Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yuli Anita
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yuli Anita adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

"Osob Kiwalan", Bahasa Identitas Orang Malang

Kompas.com, 28 Juni 2026, 19:08 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

"Nakam apa? Oges lecep ya?"
"Oyi wes, sebenarnya kepingin oskab."
"Oskab apa lecep?"
"Lecep ae wes, oskab kapan-kapan ae."

Bagi masyarakat Malang, percakapan singkat tersebut mungkin tidak terdengar asing. Namun, bagi orang yang baru pertama kali mendengarnya, kalimat-kalimat itu bisa terasa seperti bahasa yang sama sekali berbeda.

Padahal, maknanya cukup sederhana.

"Makan apa? Nasi pecel ya?"
"Iya, sebenarnya ingin bakso."
"Bakso atau pecel?"
"Pecel saja, bakso lain kali."

Percakapan itu menggunakan osob kiwalan atau yang lebih dikenal sebagai boso walikan, salah satu kekhasan budaya masyarakat Malang. Bukan sekadar permainan kata, bahasa ini telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat sekaligus simbol kedekatan antarsesama warga Malang.

Jejak Sejarah Osob Kiwalan

Secara sederhana, osob kiwalan dikenal sebagai bahasa yang "dibalik". Namun, proses membalik kata tidak dilakukan secara sembarangan. Ada pola dan kaidah tertentu agar kata yang dihasilkan tetap mudah diucapkan dan dipahami oleh para penuturnya.

Di balik keunikannya, osob kiwalan menyimpan kisah sejarah yang menarik.

Dalam buku Malang Tempo Doeloe, Dukut Imam Widodo menjelaskan bahwa penggunaan bahasa walikan telah dikenal sejak masa Agresi Militer Belanda II pada 1949.

Saat itu, wilayah Malang menjadi salah satu medan penting dalam operasi militer Belanda yang dikenal sebagai Operasi Kraai. Di tengah situasi perang, muncul kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) di bawah komando Mayor Hamid Rusdi, salah satu tokoh perjuangan yang namanya kini diabadikan melalui patung di kawasan Simpang Balapan, dekat Ijen Boulevard.

GRK dikenal sebagai pasukan yang tangguh sekaligus sulit ditebak lawan. Salah satu faktor yang memperkuat soliditas mereka adalah penggunaan bahasa walikan sebagai sarana komunikasi internal.

Menurut berbagai catatan, bahasa ini dikembangkan oleh dua anggota GRK, yaitu Suyudi Raharno dan Wasito.

Latar belakangnya cukup sederhana tetapi penting. Pada akhir Maret 1949, beberapa strategi gerilya diduga bocor sehingga operasi yang dirancang kerap mengalami kegagalan. Dari situ muncul gagasan untuk menciptakan sistem komunikasi yang tidak mudah dipahami pihak luar.

Osob kiwalan kemudian berkembang sebagai kode sandi di antara para pejuang. Dengan cara itu, informasi mengenai strategi maupun pergerakan pasukan dapat disampaikan tanpa mudah dimengerti oleh pihak lawan.

Seiring berjalannya waktu, bahasa yang semula lahir dari kebutuhan perang itu tidak lagi hanya menjadi alat komunikasi rahasia. Ia kemudian hidup di tengah masyarakat dan berkembang menjadi salah satu identitas budaya khas Kota Malang.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Kata Netizen
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
Kata Netizen
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Kata Netizen
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Kata Netizen
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Kata Netizen
Kok 'Gaji Sesuai UMR' Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kok "Gaji Sesuai UMR" Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kata Netizen
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Kata Netizen
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Kata Netizen
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Kata Netizen
'Osob Kiwalan', Bahasa Identitas Orang Malang
"Osob Kiwalan", Bahasa Identitas Orang Malang
Kata Netizen
Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?
Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?
Kata Netizen
Mengapa Lingkaran Pertemanan Makin Kecil Saat Dewasa?
Mengapa Lingkaran Pertemanan Makin Kecil Saat Dewasa?
Kata Netizen
Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau
Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau