Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Herry Mardianto
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Herry Mardianto adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi

Kompas.com, 8 Februari 2026, 11:09 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, masih adakah ruang bagi pengrajin gamelan dan apa yang sebenarnya mereka perjuangkan agar bunyi tradisi tetap hidup?

Ketegaran tampak jelas di raut wajah Supoyo (59) ketika wawancara berlangsung pada 2 Februari 2026. Di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai bengkel kerjanya, ia duduk tenang, seolah telah memahami bahwa perbincangan ini pada akhirnya akan sampai pada satu tema yang kerap mengiringi hidupnya: nasib gamelan yang perlahan tergeser ke jalan sunyi.

Di dinding barat dan selatan rumah sederhananya, tergantung hiasan kuda kepang—properti yang lazim digunakan dalam pertunjukan jatilan. Di sisi utara, tersandar beberapa lembar plat besi tebal, bahan utama pembuatan gong, demung, saron, dan kempul. Lantai ruang tamu tidak sepenuhnya berlapis keramik.

Sebagiannya masih berupa tanah padat, sengaja dibiarkan demikian agar berfungsi sebagai bantalan saat menempa besi, meredam pantulan pukulan.

Di antara peralatan itu, tergantung pula semacam “catatan masa kejayaan”. Daftar pesanan dari berbagai daerah yang pernah ia tangani: dari Salaman, Magelang; Kokap, Kulonprogo; hingga Klaten. Semuanya menjadi saksi bahwa pernah ada masa ketika perangkat gamelan begitu dibutuhkan.

Supoyo, yang di kalangan pelaku seni tradisi jatilan lebih akrab disapa Kecuk, tidak pernah membayangkan dirinya menjadi pengrajin gamelan, jika bukan karena satu peristiwa kecil di masa lalu.

Andai kakaknya tidak mengajarinya mengelas besi dengan baik, mungkin ia tidak akan diminta Pak Slamet, pengrajin gamelan ternama di kampungnya, untuk membantu pekerjaan di bengkel.

Pak Slamet, yang tinggal satu kampung dengan Kecuk di Turusan, Banyuraden, Gamping, Sleman, dikenal luas pada dekade 1990an sebagai pembuat gamelan. Banyak kelompok karawitan dan jatilan memesan perangkat kepadanya.

Berbekal keterampilan mengelas, Kecuk kemudian nyantrik, belajar dari dekat bagaimana gamelan dibuat dari memotong plat besi, menempa, membentuk rai dan godhongan, membuat pencu, hingga melaras.

Namun ada satu proses yang paling ia inginkan untuk pelajari: nglaras. Setiap kali ia mendekat saat Pak Slamet menyetel nada gamelan, ia justru diminta menjauh.

“Ngapa kowe? Mbok kana ngalih nggolek gawean liya,” kenangnya, menirukan perintah sang guru.

Tidak putus asa, Kecuk mengubah cara belajarnya. Ia memperhatikan dari kejauhan, diam-diam mencermati bagaimana sentuhan palu di bagian tertentu mampu mengubah karakter bunyi. Dari situ ia menyadari bahwa pembuatan gamelan bukan sekadar kerja fisik, melainkan soal kepekaan rasa.

“Proses tersulit justru menentukan laras,” ujarnya. “Tapi saya percaya, kalau bisa membuatnya, pelan-pelan pasti bisa melaras.”

Baginya, gamelan bukan alat musik tunggal, melainkan arsitektur bunyi yang menuntut kebersamaan. Tidak ada satu instrumen yang menonjol sendirian. Semua harus selaras.

“Nglaras niku gumantung pikiran lan ati,” kata Kecuk pelan. Jika pikirannya tidak tenang, ia bisa menghabiskan seharian menyetel satu gong tanpa hasil.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau