
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah pekerjaan atau status sosial masih menjadi tolok ukur utama mertua dalam menilai menantu? Apalagi, saat ini, benarkah menjadi seorang PNS adalah idola mertua?
Hubungan antara mertua dan menantu memang bukan perkara sederhana. Ada pasangan yang beruntung karena mertua memperlakukan mereka layaknya anak kandung sendiri, penuh kasih sayang dan dukungan.
Namun, ada pula yang harus menghadapi dinamika berbeda: relasi yang renggang, penuh ekspektasi, dan tak jarang terasa menekan.
Ekspektasi mertua terhadap menantu bisa muncul dalam banyak bentuk—mulai dari latar belakang keluarga hingga profesi yang digeluti.
Seorang teman pernah berbagi kisahnya. Ia kerap merasa kurang diterima oleh sang mertua karena tidak berstatus PNS seperti suaminya.
Teman saya ini adalah guru di sekolah swasta. Di setiap acara keluarga, ia sering kali merasa berada di posisi yang kurang diperhatikan dan bahkan kerap menjadi sasaran sindiran halus.
Syukurnya, mereka tidak tinggal serumah dengan mertua. Bagi teman saya, pilihan untuk hidup terpisah menjadi salah satu cara menjaga jarak agar hubungan dengan mertua tetap terkendali.
Situasi ini tentu akan lebih rumit jika harus tinggal bersama dalam satu atap. Konflik bisa makin besar bila ketidaknyamanan itu tidak diungkapkan dengan bijak, bahkan bisa merembet pada hubungan suami-istri itu sendiri.
Pindah atau tinggal terpisah memang bukan keputusan mudah. Orangtua mungkin merasa kehilangan jika anaknya tidak lagi tinggal bersama.
Namun, dalam banyak kasus, ini bisa menjadi langkah yang sehat untuk menjaga keharmonisan rumah tangga baru. Bagaimanapun, saat pasangan menikah, mereka membentuk keluarga mandiri yang seharusnya perlahan lepas dari intervensi orangtua.
Bukan rahasia lagi, ada rumah tangga yang akhirnya kandas karena campur tangan berlebihan dari pihak mertua.
Sebaliknya, orangtua pun perlu menyadari batasan agar tidak terlalu jauh mencampuri kehidupan anak yang sudah berkeluarga. Di sinilah pentingnya saling menghormati ruang masing-masing.
Di sisi lain, ekspektasi mertua terhadap menantu mungkin sulit dihapus sepenuhnya. Daripada berupaya memenuhi standar yang ditetapkan mertua—misalnya harus bekerja sebagai PNS—lebih bijak jika menantu fokus pada perannya sendiri sebagai pasangan dan orangtua.
Menikah sejatinya bukan untuk memuaskan mertua, melainkan untuk membangun rumah tangga yang sehat dan bahagia.
Ketika seorang menantu hanya berupaya menyenangkan mertua, ia bisa terjebak pada beban mental. Apalagi jika usahanya tidak dihargai, justru menambah rasa bersalah dan tekanan batin.
Sebaliknya, dengan menjadi pasangan dan orangtua yang baik berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya sendiri, pandangan positif mertua lambat laun bisa ikut terbangun.
Sikap ketus mertua memang tidak selalu bisa dihindari. Jadi, daripada terus memusatkan perhatian pada ketidaksenangan mertua, lebih baik menantu fokus memperkuat kualitas dirinya sendiri.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mertua Jadi Ketus Gegara Menantu Bukan PNS"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang