Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Masykur Mahmud
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Masykur Mahmud adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi

Kompas.com, 29 Maret 2026, 16:51 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ketika ruang hijau di desa kian menyusut dan suhu terasa makin panas, apakah ini sekadar dampak pembangunan atau tanda bahwa kita mulai kehilangan keseimbangan dengan alam?

Saat berkunjung ke rumah kerabat di kampung, percakapan sederhana membawa pada satu topik yang terasa semakin relevan: jumlah pepohonan yang kian berkurang. Di sisi lain, sebagian sawah mulai kehilangan produktivitas akibat debit air yang terus menurun.

Para petani kini lebih banyak bergantung pada irigasi untuk mengairi lahan. Namun, hasil panen tak selalu sebanding dengan biaya hidup yang terus meningkat.

Nah, di tengah situasi tersebut, banyak anak muda memilih merantau ke kota, mencari peluang yang dianggap lebih menjanjikan.

Perubahan juga terasa dari sisi cuaca. Musim kemarau tidak lagi mudah diprediksi, sementara hujan datang sesekali tanpa pola yang jelas. Pohon-pohon besar yang dahulu mudah ditemui kini semakin jarang terlihat.

Padahal, dalam ingatan, suasana kampung dulu terasa sejuk, dengan ruang hijau yang mengelilingi kehidupan sehari-hari.

Kini, kondisinya berbeda. Selain jumlah pepohonan yang menurun drastis, kesadaran untuk menjaga lingkungan pun tampak ikut berkurang. Di beberapa sudut, sampah terlihat berserakan, menandakan adanya perubahan dalam cara kita memperlakukan ruang hidup.

Desa dan Tantangan yang Kian Serupa dengan Kota

Selama ini, isu berkurangnya ruang terbuka hijau kerap dikaitkan dengan kawasan perkotaan. Namun, kenyataannya desa-desa pun mulai menghadapi tantangan serupa.

Lahan yang dahulu menjadi tempat tumbuh pepohonan perlahan beralih fungsi. Pembangunan jalan beton dan perluasan permukiman menjadi kebutuhan yang sulit dihindari.

Namun di balik itu, ada konsekuensi yang tidak kecil: pohon-pohon yang telah tumbuh puluhan tahun harus ditebang, dan ruang hijau semakin menyempit.

Perubahan ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia merupakan akumulasi dari berbagai keputusan baik yang disadari maupun tidak. Pembangunan sering kali diukur dari banyaknya bangunan yang berdiri, seolah-olah kemajuan identik dengan beton dan aspal.

Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa baik kota maupun desa kini menghadapi persoalan yang serupa: berkurangnya ruang hijau, menurunnya kualitas udara, serta meningkatnya suhu lingkungan.

Dampak yang Mulai Terasa

Perubahan lingkungan ini perlahan menghadirkan dampak dalam kehidupan sehari-hari. Jika dulu rumah-rumah terasa sejuk tanpa bantuan alat, kini kipas angin bahkan pendingin ruangan menjadi kebutuhan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau