
Bagaimana jika suatu hari nanti anak cucu kita hanya mengenal hutan Kalimantan melalui buku pelajaran, foto, dan cerita orang-orang yang pernah menyaksikannya secara langsung? Apakah kita sedang mewariskan kekayaan alam yang masih terjaga, atau justru meninggalkan kenangan tentang hutan yang perlahan menghilang akibat kebakaran dan alih fungsi lahan?
Saat itu, usia saya masih sekitar lima tahun ketika bapak dan ibu memperkenalkan saya pada sebuah tempat yang terasa begitu asing bagi naluri seorang anak kecil. Bapak bercerita bahwa tempat ini cukup asri untuk memulai kehidupan mandiri bersama saya, anak pertama mereka.
Ya, saat itu adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Tinggal cukup lama di pulau yang dilintasi garis khatulistiwa itu membuat saya tumbuh dengan kesadaran bahwa kehidupan kami dikelilingi bentang hutan tropis Kalimantan yang lebat dan memesona. Bagi saya, hutan-hutan itu seperti katedral alam, tempat pepohonan besar yang telah tumbuh selama puluhan hingga ratusan tahun menjulang tinggi seolah menyentuh langit.
Meski tinggal di tengah kota, suasana pagi yang saya kenal kala itu tidak semata-mata diwarnai aroma aspal yang terpapar matahari atau asap kendaraan bermotor. Ada pula kesegaran udara yang bercampur dengan aroma tanah, lumut, dan dedaunan basah di sekitar rumah.
Waktu terus berjalan. Tanpa terasa, saya menghabiskan 25 tahun pertama kehidupan di sana. Kalimantan yang dahulu mungkin dianggap jauh dan terpencil oleh sebagian orang di Jawa, bahkan dijadikan bahan candaan sebagai tempat yang jauh dari keramaian, justru menjadi rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan bagi saya.
Hingga akhirnya, keadaan membawa keluarga saya kembali ke Pulau Jawa untuk melanjutkan kehidupan. Di kampung halaman, saya kerap bercerita tentang nyaman dan tenangnya hidup di Kalimantan. Saya menceritakan tempat-tempat wisatanya, keramahan masyarakat Dayak dan Banjar, hingga pusat perbelanjaannya yang tidak kalah besar dan modern dibandingkan dengan yang ada di Jawa.
Rasa sayang saya kepada Kalimantan saat itu begitu besar. Saya bahkan ingin menunjukkan kepada keluarga dan sepupu-sepupu generasi Z di Jawa bahwa Kalimantan bukanlah wilayah yang tertinggal seperti anggapan sebagian orang. Ada kehidupan perkotaan yang berkembang, masyarakat yang beragam, dan keindahan alam yang menjadi kebanggaan tersendiri.
Di balik kehidupan kota yang terus tumbuh, Kalimantan memang tidak pernah sepenuhnya terpisah dari hutan-hutannya. Bagi masyarakat yang memiliki ikatan panjang dengan alam, hutan bukan sekadar sumber daya yang dapat dihitung berdasarkan nilai ekonominya. Hutan juga berkaitan dengan kehidupan, identitas, kebudayaan, dan keberlangsungan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Namun, seperempat abad kenangan itu kini terasa semakin berharga ketika saya melihat berbagai kabar tentang kerusakan hutan. Kenangan tentang alam yang dahulu terasa begitu dekat perlahan berhadapan dengan kenyataan berupa kebakaran, asap, dan perubahan bentang alam yang menimbulkan kekhawatiran.
Dahulu, dunia internasional memandang Borneo atau Kalimantan dengan kekaguman. Saya pun merasakan kebanggaan yang sama. Pulau ini dikenal melalui julukan seperti Paru-Paru Dunia dan Zamrud Khatulistiwa, sebutan yang menggambarkan kekayaan hutan tropis dan keanekaragaman hayatinya.
Banyak peneliti dan pemerhati lingkungan dari berbagai negara datang untuk mempelajari ekosistem Kalimantan. Hutan tropisnya memiliki peran penting dalam menyimpan karbon, menjaga keseimbangan ekosistem, serta mendukung kehidupan berbagai spesies. Keberadaan hutan tersebut juga berkontribusi terhadap kestabilan iklim, yang manfaatnya melampaui batas wilayah tempat hutan itu tumbuh.
Buku-buku geografi yang dahulu saya pelajari di sekolah turut memperkenalkan kekayaan alam Kalimantan. Hutan hujan tropisnya digambarkan sebagai rumah bagi beragam flora dan fauna, sekaligus bagian penting dari sistem kehidupan di bumi.
Kini, berbagai persoalan lingkungan membuat kebanggaan itu disertai kegelisahan. Julukan Zamrud Khatulistiwa terasa seperti pengingat tentang kekayaan yang harus dijaga, tetapi juga tentang kerusakan yang tidak boleh dianggap biasa.
Hutan yang dahulu menjadi kebanggaan dan penopang kehidupan kini menghadapi ancaman kebakaran dan kehilangan tutupan lahan. Asap yang dihasilkan tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak.
Ironi itu sulit diabaikan. Ekosistem yang berperan penting bagi kehidupan justru dapat berubah menjadi sumber bencana ketika terbakar. Hutan yang seharusnya membantu menjaga keseimbangan lingkungan malah meninggalkan asap yang menyulitkan manusia dan makhluk hidup lainnya untuk bernapas.
Kebakaran hutan dan lahan bukan persoalan yang bisa dipandang sebagai insiden sesaat. Terlebih ketika api bertahan lama, merambat ke wilayah yang luas, atau menjangkau lahan gambut yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar.
Dalam naskah dan pemberitaan tentang kebakaran hutan, kita kerap menjumpai angka luas wilayah terdampak yang mencapai ratusan ribu hektare, bahkan lebih besar jika dihitung secara akumulatif selama beberapa dekade. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini tidak dapat dipandang sebagai kerusakan kecil yang mudah dipulihkan.
Ekosistem hutan terbentuk melalui proses alam yang panjang. Pepohonan, tumbuhan bawah, tanah, mikroorganisme, serta berbagai satwa membentuk hubungan yang rumit dan saling bergantung. Ketika kebakaran melanda, kerusakan yang terjadi tidak hanya menyangkut hilangnya pepohonan, tetapi juga dapat memengaruhi struktur tanah, habitat satwa, dan kemampuan ekosistem untuk pulih.