Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompasiana News
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Kompasiana News adalah seorang yang berprofesi sebagai Editor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial

Kompas.com, 23 Februari 2026, 07:46 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Sejak kapan hubungan menjadi tontonan? Sejak kapan rasa sayang perlu dibuktikan lewat unggahan, tag, dan caption penuh emoji?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang dari kumpulan artikel dalam tema ini, tampak jelas bahwa kemesraan di media sosial bukan sekadar ekspresi cinta telah menjadi bagian dari lanskap sosial generasi digital.

Kompasianer Rahmad Agus Koto mengusulkan sebuah Topik Pilihan ketika media sosial diisi oleh netizen yang mengumbar kebahagiaan dan kemesraan --apapun itu alasannya-- ternyata berdampak buruk bagi hubungan.

Menariknya, beberapa tulisan justru mengangkat paradoks yang sering terjadi: pasangan yang tampak sangat harmonis di timeline, tiba-tiba berpisah tanpa jejak. Ini mengingatkan bahwa media sosial hanya menampilkan potongan terbaik--highlight, bukan keseluruhan cerita. Konflik, perdebatan, kelelahan emosional jarang mendapat tempat dalam unggahan.

Kami coba rangkumkan beberapa konten yang masuk dari usulan Topik Pilihan Kompasianer Rahmad Agus Koto.

1. Mengapa Pamer Kebahagiaan Tidak Selalu Merusak Hubungan?

Konten yang dibuat oleh Kompasianer Julianda Boang Manalu mengulas anggapan umum bahwa terlalu sering memamerkan kemesraan di media sosial dapat merusak hubungan.

Malah lewat kontennya, Kompasianer Julianda Boang Manalu mempertanyakan premis tersebut dengan sudut pandang yang lebih seimbang. Media sosial disebut bukan selalu penyebab konflik, melainkan sering kali hanya cermin dari kualitas hubungan yang sudah ada.

Pasangan yang puas dan merasa aman dalam relasinya justru bisa merasa nyaman menampilkan status hubungan secara terbuka sebagai bentuk kebanggaan dan keterikatan.

"Hubungan menjadi alat untuk mempertahankan reputasi digital. Dalam situasi seperti ini, risiko konflik memang lebih besar," tulisnya.

Pada akhirnya, bukan jumlah likes yang menguatkan relasi, melainkan kejujuran, dialog, dan kehadiran nyata ketika layar dimatikan. Media sosial hanyalah alat---ia bisa memperbesar masalah, tetapi juga bisa memperbesar rasa syukur. (Baca selengkapnya)

2. Privasi adalah Segalanya, Tak Perlu Umbar Momen Mesra di Medsos

Kemesraan yang dipertontonkan menurut Kompasianer Diantika IE bisa memicu perbandingan dalam rumah tangga orang lain, menggeser standar kebahagiaan, dan menciptakan tekanan yang tidak sehat akibat ekspektasi publik.

Risiko lain muncul ketika kehidupan rumah tangga terlalu terbuka: komentar netizen dapat memperkeruh situasi saat masalah terjadi. Opini, cibiran, hingga provokasi dari luar bisa memperbesar konflik yang seharusnya dapat diselesaikan secara pribadi. Beban mental pun menjadi lebih berat karena persoalan yang mestinya intim berubah menjadi konsumsi publik.

Oleh karena itu, Kompasianer Diantika IE  memilih menjaga privasi sebagai bentuk perlindungan terhadap kebahagiaan itu sendiri. Privasi bukan berarti menyembunyikan kebahagiaan, melainkan cara merawatnya agar tetap utuh tanpa bergantung pada validasi.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Kata Netizen
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau