
Ketika pamer kekayaan mulai dianggap tidak nyaman, apakah memilih tampil sederhana benar-benar lahir dari kerendahan hati, atau justru menjadi cara baru orang kaya mengelola citra, menjaga jarak sosial, dan menyembunyikan kemampuan finansialnya?
Linimasa media sosial belakangan ini memperlihatkan perubahan tren yang cukup menarik. Era flexing ala crazy rich, ketika kekayaan ditampilkan melalui saldo rekening, mobil mewah, atau perjalanan dengan jet pribadi, perlahan mulai berdampingan dengan gaya yang berbeda: stealth wealth atau anti-flexing.
Kini, sebagian orang yang hidup mapan justru memilih tampil sesederhana mungkin. Kekayaan tidak selalu diperlihatkan secara terang-terangan. Bahkan, semakin tidak terlihat, semakin dianggap menarik.
Fenomena ghost rich pun mulai ramai dibicarakan. Mereka mungkin tetap menikmati kopi di specialty coffee shop, mengenakan pakaian berbahan premium tanpa logo mencolok, atau berlibur ke berbagai tempat tanpa merasa perlu membagikannya secara terbuka di Instagram.
Di Indonesia, wacana semacam ini terasa semakin dekat setelah muncul berbagai teguran publik terhadap gaya hidup mewah, mulai dari wacana RUU Anti-Flexing di DPR hingga kasus viral di Gayo Lues pada Juli 2026, ketika gaya hidup mewah menjadi salah satu sorotan yang berujung pada mundurnya seorang pejabat daerah.
Di tengah situasi tersebut, publik, termasuk sebagian masyarakat kelas menengah, dapat melihat gaya hidup low profile sebagai bentuk kerendahan hati yang patut diapresiasi.
Namun, apakah hidup sederhana dan menyembunyikan kekayaan selalu berarti rendah hati?
Atau, jangan-jangan, kita sedang melihat bentuk baru dari pengelolaan citra yang tidak kalah rumit dengan kebiasaan memamerkan harta?
Lelahnya Pura-Pura Miskin: Antara Low Profile dan Ilusi Semata
Jika konsep kerendahan hati dilihat dari perspektif psikologi, anggapan bahwa stealth wealth selalu merupakan bentuk tertinggi dari sikap humble ternyata tidak sesederhana itu.
Merujuk pada riset psikolog klinis Tangney (2000) dan Worthington dkk. (2016), kerendahan hati sejati berkaitan dengan kemampuan melihat diri secara akurat. Seseorang tidak perlu membesar-besarkan dirinya, tetapi juga tidak perlu merendahkan dirinya sendiri.
Dalam konteks tersebut, menyembunyikan kekayaan yang sebenarnya dimiliki semata-mata agar terlihat "merakyat" dapat bersinggungan dengan apa yang disebut sebagai false humility atau kerendahan hati palsu.
Psikolog Aqualus Gordon dalam Psychology Today bahkan menyebut bahwa penyangkalan terhadap kekuasaan, termasuk kekayaan, dengan cara terus-menerus menampilkan diri sebagai orang biasa dapat menjadi bentuk lain dari ekspresi kekuasaan itu sendiri.
Kekayaan tersebut tetap digunakan untuk menikmati barang-barang berkualitas atau mahal, hanya saja bentuk konsumsinya dibuat lebih sulit dikenali.
Dalam kajian mengenai inconspicuous consumption (Wu et al., 2017), konsumsi semacam ini justru dapat menjadi cara untuk membedakan diri tanpa harus menampilkan simbol kemewahan secara terang-terangan.
Dengan kata lain, kemewahan tidak selalu harus terlihat mencolok.
Ada kemewahan yang sengaja dipamerkan agar semua orang mengetahuinya. Namun, ada pula kemewahan yang hanya dikenali oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan atau lingkungan sosial yang sama.
Di titik ini, stealth wealth menjadi menarik. Sebab, tampil sederhana belum tentu berarti seseorang ingin menyangkal bahwa dirinya kaya. Bisa saja ia hanya memilih cara berbeda dalam menikmati apa yang dimilikinya.
Persoalannya muncul ketika upaya mengelola citra tersebut membuat seseorang harus terus-menerus memainkan peran yang tidak sesuai dengan kenyataan.