin pasangan muda berpikir dua kali: bagaimana dengan memberi nafkah kepada orangtua setelah menikah?
Apakah masih perlu? Bagaimana caranya agar tidak menimbulkan masalah dalam rumah tangga?
Saya dan suami pun mengalami hal yang sama. Kami masih menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu orangtua.
Meski jumlahnya tidak banyak, kami percaya itu bisa meringankan beban mereka di masa tua. Namun, agar langkah ini tetap harmonis, ada beberapa hal yang penting diperhatikan.
1. Menyesuaikan dengan Kebutuhan Keluarga
Prioritas utama setelah menikah tentu keluarga inti. Artinya, kebutuhan rumah tangga sehari-hari tidak boleh terabaikan.
Kalau masih ada rezeki lebih, barulah bisa disalurkan untuk membantu orangtua.
Saya merasakan perbedaan besar setelah menikah. Jika dulu bisa memberi lebih banyak, kini jumlahnya memang tidak sebesar sebelumnya.
Beruntungnya, orangtua kami selalu legowo, tidak pernah menuntut apa pun. Mereka menerima dengan ikhlas berapa pun yang bisa kami berikan.
Setiap keluarga punya kondisi berbeda. Namun, intinya adalah menempatkan keluarga inti sebagai prioritas utama, lalu memberi orangtua sesuai kemampuan.
Oleh karena itu, kita tetap bisa berterima kasih atas perjuangan mereka tanpa mengabaikan tanggung jawab utama di rumah.