
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana sebuah pasar tradisional di tengah kebun bambu mampu menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga sarat nilai ekologi, budaya, dan pembelajaran?
Pasar selalu memiliki daya tarik tersendiri. Ia bukan sekadar ruang transaksi jual beli, melainkan juga tempat bertemunya manusia, bertukar cerita, hingga mengalirnya informasi secara alami.
Hal itu terasa semakin kuat ketika mengunjungi Pasar Papringan Ngadiprono, sebuah destinasi yang mengusung konsep wisata ekobudaya.
Keinginan untuk berkunjung ke tempat ini sebenarnya sudah lama muncul, seiring banyaknya cerita yang beredar di media.
Akhirnya, kesempatan itu datang pada Minggu Pon. Perlu diketahui, pasar ini tidak buka setiap hari. Ia hanya hadir mengikuti penanggalan Jawa, yakni pada Minggu Pon dan Minggu Wage. Artinya, dalam satu siklus 35 hari, pasar ini hanya buka dua kali.
Setibanya di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, suasana sudah cukup ramai meski waktu masih menunjukkan pukul 07.47 pagi. Kendaraan pengunjung memadati area parkir, menandakan tingginya minat masyarakat terhadap destinasi ini.
Perjalanan menuju lokasi pasar pun menghadirkan pengalaman tersendiri. Jalan berbatu yang menanjak di sela pemukiman membawa pengunjung menuju sebuah perbukitan kecil. Udara terasa semakin sejuk. Memasuki area pasar, pengunjung disambut oleh rimbunnya papringan rumpun bambu yang menjadi ciri khas tempat ini.
Ekosistem Kebun Bambu yang Terjaga
Di dalam kawasan pasar, pengunjung seakan diajak masuk ke dalam ekosistem kebun bambu yang masih terjaga. Rumpun bambu ditata secara alami, dengan sentuhan estetika yang tetap mempertahankan karakter aslinya. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menciptakan suasana teduh dan nyaman.
Jalan setapak di bawahnya pun dirancang dengan mempertimbangkan keamanan tanpa merusak alam. Bebatuan bulat disusun sebagai pijakan, sehingga tetap menjaga resapan air sekaligus meminimalkan risiko terpeleset. Perpaduan antara estetika, fungsi, dan keberlanjutan terasa begitu harmonis.
Ragam Jajanan Tradisional yang Menggoda
Setelah menikmati suasana, pengalaman berlanjut ke area kuliner. Sebelum bertransaksi, pengunjung perlu menukar uang dengan alat pembayaran khusus berupa potongan bambu yang disebut pring. Setiap pring bernilai Rp2.000, dan menariknya, sisa pring tidak dapat ditukar kembali sebuah pengingat untuk berbelanja secukupnya.
Aneka jajanan tradisional tersaji dengan tampilan yang menggugah selera. Mulai dari onde-onde, klepon, lupis, cenil, hingga hidangan berat seperti soto ayam, nasi gono, dan kupat tahu. Minuman pun tak kalah menarik, seperti dawet hangat dan wedang pring.
Pasar ini terasa seperti “laboratorium” kuliner tradisional. Beragam makanan yang mungkin jarang ditemui kini dihidupkan kembali. Sebagian dipertahankan dalam bentuk aslinya, sebagian lain dikreasikan agar tetap relevan dengan selera masa kini.
Sentuhan Budaya Lokal yang Hidup