Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
agus hendrawan
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama agus hendrawan adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem

Kompas.com, 22 Februari 2026, 16:40 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Benarkah praktik hidup berkelanjutan selalu lahir dari teknologi modern dan sistem yang rumit? Ataukah justru telah lama hidup diam-diam di sudut-sudut kampung, menyatu dengan kebiasaan sehari-hari?

Saya baru menyadari bahwa ikan di kampung kami istimewa ketika membawanya ke kota. Beberapa teman yang mencicipinya hampir serempak berkomentar: dagingnya manis, gurih, harum, dan tidak berbau lumpur seperti ikan air tawar yang biasa mereka beli di pasar. Saya hanya tersenyum.

Bagi kami, ikan itu tidak pernah terasa istimewa. Ia sekadar bagian dari keseharian—dipancing saat ingin lauk, dibiarkan berenang saat belum ingin memasak ikan.

Kolam itu berada di kaki bukit, tak jauh dari sumber mata air yang mengalir tanpa henti. Airnya masuk ke kolam, lalu keluar kembali untuk mengairi sawah. Di sekelilingnya tumbuh talas liar yang subur; daunnya kerap kami ambil untuk pakan.

Kadang ikan juga diberi sisa dapur atau pelet secukupnya. Tidak ada target panen, tidak ada hitungan untung-rugi. Ikan-ikan itu dipelihara turun-temurun, seperti warisan kebiasaan yang tak pernah dipertanyakan alasannya.

Jenis ikan di kolam itu beragam gurame, nila, ikan mas, juga nilem. Semuanya hidup dalam satu ekosistem yang sama. Kami jarang memanennya. Biasanya ikan dipancing seperlunya ketika ingin dimasak.

Bahkan tak jarang kolam dibiarkan berbulan-bulan tanpa gangguan. Hingga suatu hari, ketika ikan-ikan tampak sudah terlalu besar, barulah dipanen dan air kolam sekalian dikuras.

Pakan ikan pun sederhana. Daun talas liar yang tumbuh di sekitar mata air sering menjadi makanan utama. Kadang daun singkong, sisa tanaman di pot, atau sisa dapur turut diberikan.

Setiap kali daun dimasukkan ke kolam, tak lama kemudian yang tersisa hanya bonggolnya. Bagian lunaknya habis dimakan ikan.

Bagi kami, itu pemandangan biasa. Namun belakangan saya menyadari bahwa di situlah keistimewaan itu bermula ikan hidup dari makanan alami, air segar yang terus mengalir, dan ruang gerak yang cukup.

Kami tak pernah merasa sedang menjalankan sistem budidaya yang ideal. Kami hanya mengikuti kebiasaan lama: memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar.

Air yang mengalir ke kolam tak pernah benar-benar terbuang karena akhirnya mengairi sawah.

Sisa dapur tak menjadi sampah karena berubah menjadi pakan ikan. Kolam bukan sekadar tempat memelihara ikan, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang menyatu dengan lingkungan.

Barangkali karena itulah rasanya berbeda. Ikan tidak dipaksa tumbuh cepat, tidak hidup di air yang tergenang, dan tidak dikejar target panen terus-menerus.

Mereka tumbuh dalam ritme yang wajar, seolah alam mengatur pertumbuhannya sendiri. Hasilnya bukan hanya daging yang lebih kenyal dan gurih, tetapi juga rasa yang sulit dijelaskan rasa yang baru terasa istimewa ketika dibandingkan dengan ikan dari tempat lain.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau