Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Suprihati
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Suprihati adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Menjelajah Pasar Papringan Temanggung

Kompas.com, 29 Maret 2026, 20:09 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana sebuah pasar tradisional di tengah kebun bambu mampu menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga sarat nilai ekologi, budaya, dan pembelajaran?

Pasar selalu memiliki daya tarik tersendiri. Ia bukan sekadar ruang transaksi jual beli, melainkan juga tempat bertemunya manusia, bertukar cerita, hingga mengalirnya informasi secara alami.

Hal itu terasa semakin kuat ketika mengunjungi Pasar Papringan Ngadiprono, sebuah destinasi yang mengusung konsep wisata ekobudaya.

Keinginan untuk berkunjung ke tempat ini sebenarnya sudah lama muncul, seiring banyaknya cerita yang beredar di media.

Akhirnya, kesempatan itu datang pada Minggu Pon. Perlu diketahui, pasar ini tidak buka setiap hari. Ia hanya hadir mengikuti penanggalan Jawa, yakni pada Minggu Pon dan Minggu Wage. Artinya, dalam satu siklus 35 hari, pasar ini hanya buka dua kali.

Setibanya di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, suasana sudah cukup ramai meski waktu masih menunjukkan pukul 07.47 pagi. Kendaraan pengunjung memadati area parkir, menandakan tingginya minat masyarakat terhadap destinasi ini.

Perjalanan menuju lokasi pasar pun menghadirkan pengalaman tersendiri. Jalan berbatu yang menanjak di sela pemukiman membawa pengunjung menuju sebuah perbukitan kecil. Udara terasa semakin sejuk. Memasuki area pasar, pengunjung disambut oleh rimbunnya papringan rumpun bambu yang menjadi ciri khas tempat ini.

Ekosistem Kebun Bambu yang Terjaga

Di dalam kawasan pasar, pengunjung seakan diajak masuk ke dalam ekosistem kebun bambu yang masih terjaga. Rumpun bambu ditata secara alami, dengan sentuhan estetika yang tetap mempertahankan karakter aslinya. Cahaya matahari menembus sela-sela daun, menciptakan suasana teduh dan nyaman.

Jalan setapak di bawahnya pun dirancang dengan mempertimbangkan keamanan tanpa merusak alam. Bebatuan bulat disusun sebagai pijakan, sehingga tetap menjaga resapan air sekaligus meminimalkan risiko terpeleset. Perpaduan antara estetika, fungsi, dan keberlanjutan terasa begitu harmonis.

Ragam Jajanan Tradisional yang Menggoda

Setelah menikmati suasana, pengalaman berlanjut ke area kuliner. Sebelum bertransaksi, pengunjung perlu menukar uang dengan alat pembayaran khusus berupa potongan bambu yang disebut pring. Setiap pring bernilai Rp2.000, dan menariknya, sisa pring tidak dapat ditukar kembali sebuah pengingat untuk berbelanja secukupnya.

Aneka jajanan tradisional tersaji dengan tampilan yang menggugah selera. Mulai dari onde-onde, klepon, lupis, cenil, hingga hidangan berat seperti soto ayam, nasi gono, dan kupat tahu. Minuman pun tak kalah menarik, seperti dawet hangat dan wedang pring.

Pasar ini terasa seperti “laboratorium” kuliner tradisional. Beragam makanan yang mungkin jarang ditemui kini dihidupkan kembali. Sebagian dipertahankan dalam bentuk aslinya, sebagian lain dikreasikan agar tetap relevan dengan selera masa kini.

Sentuhan Budaya Lokal yang Hidup

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau