
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya untuk apa dan untuk siapa kita belajar?
Apakah semua usaha yang dilakukan di masa sekolah hanya sekadar rutinitas, atau justru bekal penting untuk kehidupan mereka kelak?
Keluh-kesah orang tua dalam mendampingi anak belajar adalah cerita yang sering kita dengar.
Ada yang masih harus “memaksa” anak-anaknya mengerjakan PR, ada pula yang bercerita tentang sulitnya membangunkan anak di pagi hari sehingga sering terlambat ke sekolah. Semua itu terasa akrab, bukan?
Padahal, jika kita bicara motivasi, ada banyak hal menarik di baliknya. Secara sederhana, motivasi adalah daya dorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Motivasi ini bisa datang dari dalam diri (internal/intrinsik) maupun dari luar (eksternal/ekstrinsik). Biasanya motivasi internal lebih kuat karena perilaku yang muncul akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan motivasi eksternal.
Anak-anak usia TK, SD, hingga SMP sebenarnya sedang berada pada fase penting untuk menumbuhkan motivasi ini.
Pada tahap ini, kesadaran mereka tentang “kenapa harus belajar” atau “untuk apa sekolah” belum sepenuhnya terbentuk.
Maka wajar jika mereka kerap mempertanyakan, “Kenapa aku harus dapat nilai bagus? Buat apa disiplin itu?”
Psikolog perkembangan Jean Piaget pernah menguraikan empat tahap perkembangan kognitif manusia.
Dari teori tersebut, kita bisa memahami bahwa anak-anak pada usia 7–11 tahun (SD) memang belum sepenuhnya mampu berpikir mendalam tentang sebab-akibat dan dampak jangka panjang dari perilaku mereka.
Pertanyaan seperti “Untuk apa aku belajar?” atau “Untuk siapa aku berlatih disiplin?” sering muncul karena secara kognitif mereka memang masih belajar memahami hal-hal tersebut.
Di sinilah peran orang tua sangat penting. Melalui pembiasaan sehari-hari—misalnya rutinitas yang konsisten—anak bisa belajar memahami makna dari usaha yang dilakukan.
Tidak hanya lewat kata-kata, tetapi juga lewat contoh nyata dan pengalaman berulang.
Sedangkan pada tahap perkembangan berikutnya (12 tahun ke atas), anak mulai siap memahami alasan di balik aturan, disiplin, dan tanggung jawab.