
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Benarkah praktik hidup berkelanjutan selalu lahir dari teknologi modern dan sistem yang rumit? Ataukah justru telah lama hidup diam-diam di sudut-sudut kampung, menyatu dengan kebiasaan sehari-hari?
Saya baru menyadari bahwa ikan di kampung kami istimewa ketika membawanya ke kota. Beberapa teman yang mencicipinya hampir serempak berkomentar: dagingnya manis, gurih, harum, dan tidak berbau lumpur seperti ikan air tawar yang biasa mereka beli di pasar. Saya hanya tersenyum.
Bagi kami, ikan itu tidak pernah terasa istimewa. Ia sekadar bagian dari keseharian—dipancing saat ingin lauk, dibiarkan berenang saat belum ingin memasak ikan.
Kolam itu berada di kaki bukit, tak jauh dari sumber mata air yang mengalir tanpa henti. Airnya masuk ke kolam, lalu keluar kembali untuk mengairi sawah. Di sekelilingnya tumbuh talas liar yang subur; daunnya kerap kami ambil untuk pakan.
Kadang ikan juga diberi sisa dapur atau pelet secukupnya. Tidak ada target panen, tidak ada hitungan untung-rugi. Ikan-ikan itu dipelihara turun-temurun, seperti warisan kebiasaan yang tak pernah dipertanyakan alasannya.
Jenis ikan di kolam itu beragam gurame, nila, ikan mas, juga nilem. Semuanya hidup dalam satu ekosistem yang sama. Kami jarang memanennya. Biasanya ikan dipancing seperlunya ketika ingin dimasak.
Bahkan tak jarang kolam dibiarkan berbulan-bulan tanpa gangguan. Hingga suatu hari, ketika ikan-ikan tampak sudah terlalu besar, barulah dipanen dan air kolam sekalian dikuras.
Pakan ikan pun sederhana. Daun talas liar yang tumbuh di sekitar mata air sering menjadi makanan utama. Kadang daun singkong, sisa tanaman di pot, atau sisa dapur turut diberikan.
Setiap kali daun dimasukkan ke kolam, tak lama kemudian yang tersisa hanya bonggolnya. Bagian lunaknya habis dimakan ikan.
Bagi kami, itu pemandangan biasa. Namun belakangan saya menyadari bahwa di situlah keistimewaan itu bermula ikan hidup dari makanan alami, air segar yang terus mengalir, dan ruang gerak yang cukup.
Kami tak pernah merasa sedang menjalankan sistem budidaya yang ideal. Kami hanya mengikuti kebiasaan lama: memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar.
Air yang mengalir ke kolam tak pernah benar-benar terbuang karena akhirnya mengairi sawah.
Sisa dapur tak menjadi sampah karena berubah menjadi pakan ikan. Kolam bukan sekadar tempat memelihara ikan, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang menyatu dengan lingkungan.
Barangkali karena itulah rasanya berbeda. Ikan tidak dipaksa tumbuh cepat, tidak hidup di air yang tergenang, dan tidak dikejar target panen terus-menerus.
Mereka tumbuh dalam ritme yang wajar, seolah alam mengatur pertumbuhannya sendiri. Hasilnya bukan hanya daging yang lebih kenyal dan gurih, tetapi juga rasa yang sulit dijelaskan rasa yang baru terasa istimewa ketika dibandingkan dengan ikan dari tempat lain.