Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
melisa emeraldina
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas

Kompas.com, 22 Februari 2026, 15:36 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Harga yang rendah kerap membuat kita merasa aman untuk membeli lebih banyak. Diskon, promosi, dan iklan sering kali menggoda, meskipun barang tersebut tidak benar-benar kita butuhkan. Fokus kita tertuju pada nominal harga, bukan pada kualitas atau relevansi dengan kebutuhan.

Tanpa disadari, pola ini dapat memengaruhi kenyamanan fisik maupun mental. Barang yang kurang berkualitas bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan memicu kekesalan karena tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Contohnya sederhana. Pakaian dengan bahan kurang baik mungkin tidak menyerap keringat dengan optimal, sehingga terasa panas dan tidak nyaman.

Peralatan masak dengan kualitas rendah dapat menimbulkan risiko kesehatan. Barang elektronik murah pun sering kali cepat rusak atau memiliki fungsi yang terbatas.

Meski demikian, banyak dari kita cenderung melihat harga lebih dulu sebelum mempertimbangkan kualitas.

Ada kalanya kita merasa ragu membeli barang dengan harga di atas rata-rata, bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa “terlalu mahal” untuk diri sendiri. Yang menghambat bukan selalu kemampuan finansial, melainkan persepsi tentang kelayakan.

Belanja dengan Pertimbangan yang Lebih Matang

Suatu hari saya melihat isi lemari pakaian. Ada beberapa baju murah yang memang sering dipakai dan cukup awet.

Namun tidak sedikit pula yang hanya digunakan dua atau tiga kali karena ternyata kurang nyaman atau kurang sesuai. Sebagian bahkan sudah saya hibahkan dalam kondisi hampir baru.

Jika dihitung, empat atau lima pakaian yang jarang dipakai itu mungkin bernilai antara lima ratus ribu hingga satu juta rupiah.

Jadi, dengan jumlah tersebut, saya sebenarnya bisa membeli satu pakaian berkualitas yang benar-benar nyaman dan sesuai—baik dari segi bahan, model, warna, maupun potongannya.

Namun membeli barang murah sering terasa lebih “aman”. Risikonya dianggap kecil. Jika ternyata tidak cocok, rasanya tidak terlalu merugikan.

Terlebih saat berbelanja daring, pembelian kadang terasa seperti untung-untungan. Jika ada fasilitas retur, kita masih merasa lega. Jika tidak, barang tersebut hanya akan menumpuk atau diberikan kepada orang lain.

Sebaliknya, produk dengan kualitas lebih baik umumnya memberikan pengalaman menyeluruh yang lebih terjamin mulai dari informasi produk yang jelas, sistem pembayaran yang aman, pengemasan yang rapi, hingga kebijakan retur dan layanan purnajual yang lebih tertata. Semua itu menghadirkan rasa aman dalam bertransaksi.

Memang, untuk membeli produk berkualitas kita kadang perlu menabung atau mengatur keuangan dengan lebih cermat. Namun langkah itu sering kali lebih sepadan dibandingkan membeli banyak barang murah yang akhirnya jarang digunakan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau