Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagus Sudewo
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?

Kompas.com, 16 September 2026, 17:57 WIB

Ketika pamer kekayaan mulai dianggap tidak nyaman, apakah memilih tampil sederhana benar-benar lahir dari kerendahan hati, atau justru menjadi cara baru orang kaya mengelola citra, menjaga jarak sosial, dan menyembunyikan kemampuan finansialnya?

Linimasa media sosial belakangan ini memperlihatkan perubahan tren yang cukup menarik. Era flexing ala crazy rich, ketika kekayaan ditampilkan melalui saldo rekening, mobil mewah, atau perjalanan dengan jet pribadi, perlahan mulai berdampingan dengan gaya yang berbeda: stealth wealth atau anti-flexing.

Kini, sebagian orang yang hidup mapan justru memilih tampil sesederhana mungkin. Kekayaan tidak selalu diperlihatkan secara terang-terangan. Bahkan, semakin tidak terlihat, semakin dianggap menarik.

Fenomena ghost rich pun mulai ramai dibicarakan. Mereka mungkin tetap menikmati kopi di specialty coffee shop, mengenakan pakaian berbahan premium tanpa logo mencolok, atau berlibur ke berbagai tempat tanpa merasa perlu membagikannya secara terbuka di Instagram.

Di Indonesia, wacana semacam ini terasa semakin dekat setelah muncul berbagai teguran publik terhadap gaya hidup mewah, mulai dari wacana RUU Anti-Flexing di DPR hingga kasus viral di Gayo Lues pada Juli 2026, ketika gaya hidup mewah menjadi salah satu sorotan yang berujung pada mundurnya seorang pejabat daerah.

Di tengah situasi tersebut, publik, termasuk sebagian masyarakat kelas menengah, dapat melihat gaya hidup low profile sebagai bentuk kerendahan hati yang patut diapresiasi.

Namun, apakah hidup sederhana dan menyembunyikan kekayaan selalu berarti rendah hati?

Atau, jangan-jangan, kita sedang melihat bentuk baru dari pengelolaan citra yang tidak kalah rumit dengan kebiasaan memamerkan harta?

Lelahnya Pura-Pura Miskin: Antara Low Profile dan Ilusi Semata

Jika konsep kerendahan hati dilihat dari perspektif psikologi, anggapan bahwa stealth wealth selalu merupakan bentuk tertinggi dari sikap humble ternyata tidak sesederhana itu.

Merujuk pada riset psikolog klinis Tangney (2000) dan Worthington dkk. (2016), kerendahan hati sejati berkaitan dengan kemampuan melihat diri secara akurat. Seseorang tidak perlu membesar-besarkan dirinya, tetapi juga tidak perlu merendahkan dirinya sendiri.

Dalam konteks tersebut, menyembunyikan kekayaan yang sebenarnya dimiliki semata-mata agar terlihat "merakyat" dapat bersinggungan dengan apa yang disebut sebagai false humility atau kerendahan hati palsu.

Psikolog Aqualus Gordon dalam Psychology Today bahkan menyebut bahwa penyangkalan terhadap kekuasaan, termasuk kekayaan, dengan cara terus-menerus menampilkan diri sebagai orang biasa dapat menjadi bentuk lain dari ekspresi kekuasaan itu sendiri.

Kekayaan tersebut tetap digunakan untuk menikmati barang-barang berkualitas atau mahal, hanya saja bentuk konsumsinya dibuat lebih sulit dikenali.

Dalam kajian mengenai inconspicuous consumption (Wu et al., 2017), konsumsi semacam ini justru dapat menjadi cara untuk membedakan diri tanpa harus menampilkan simbol kemewahan secara terang-terangan.

Dengan kata lain, kemewahan tidak selalu harus terlihat mencolok.

Ada kemewahan yang sengaja dipamerkan agar semua orang mengetahuinya. Namun, ada pula kemewahan yang hanya dikenali oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan atau lingkungan sosial yang sama.

Di titik ini, stealth wealth menjadi menarik. Sebab, tampil sederhana belum tentu berarti seseorang ingin menyangkal bahwa dirinya kaya. Bisa saja ia hanya memilih cara berbeda dalam menikmati apa yang dimilikinya.

Persoalannya muncul ketika upaya mengelola citra tersebut membuat seseorang harus terus-menerus memainkan peran yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Kata Netizen
Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?
Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?
Kata Netizen
Hak Cuti ASN, Kebutuhan Pegawai Bertemu Beban Kerja
Hak Cuti ASN, Kebutuhan Pegawai Bertemu Beban Kerja
Kata Netizen
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau