Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Siska Fajarrany
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Siska Fajarrany adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup

Kompas.com, 3 April 2026, 18:32 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah kesibukan yang kita jalani setiap hari benar-benar menghasilkan dampak, atau justru hanya membuat kita lelah tanpa arah yang jelas?

Merasa sangat lelah setelah mengikuti rapat organisasi hingga larut malam, tetapi saat pulang justru muncul pertanyaan sederhana: apa yang sebenarnya dihasilkan dari pertemuan tersebut?

Jika yang tersisa hanya notulensi panjang dan rasa kantuk yang berat, bisa jadi organisasi sedang terjebak dalam apa yang sering disebut sebagai “ilusi kesibukan”.

Aktivitas terlihat padat, komunikasi berjalan cepat, dan agenda terus bertambah. Namun, arah dan dampaknya belum tentu sebanding.

Fenomena ini tidak jarang terjadi. Kalender dipenuhi berbagai kegiatan, diskusi berlangsung berulang tanpa keputusan yang jelas, dan laporan disusun dengan rapi. Semua tampak berjalan, tetapi belum tentu bergerak ke tujuan yang tepat.

Dalam situasi seperti ini, organisasi cenderung lebih sibuk menjaga ritme kerja daripada memastikan hasil yang bermakna.

Di tengah budaya kerja yang menghargai kesibukan, kita kerap mengapresiasi mereka yang bekerja paling lama sebagai sosok paling berdedikasi. Padahal, durasi kerja tidak selalu mencerminkan kualitas atau efektivitas.

Bisa jadi, itu justru menandakan adanya sistem kerja yang kurang efisien atau belum terkelola dengan baik.

Efektivitas organisasi sejatinya tidak diukur dari seberapa banyak energi yang dikeluarkan, melainkan dari kemampuan mencapai tujuan secara tepat, sekaligus menjaga keseimbangan kondisi tim di dalamnya.

Perbedaan antara efisiensi dan efektivitas pernah dijelaskan oleh Peter Drucker melalui pernyataan yang cukup dikenal: “Efficiency is doing things right. Effectiveness is doing the right things.”

Efisiensi berkaitan dengan cara—bagaimana sumber daya digunakan sehemat mungkin untuk menghasilkan sesuatu. Sementara efektivitas menyentuh aspek yang lebih mendasar, yaitu tujuan, apakah hal yang dilakukan memang relevan dan dibutuhkan.

Sebuah organisasi bisa saja sangat efisien dalam menjalankan program atau kegiatan. Semua berjalan cepat, hemat biaya, dan tertata rapi. Namun jika program tersebut tidak menjawab kebutuhan atau tidak memberi dampak berarti, maka organisasi tersebut belum bisa dikatakan efektif.

Hal ini sering terlihat dalam berbagai aktivitas organisasi. Misalnya, tim media sosial yang berhasil memproduksi banyak konten dalam waktu singkat.

Secara kuantitas, target tercapai. Namun jika konten tersebut tidak membangun keterlibatan atau tidak memberi pengaruh nyata bagi audiens, maka hasil tersebut belum sepenuhnya bermakna.

Efektivitas menuntut pergeseran cara pandang: dari sekadar menghitung aktivitas menjadi mengukur dampak. Bukan hanya berapa banyak yang dilakukan, tetapi sejauh mana hasil tersebut membawa perubahan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau