
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Media sosial hanyalah sarana, bukan pusat kehidupan. Hubungan yang hangat dan komunikasi yang sehat di dunia nyata jauh lebih penting daripada sorotan dan jumlah suka di layar. (Baca selengkapnya)
3. Menimbang Ulang Romantisme Digital, Perlukah Mengumbar Kemesraan di Media Sosial?
Ada yang menarik dari konten yang dibuat Kompasianer Ahmad Edi Prianto yakni ketika mengajak pembaca menimbang ulang fenomena romantisme digital di tengah maraknya unggahan kemesraan di media sosial.
Cinta yang dulu cukup dinikmati di ruang privat kini seolah memiliki "versi online" yang terasa hampir wajib dibagikan. Munculnya standar seperti relationship goals perlahan membentuk ukuran baru tentang hubungan ideal, sehingga banyak orang tanpa sadar membandingkan relasinya dengan potret-potret harmonis yang tampil di linimasa.
Berbagi momen romantis adalah hal yang wajar sebagai bentuk ekspresi dan dokumentasi kenangan. Media sosial dapat menjadi album modern sekaligus ruang pengakuan publik atas sebuah hubungan.
Ketika cinta berubah menjadi konsumsi publik, muncul risiko perbandingan sosial, tekanan citra, hingga jejak digital yang sulit dihapus. (Baca selengkapnya)
***
Nah, kalau kompasianer mau membaca beragam konten menarik lainnya, silakan kunjungi Topik Pilihan: Mengumbar Kemesraan di Media Sosial, Apa Perlu?
Namun, jika ada yang tertarik mengirimkan ide-ide menarik lainnya untuk Topik Pilihan, silakan isi Form Topik Pilihan ini.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang