
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
"Nakam apa? Oges lecep ya?"
"Oyi wes, sebenarnya kepingin oskab."
"Oskab apa lecep?"
"Lecep ae wes, oskab kapan-kapan ae."
Bagi masyarakat Malang, percakapan singkat tersebut mungkin tidak terdengar asing. Namun, bagi orang yang baru pertama kali mendengarnya, kalimat-kalimat itu bisa terasa seperti bahasa yang sama sekali berbeda.
Padahal, maknanya cukup sederhana.
"Makan apa? Nasi pecel ya?"
"Iya, sebenarnya ingin bakso."
"Bakso atau pecel?"
"Pecel saja, bakso lain kali."
Percakapan itu menggunakan osob kiwalan atau yang lebih dikenal sebagai boso walikan, salah satu kekhasan budaya masyarakat Malang. Bukan sekadar permainan kata, bahasa ini telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat sekaligus simbol kedekatan antarsesama warga Malang.
Jejak Sejarah Osob Kiwalan
Secara sederhana, osob kiwalan dikenal sebagai bahasa yang "dibalik". Namun, proses membalik kata tidak dilakukan secara sembarangan. Ada pola dan kaidah tertentu agar kata yang dihasilkan tetap mudah diucapkan dan dipahami oleh para penuturnya.
Di balik keunikannya, osob kiwalan menyimpan kisah sejarah yang menarik.
Dalam buku Malang Tempo Doeloe, Dukut Imam Widodo menjelaskan bahwa penggunaan bahasa walikan telah dikenal sejak masa Agresi Militer Belanda II pada 1949.
Saat itu, wilayah Malang menjadi salah satu medan penting dalam operasi militer Belanda yang dikenal sebagai Operasi Kraai. Di tengah situasi perang, muncul kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) di bawah komando Mayor Hamid Rusdi, salah satu tokoh perjuangan yang namanya kini diabadikan melalui patung di kawasan Simpang Balapan, dekat Ijen Boulevard.
GRK dikenal sebagai pasukan yang tangguh sekaligus sulit ditebak lawan. Salah satu faktor yang memperkuat soliditas mereka adalah penggunaan bahasa walikan sebagai sarana komunikasi internal.
Menurut berbagai catatan, bahasa ini dikembangkan oleh dua anggota GRK, yaitu Suyudi Raharno dan Wasito.
Latar belakangnya cukup sederhana tetapi penting. Pada akhir Maret 1949, beberapa strategi gerilya diduga bocor sehingga operasi yang dirancang kerap mengalami kegagalan. Dari situ muncul gagasan untuk menciptakan sistem komunikasi yang tidak mudah dipahami pihak luar.
Osob kiwalan kemudian berkembang sebagai kode sandi di antara para pejuang. Dengan cara itu, informasi mengenai strategi maupun pergerakan pasukan dapat disampaikan tanpa mudah dimengerti oleh pihak lawan.
Seiring berjalannya waktu, bahasa yang semula lahir dari kebutuhan perang itu tidak lagi hanya menjadi alat komunikasi rahasia. Ia kemudian hidup di tengah masyarakat dan berkembang menjadi salah satu identitas budaya khas Kota Malang.