
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Harga yang rendah kerap membuat kita merasa aman untuk membeli lebih banyak. Diskon, promosi, dan iklan sering kali menggoda, meskipun barang tersebut tidak benar-benar kita butuhkan. Fokus kita tertuju pada nominal harga, bukan pada kualitas atau relevansi dengan kebutuhan.
Tanpa disadari, pola ini dapat memengaruhi kenyamanan fisik maupun mental. Barang yang kurang berkualitas bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan memicu kekesalan karena tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Contohnya sederhana. Pakaian dengan bahan kurang baik mungkin tidak menyerap keringat dengan optimal, sehingga terasa panas dan tidak nyaman.
Peralatan masak dengan kualitas rendah dapat menimbulkan risiko kesehatan. Barang elektronik murah pun sering kali cepat rusak atau memiliki fungsi yang terbatas.
Meski demikian, banyak dari kita cenderung melihat harga lebih dulu sebelum mempertimbangkan kualitas.
Ada kalanya kita merasa ragu membeli barang dengan harga di atas rata-rata, bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa “terlalu mahal” untuk diri sendiri. Yang menghambat bukan selalu kemampuan finansial, melainkan persepsi tentang kelayakan.
Belanja dengan Pertimbangan yang Lebih Matang
Suatu hari saya melihat isi lemari pakaian. Ada beberapa baju murah yang memang sering dipakai dan cukup awet.
Namun tidak sedikit pula yang hanya digunakan dua atau tiga kali karena ternyata kurang nyaman atau kurang sesuai. Sebagian bahkan sudah saya hibahkan dalam kondisi hampir baru.
Jika dihitung, empat atau lima pakaian yang jarang dipakai itu mungkin bernilai antara lima ratus ribu hingga satu juta rupiah.
Jadi, dengan jumlah tersebut, saya sebenarnya bisa membeli satu pakaian berkualitas yang benar-benar nyaman dan sesuai—baik dari segi bahan, model, warna, maupun potongannya.
Namun membeli barang murah sering terasa lebih “aman”. Risikonya dianggap kecil. Jika ternyata tidak cocok, rasanya tidak terlalu merugikan.
Terlebih saat berbelanja daring, pembelian kadang terasa seperti untung-untungan. Jika ada fasilitas retur, kita masih merasa lega. Jika tidak, barang tersebut hanya akan menumpuk atau diberikan kepada orang lain.
Sebaliknya, produk dengan kualitas lebih baik umumnya memberikan pengalaman menyeluruh yang lebih terjamin mulai dari informasi produk yang jelas, sistem pembayaran yang aman, pengemasan yang rapi, hingga kebijakan retur dan layanan purnajual yang lebih tertata. Semua itu menghadirkan rasa aman dalam bertransaksi.
Memang, untuk membeli produk berkualitas kita kadang perlu menabung atau mengatur keuangan dengan lebih cermat. Namun langkah itu sering kali lebih sepadan dibandingkan membeli banyak barang murah yang akhirnya jarang digunakan.