
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika ruang hijau di desa kian menyusut dan suhu terasa makin panas, apakah ini sekadar dampak pembangunan atau tanda bahwa kita mulai kehilangan keseimbangan dengan alam?
Saat berkunjung ke rumah kerabat di kampung, percakapan sederhana membawa pada satu topik yang terasa semakin relevan: jumlah pepohonan yang kian berkurang. Di sisi lain, sebagian sawah mulai kehilangan produktivitas akibat debit air yang terus menurun.
Para petani kini lebih banyak bergantung pada irigasi untuk mengairi lahan. Namun, hasil panen tak selalu sebanding dengan biaya hidup yang terus meningkat.
Nah, di tengah situasi tersebut, banyak anak muda memilih merantau ke kota, mencari peluang yang dianggap lebih menjanjikan.
Perubahan juga terasa dari sisi cuaca. Musim kemarau tidak lagi mudah diprediksi, sementara hujan datang sesekali tanpa pola yang jelas. Pohon-pohon besar yang dahulu mudah ditemui kini semakin jarang terlihat.
Padahal, dalam ingatan, suasana kampung dulu terasa sejuk, dengan ruang hijau yang mengelilingi kehidupan sehari-hari.
Kini, kondisinya berbeda. Selain jumlah pepohonan yang menurun drastis, kesadaran untuk menjaga lingkungan pun tampak ikut berkurang. Di beberapa sudut, sampah terlihat berserakan, menandakan adanya perubahan dalam cara kita memperlakukan ruang hidup.
Desa dan Tantangan yang Kian Serupa dengan Kota
Selama ini, isu berkurangnya ruang terbuka hijau kerap dikaitkan dengan kawasan perkotaan. Namun, kenyataannya desa-desa pun mulai menghadapi tantangan serupa.
Lahan yang dahulu menjadi tempat tumbuh pepohonan perlahan beralih fungsi. Pembangunan jalan beton dan perluasan permukiman menjadi kebutuhan yang sulit dihindari.
Namun di balik itu, ada konsekuensi yang tidak kecil: pohon-pohon yang telah tumbuh puluhan tahun harus ditebang, dan ruang hijau semakin menyempit.
Perubahan ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia merupakan akumulasi dari berbagai keputusan baik yang disadari maupun tidak. Pembangunan sering kali diukur dari banyaknya bangunan yang berdiri, seolah-olah kemajuan identik dengan beton dan aspal.
Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa baik kota maupun desa kini menghadapi persoalan yang serupa: berkurangnya ruang hijau, menurunnya kualitas udara, serta meningkatnya suhu lingkungan.
Dampak yang Mulai Terasa
Perubahan lingkungan ini perlahan menghadirkan dampak dalam kehidupan sehari-hari. Jika dulu rumah-rumah terasa sejuk tanpa bantuan alat, kini kipas angin bahkan pendingin ruangan menjadi kebutuhan.