Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di tengah berbagai perdebatan mengenai tingkat literasi masyarakat Indonesia, ada satu fakta yang menarik untuk dicermati. Indonesia justru termasuk negara dengan produktivitas penerbitan buku yang sangat tinggi.
Berdasarkan World Population Review (2025), Indonesia menempati posisi kelima dunia dengan sekitar 135.081 judul buku diterbitkan setiap tahun.
Data tersebut tampak kontras jika dibandingkan dengan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-19 dari 24 negara Asia dengan skor membaca sebesar 359 (OECD, 2023).
Sekilas, kedua fakta tersebut menghadirkan paradoks. Bagaimana mungkin sebuah negara mampu memproduksi begitu banyak buku, sementara kemampuan membaca masyarakatnya masih menjadi tantangan?
Di sisi lain, tidak sedikit kalangan yang mengingatkan bahwa hasil PISA tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran budaya literasi suatu bangsa. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir justru muncul berbagai gejala yang menunjukkan gairah literasi baru, terutama di kalangan Generasi Z. Kehadiran komunitas literasi, fenomena BookTok dan Bookstagram, hingga berkembangnya toko buku alternatif seperti Bukuakik, Gramedia Makarya, Gramedia Jalma, maupun Akal Buku menjadi penanda bahwa minat terhadap buku masih terus tumbuh dalam bentuk yang berbeda.
Sinaga (2025), misalnya, dalam artikelnya di Kompas menggambarkan bagaimana Generasi Z kembali akrab dengan buku cetak. Pada ajang Book and Literature Festival 2025, ia menjumpai anak-anak muda yang datang sambil membawa buku favorit mereka.
Fenomena tersebut juga tercermin dari penjualan sejumlah buku populer. Salah satunya adalah Filosofi Teras karya Henry Manampiring yang telah mencapai cetakan ke-100 sejak pertama kali diterbitkan pada 2018. Buku bertema kesehatan mental tersebut banyak dibaca oleh kalangan Milenial dan Generasi Z.
Meski demikian, pandangan skeptis terhadap budaya membaca masyarakat Indonesia masih sering muncul. Beragam penelitian mencoba menjelaskan rendahnya skor literasi Indonesia dari berbagai perspektif.
Padahal, jika ditelusuri melalui sejarah, bangsa ini memiliki tradisi literasi yang panjang. Literasi menjadi salah satu fondasi lahirnya tokoh-tokoh pergerakan nasional. Melalui tulisan, surat kabar, dan buku, gagasan tentang kemerdekaan, diplomasi, hingga perlawanan terhadap kolonialisme berkembang dan menyebar ke berbagai lapisan masyarakat.
Sejak masa kolonial, industri media telah melahirkan para pelaku usaha literasi dari kalangan pribumi, berdampingan dengan penerbit Belanda maupun Tionghoa peranakan.
Tradisi menerbitkan buku dan surat kabar di Indonesia bukanlah sesuatu yang lahir setelah kemerdekaan, melainkan telah berkembang jauh sebelumnya sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat pembaca sekaligus masyarakat penulis.
Produktivitas penerbitan buku Indonesia saat ini dapat dipahami sebagai kelanjutan dari akar sejarah tersebut, ditambah besarnya jumlah penduduk serta perkembangan teknologi digital sejak awal tahun 2000-an. Kondisi ini membuka peluang yang luas bagi lahirnya wirausahawan literasi, termasuk dari kalangan lulusan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo).
Dari Pertanyaan Karier Menuju Dunia Industri Kreatif
Seperti banyak mahasiswa Sasindo lainnya, dahulu saya juga pernah bertanya-tanya mengenai prospek profesi setelah lulus.
Apakah saya akan menjadi sastrawan? Penulis? Penyunting? Jurnalis? Atau justru menjadi guru Bahasa Indonesia?
Perjalanan karier kemudian memperlihatkan bahwa jawabannya tidak harus salah satu.
Saya menjalani berbagai peran sekaligus sebagai penulis, penyunting, jurnalis, dan pernah menjadi guru Bahasa Indonesia di sebuah sekolah swasta di Bandung. Di bidang pendidikan tinggi, saya juga pernah menjadi dosen luar biasa pada tiga perguruan tinggi negeri vokasi dengan mata kuliah yang berhubungan dengan dunia penerbitan.
Ketertarikan terhadap sastra anak yang telah saya tekuni sejak 1995 pun berkembang menjadi profesi yang lebih luas. Selain menulis dan menyunting buku anak, saya juga menjadi penyusun regulasi, kurator buku anak, hingga mendirikan usaha book packager.
Tanpa disadari, seluruh perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi Sasindo dapat berkembang menjadi bentuk kewirausahaan berbasis literasi.
Saya meyakini pengalaman tersebut tidak lepas dari fondasi pendidikan vokasi D-3 Editing yang saya tempuh sebelum melanjutkan ke Program Ekstensi S-1 Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran. Pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan industri memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai peluang karier di dunia penerbitan.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa Prodi Sasindo memiliki peluang besar untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja di sektor literasi.
Wirausaha Literasi sebagai Bidang Kajian
Gagasan mengenai kewirausahaan literasi mulai memperoleh ruang akademik yang lebih jelas. Salah satunya terlihat pada Program Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) yang menawarkan empat bidang kajian, yakni:
Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Bahasa Indonesia;
Kehadiran bidang kajian terakhir merupakan langkah menarik karena memperluas orientasi pendidikan bahasa dan sastra, tidak hanya pada pengajaran, tetapi juga pada pengembangan industri kreatif berbasis literasi.
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, praktik kewirausahaan literasi sebenarnya telah hadir sejak berabad-abad lalu.
Di Eropa, Johannes Gutenberg membuka jalan melalui pengembangan mesin cetak pada abad ke-15. Tidak lama kemudian, Aldus Manutius mendirikan Aldine Press di Italia yang memadukan teknologi percetakan, penerbitan, dan standardisasi mutu buku. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan buku berukuran saku serta penggunaan huruf italik.
Warisan Manutius bahkan masih dikenang melalui perangkat lunak Aldus PageMaker, yang kemudian berkembang menjadi Adobe InDesign.
Di Nusantara, sejarah kewirausahaan literasi berkembang melalui usaha percetakan dan penerbitan yang dikelola pemerintah Hindia Belanda, swasta Belanda, Tionghoa peranakan, hingga penerbit bumiputra.
Dalam sejarah pers nasional, nama Tirto Adhi Soerjo menempati posisi penting sebagai pelopor pers vernakular yang dikelola sepenuhnya oleh pribumi. Di bidang penerbitan buku, tokoh seperti Sutan Takdir Alisjahbana melalui Dian Rakyat serta Ajip Rosidi melalui Pustaka Jaya memperlihatkan bahwa sastrawan pun dapat menjadi pelaku industri penerbitan.
Dengan demikian, kewirausahaan literasi bukanlah gagasan baru. Yang berubah adalah bentuk dan ekosistemnya.
Memaknai Kewirausahaan Literasi
Ulya (2023) mendefinisikan kewirausahaan literasi sebagai cabang kewirausahaan yang mengembangkan produk dan layanan berbasis bahasa serta sastra untuk memperkuat budaya literasi masyarakat.
Sementara itu, Suwandi (2019) melihatnya sebagai kegiatan kewirausahaan yang meliputi penerbitan buku, pembuatan konten pendidikan, pengembangan platform digital, hingga berbagai layanan yang berkaitan dengan bahasa dan sastra.
Dalam konteks saat ini, kewirausahaan literasi dapat dipahami sebagai proses menciptakan nilai ekonomi sekaligus nilai sosial melalui pemanfaatan kompetensi literasi untuk menghasilkan produk, jasa, maupun platform digital yang berdampak bagi masyarakat.
Berdasarkan perkembangan industri kreatif, sedikitnya terdapat enam bidang utama kewirausahaan literasi yang dapat dikembangkan oleh lulusan Sasindo, yaitu:
Khusus pada era digital, ruang kewirausahaan semakin luas. Kehadiran platform seperti Wattpad, Storial, blog pribadi, hingga platform jurnalisme warga seperti Kompasiana dan Indonesiana menunjukkan bahwa literasi kini tidak lagi terbatas pada penerbitan konvensional.
Ekosistem digital membuka peluang baru bagi penulis, editor, penerjemah, maupun pelaku industri kreatif untuk membangun bisnis berbasis pengetahuan.
Dalam praktiknya, wirausahawan literasi dapat hadir sebagai karyawan profesional (employee), pekerja lepas (self-employed), maupun pemilik usaha (business owner). Ketiganya memiliki peluang berkembang sesuai kompetensi dan pilihan karier masing-masing.
Relevansi Kurikulum Sasindo
Peluang tersebut tentu memerlukan dukungan kurikulum yang relevan. Kompetensi lulusan Sasindo idealnya dibangun di atas lima pilar utama, yaitu:
Mata kuliah kepenulisan, penyuntingan, dan penerjemahan sudah cukup banyak diajarkan di berbagai perguruan tinggi.
Namun, mata kuliah kewirausahaan sebaiknya tidak lagi hanya membahas teori bisnis secara umum, melainkan diarahkan secara spesifik pada manajemen industri kreatif berbasis literasi.
Kehadiran dosen praktisi yang memiliki pengalaman membangun usaha di bidang literasi juga menjadi penting agar mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai dunia industri.
Selain itu, mata kuliah Industri Literasi Digital layak dipertimbangkan sebagai bagian dari kurikulum. Mata kuliah ini dapat membahas perkembangan penerbitan digital, platform berbasis literasi, monetisasi konten, pemanfaatan media sosial, hingga penggunaan kecerdasan artifisial (AI) sebagai alat akselerasi dalam industri kreatif.
Pada akhirnya, kewirausahaan literasi tidak cukup berhenti sebagai slogan yang menjanjikan peluang kerja baru bagi lulusan Sasindo. Gagasan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam kurikulum, kompetensi, dan pengalaman belajar yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri dan dunia kerja.
Dengan bekal tersebut, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia tidak hanya akan melahirkan guru, penulis, atau penyunting, tetapi juga generasi baru wirausahawan literasi yang mampu menciptakan inovasi, membuka lapangan kerja, sekaligus memperkuat ekosistem literasi Indonesia di masa depan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ikhtiar Melahirkan Wirausahawan Literasi dari Lulusan Sasindo"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya