
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana kita menyeimbangkan manfaat ruang publik seperti car free day dengan kebutuhan mobilitas dan aktivitas warga yang tetap harus berjalan setiap hari?
Setelah sempat berhenti selama Ramadan dan libur Lebaran, kegiatan car free day (CFD) di sepanjang Jalan Tegar Beriman kembali digelar pada Minggu, 5 April 2026.
Sejak pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, ruas jalan dari kawasan McDonald's Cibinong hingga Cibinong City Mall ditutup untuk kendaraan bermotor.
Meski terbilang masih relatif baru, CFD Cibinong dinilai memiliki konsep yang cukup tertata. Dua lajur utama difokuskan sepenuhnya untuk aktivitas olahraga, seperti berjalan santai, berlari, bersepeda, hingga sepatu roda.
Beberapa titik juga diisi dengan pertunjukan seni dan olahraga, yang menambah semarak suasana pagi.
Sementara itu, aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ditempatkan secara terpusat di satu sisi, tepatnya di kawasan sekitar kantor bupati dan lapangan Tegar Beriman. Pengaturan ini memberi ruang yang lebih nyaman bagi warga untuk berolahraga tanpa terganggu aktivitas jual beli di jalur utama.
Meski demikian, bagi sebagian pengunjung, kegiatan olahraga dan wisata kuliner sering berjalan beriringan. Hal ini justru menjadi bagian dari daya tarik CFD itu sendiri.
Bagi pelaku UMKM, kegiatan ini membawa manfaat nyata. Antusiasme pengunjung yang datang setiap pekan membuka peluang pemasaran yang lebih luas, terutama bagi produk kuliner dan usaha lokal yang sebelumnya belum banyak dikenal.
Salah seorang penjual bahkan mengungkapkan rasa syukurnya karena dagangannya laris sejak pagi. Fenomena ini menunjukkan bahwa CFD tidak hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga ruang ekonomi yang cukup hidup.
Selain aktivitas olahraga dan perdagangan, CFD Cibinong juga menghadirkan berbagai layanan publik. Mulai dari pemeriksaan kesehatan gratis, layanan administrasi kependudukan, hingga layanan perizinan melalui Mal Pelayanan Publik.
Di sisi lain, terdapat pula program edukasi yang menarik, seperti pengelolaan sampah oleh dinas terkait.
Warga dapat belajar memilah sampah, mengolah limbah organik, hingga menukar botol plastik dengan suvenir atau produk tertentu. Pendekatan ini dinilai efektif karena menyentuh masyarakat secara langsung melalui praktik, bukan sekadar imbauan.
Wajah Ganda CFD Cibinong
Namun demikian, di balik berbagai manfaat tersebut, CFD Cibinong juga menyisakan sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Penutupan Jalan Tegar Beriman berdampak pada pengalihan arus lalu lintas ke ruas-ruas alternatif yang terbatas. Akibatnya, kemacetan kerap terjadi di sejumlah titik, terutama dari kawasan sekitar McD hingga arah Jalan Raya Cikaret.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan yang cukup panjang, didominasi sepeda motor dan mobil pribadi yang bergerak perlahan.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pengguna jalan umum, tetapi juga pada pekerja sektor informal, seperti pengemudi ojek daring yang harus berpacu dengan waktu.
Situasi ini menggambarkan bahwa ketika satu aktivitas membuka peluang ekonomi bagi sebagian pihak, di sisi lain ada aktivitas lain yang ikut terdampak.
Di ruang digital, solusi yang kerap disampaikan masih berupa imbauan untuk mencari jalur alternatif atau menyesuaikan waktu perjalanan. Namun dalam praktiknya, pilihan jalur di sekitar lokasi CFD relatif terbatas, sehingga kemacetan sulit dihindari.
Kondisi ini menjadi semakin krusial mengingat jalur tersebut juga merupakan akses menuju fasilitas penting, seperti rumah sakit daerah.
Selain persoalan lalu lintas, isu lain yang muncul adalah keterbatasan kantong parkir. Idealnya, tersedia area parkir yang memadai di beberapa titik strategis. Namun, di lapangan, informasi mengenai lokasi parkir resmi masih minim.
Akibatnya, banyak pengunjung memanfaatkan area sekitar toko atau rumah makan untuk menitipkan kendaraan, meskipun kapasitasnya terbatas. Sebagian lainnya mencoba parkir di area perkantoran, dengan syarat datang lebih awal sebelum CFD dimulai.
Situasi ini bahkan memunculkan pengalaman tersendiri bagi sebagian pengunjung yang harus menunggu hingga CFD selesai untuk bisa keluar dari area tersebut.
Pada akhirnya, CFD sebagai ruang publik memiliki peran penting dalam menyediakan udara segar, ruang interaksi, dan peluang ekonomi bagi masyarakat. Namun, pelaksanaannya tetap perlu dievaluasi secara berkala agar manfaat yang dihadirkan tidak beriringan dengan gangguan yang dirasakan oleh pihak lain.
Keseimbangan antara kebutuhan rekreasi, ekonomi, dan mobilitas menjadi kunci agar kegiatan seperti CFD dapat diterima secara luas dan berkelanjutan.
Dengan pengelolaan yang lebih adaptif—mulai dari pengaturan lalu lintas, penyediaan parkir, hingga komunikasi informasi, CFD Cibinong diharapkan dapat terus berkembang sebagai ruang publik yang inklusif dan nyaman bagi semua pihak.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Wajah Ganda CFD Cibinong: Antara Manfaat dan Gangguan Aksesibilitas Warga"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang