
Kedua, pembalikan yang disesuaikan agar tetap nyaman diucapkan atau dalam istilah Jawa disebut enak dirungokno. Contohnya:
Malang menjadi Ngalam
mlebu menjadi ublem
Iyo Mas, aku melok menjadi Oyi Sam, ayas kolem
Pada pola ini, susunan huruf tidak selalu dibalik secara kaku. Penyesuaian dilakukan agar pelafalannya tetap alami.
Ketiga, pembalikan berdasarkan suku kata, terutama pada kata-kata tertentu yang memiliki susunan konsonan cukup rumit. Misalnya: sembarang menjadi ngarambes
Keempat, tidak semua kata dalam kalimat harus dibalik. Contohnya: "Awakmu wis budal" menjadi "Awakmu wis ladub."
Dalam praktik sehari-hari, beberapa imbuhan tetap dipertahankan agar makna kalimat lebih mudah dipahami oleh lawan bicara.
Keempat pola tersebut menunjukkan bahwa osob kiwalan bukan sekadar permainan kata, melainkan memiliki aturan yang berkembang secara alami di tengah masyarakat.
Menjaga Warisan Bahasa di Tengah Perubahan
Sebagai bagian dari budaya lisan, keberlangsungan osob kiwalan sangat bergantung pada para penuturnya.
Di tengah perkembangan teknologi, mobilitas masyarakat, dan semakin beragamnya latar belakang penduduk Kota Malang, penggunaan bahasa walikan memang tidak lagi seintensif beberapa dekade lalu.
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan TIMES Indonesia pada 2025 terhadap responden berusia 17–27 tahun menunjukkan bahwa banyak anak muda menganggap osob kiwalan sebagai bahasa yang unik dan menarik.
Namun, tidak sedikit pula yang mengaku kesulitan memahami maupun menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Bahasa Indonesia kini lebih dominan digunakan dalam ruang publik, media sosial, maupun lingkungan pendidikan.
Selain itu, bertambahnya jumlah pendatang juga membuat komunikasi sehari-hari semakin mengandalkan bahasa yang lebih umum dipahami.
Padahal, berkurangnya jumlah penutur merupakan salah satu tantangan yang dihadapi banyak bahasa daerah di berbagai wilayah Indonesia.