
Bahasa yang Merekatkan Sesama Orang Malang
Beberapa waktu lalu saya mengikuti kegiatan bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Umum Kota Malang. Salah satu narasumbernya adalah Dukut Imam Widodo.
Dalam kesempatan tersebut, beliau membagikan sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana osob kiwalan dapat menjadi perekat hubungan antarsesama orang Malang, bahkan ketika mereka berada jauh dari kampung halaman.
Suatu ketika, dua orang asal Malang sedang berkunjung ke sebuah kota di Arab Saudi. Karena lapar, mereka masuk ke sebuah rumah makan yang menjual ayam bakar.
Namun, salah seorang di antara mereka mengajak rekannya keluar sambil berkata,
"Ojok nakam ndik kene, kitip e licek-licek." Artinya, "Jangan makan di sini, ayamnya kecil-kecil."
Belum sempat mereka pergi jauh, tiba-tiba terdengar seseorang menyahut,
"Gak niam sampeyan iki, Sam. Kitip hedeg-hedeg kok jarene licek-licek." Kurang lebih artinya, "Wah, bagaimana ini Mas, ayamnya besar-besar kok dibilang kecil."
Mendengar bahasa tersebut, keduanya langsung menghentikan langkah dan mencari sumber suara.
Tak lama kemudian mereka berkenalan. Dari percakapan yang mengalir, diketahui bahwa orang tersebut berasal dari kawasan Kauman, Malang, dan telah lama tinggal di Arab Saudi mengikuti keluarganya.
Kisah sederhana itu memperlihatkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi. Dalam situasi tertentu, bahasa juga mampu menjadi penanda identitas sekaligus menghadirkan rasa akrab di antara orang-orang yang berasal dari daerah yang sama.
Cara Membentuk Kata dalam Osob Kiwalan
Meski dikenal sebagai bahasa yang dibalik, pembentukan kata dalam osob kiwalan tidak selalu dilakukan dengan membalik huruf satu per satu.
Ada beberapa pola yang lazim digunakan. Pertama, pembalikan huruf secara langsung. Contohnya:
arek menjadi kera
boso menjadi osob
bayar menjadi rayab