
Bagaimana sebuah aliran sungai yang kini berada di tengah padatnya Kota Surakarta dapat membantu kita memahami sejarah perdagangan, perkembangan kota, hingga hubungan masyarakat Solo dengan lingkungannya?
Di tengah riuhnya aktivitas Kota Surakarta, Kali Pepe kerap kali hanya terlihat sebagai aliran air yang berada di antara deretan bangunan, jalan raya, pasar, dan permukiman warga. Padahal, jika dilihat lebih jauh, sungai ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan berkaitan erat dengan tumbuhnya Kota Solo.
Sebagai salah satu anak sungai penting dari Bengawan Solo, Kali Pepe membelah sejumlah kawasan strategis kota dengan rekam jejak yang melampaui perubahan zaman.
Pada masa lalu, alirannya bukan sekadar bagian dari bentang alam, melainkan juga menjadi jalur transportasi air dan perdagangan yang menghubungkan berbagai komunitas. Kehidupan di sekitarnya berkembang beriringan dengan kawasan perdagangan seperti Pasar Gede dan Pecinan.
Namun, perkembangan kota juga membawa tantangan tersendiri. Kali Pepe menghadapi berbagai persoalan, mulai dari banjir yang berulang, penyempitan badan sungai, sedimentasi, hingga tekanan urbanisasi dan pencemaran lingkungan.
Untuk mengatasinya, pemerintah kemudian melakukan berbagai intervensi, mulai dari normalisasi, pembangunan bendung dan pintu air, hingga penataan sebagian koridor sungai sebagai ruang publik dan kawasan wisata air.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa sejarah Kali Pepe tidak hanya berbicara tentang sungai, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan ruang hidupnya.
Sungai ini merekam bagaimana sebuah kota tumbuh bersama air, kemudian menghadapi berbagai persoalan ketika perkembangan kota semakin pesat, hingga muncul kembali upaya untuk menjadikan sungai sebagai bagian dari kehidupan perkotaan.
Jejak sejarah Kali Pepe tidak dapat dilepaskan dari kondisi geografis Surakarta yang berada dalam bentang kawasan aliran Bengawan Solo. Kota ini berada di dataran rendah dan memiliki sejumlah aliran air, antara lain Bengawan Solo, Kali Pepe, Kali Anyar, Kali Gajah Putih, Kali Premulung, hingga Kali Jenes.
Kondisi tersebut membuat air menjadi salah satu unsur penting dalam pembentukan sekaligus perkembangan Kota Surakarta, termasuk dalam menghadapi berbagai persoalan perkotaan.
Berbagai kajian mengenai pusat Kota Surakarta menunjukkan bahwa Kali Pepe telah memiliki hubungan dengan aktivitas kebudayaan dan perdagangan sejak sekitar abad ke-16. Letaknya yang strategis membuat aliran sungai tersebut terhubung dengan sejumlah pusat aktivitas ekonomi.
Sejumlah penelitian juga menempatkan kawasan Kali Pepe sebagai salah satu bagian penting dalam melihat perkembangan peradaban dan perdagangan di Surakarta sejak masa awal pembentukan kota.
Pada masa ketika jaringan transportasi darat belum berkembang seperti sekarang, sungai memiliki peran yang sangat penting. Aliran air bukan hanya menjadi tempat mengalirnya air, tetapi juga menjadi bagian dari sistem mobilitas manusia dan distribusi barang.
Peran tersebut terlihat pada jalur Kali Pepe yang menghubungkan kawasan perdagangan di sekitar Pasar Gede dengan jaringan sungai yang lebih luas.
Sejumlah catatan sejarah menunjukkan keterkaitan antara Kali Pepe, kawasan Pasar Gede, Bandar Ketandan, Semanggi, hingga jaringan utama Bengawan Solo. Melalui jalur air yang saling terhubung, berbagai komoditas dari luar kawasan dapat masuk menuju pusat perniagaan kota.
Dinamika tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kawasan di sekitar Kali Pepe bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Aliran sungai membuka akses, akses mendukung kegiatan perdagangan, dan kegiatan perdagangan kemudian ikut membentuk tata ruang serta wajah Kota Surakarta.
Ada pula satu babak penting dalam sejarah Kali Pepe yang berkaitan dengan perpindahan pusat pemerintahan Kasunanan dari Kartasura menuju Surakarta pada abad ke-18.
Pada 1745, pusat pemerintahan Kasunanan dipindahkan ke Desa Sala. Pemilihan lokasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejumlah pertimbangan geografis, termasuk keberadaan jaringan sungai.
Dalam sejumlah kajian sejarah perkotaan, pertemuan Kali Pepe dengan Bengawan Solo menjadi salah satu unsur yang penting dalam pembentukan kawasan kota baru. Dalam konteks tersebut, sungai bukan sekadar bagian dari lanskap geografis, tetapi juga berkaitan dengan mobilitas, perdagangan, serta akses menuju kawasan yang kemudian berkembang sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi.
Kali Pepe juga berada di antara ruang-ruang sosial dengan karakter yang beragam. Di sekitar kawasan sungai berkembang permukiman dan aktivitas perdagangan masyarakat Tionghoa, terutama di sekitar Pecinan dan Pasar Gede.
Sementara itu, perkembangan pusat pemerintahan, kawasan keraton, dan infrastruktur kolonial ikut membentuk ruang kota di sisi lainnya.
Penelitian mengenai placemaking di kawasan Kali Pepe menunjukkan bahwa konfigurasi tersebut ikut membentuk karakter sosial dan ekonomi kawasan pusat Surakarta.
Dalam konteks tertentu, Kali Pepe menjadi ruang yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat. Masyarakat Jawa, Tionghoa, Eropa, pedagang, abdi kerajaan, dan masyarakat perkotaan hidup dalam ruang kota yang saling terhubung melalui jaringan perdagangan dan mobilitas.
Memasuki era kolonial, wajah Kali Pepe mulai mengalami perubahan. Pertumbuhan kota yang semakin pesat membuat badan sungai menghadapi tekanan dari perkembangan permukiman dan infrastruktur.
Di sisi lain, kondisi geografis Surakarta yang relatif datar membuat kawasan ini memiliki kerentanan terhadap genangan dan banjir.
Catatan sejarah perkotaan menunjukkan bahwa banjir pernah menjadi persoalan serius bagi Surakarta. Luapan Kali Pepe pada awal abad ke-20 merendam sejumlah wilayah perkotaan. Banjir tercatat melanda berbagai kampung pada 1902, kemudian kembali terjadi pada 1903 dan 1906.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah kolonial membangun berbagai infrastruktur pengendali air. Salah satunya adalah pembangunan bendungan Kali Pepe Bengawan Solo yang rampung sekitar 1910.
Peristiwa-peristiwa tersebut turut mengubah cara kota memandang sungai.
Jika sebelumnya sungai banyak dimanfaatkan sebagai jalur mobilitas dan perdagangan, pada awal abad ke-20 perhatian semakin tertuju pada bagaimana aliran air dapat dikendalikan agar tidak menimbulkan bencana.