Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yayuk Sulistiyowati M.V.
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yayuk Sulistiyowati M.V. adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang

Kompas.com, 16 September 2026, 18:41 WIB

Bagaimana sebuah rumah keluarga pada akhir abad ke-19 dapat menjadi bagian dari cerita panjang hadirnya pendidikan bagi anak perempuan di Kota Malang, dan mengapa jejak keluarga yang pernah membuka pintunya itu layak untuk kembali diingat?

Menyusuri kompleks Kampus Cor Jesu yang selama 23 tahun menjadi bagian dari hidup saya selalu menghadirkan kekaguman sekaligus rasa ingin tahu.

Ada saja hal yang membuat saya penasaran dengan sejarah dan seluk-beluk tempat ini. Siapa saja yang terlibat dalam pendiriannya? Bagaimana perjalanan awalnya? Dan seperti apa kisah orang-orang yang berada di balik berdirinya lembaga pendidikan yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Kota Malang tersebut?

Rasa ingin tahu itu yang membawa saya untuk terus menggali, mengamati, dan menuliskannya dalam diary maupun beberapa tulisan.

Hingga akhirnya, saya dipercaya menjadi bagian dari tim penulis sejarah Cor Jesu dalam buku Cor Unum et Anima Una 125 Tahun Ursulin Malang, yang diluncurkan pada 10 Mei 2025.

Melalui berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penulisan sejarah tersebut, saya menemukan satu kisah menarik yang menurut saya layak untuk diangkat: cerita di balik cikal bakal Biara Ursulin dan Kampus Cor Jesu Malang.

Jauh sebelum kompleks sekolah Cor Jesu berdiri kokoh dan melahirkan banyak generasi di Kota Malang, ada sebuah rumah di Jalan Tjelaket yang menjadi bagian dari awal cerita.

Dari keterbukaan sebuah keluarga pada akhir abad ke-19, gagasan tentang pentingnya pendidikan bagi anak perempuan mulai menemukan jalannya di kota ini. Rumah tersebut merupakan kediaman keluarga Stucky.

Kondisi Zaman dan Keterbatasan Pendidikan Perempuan

Pada akhir abad ke-19, lanskap sosial di Hindia Belanda masih menempatkan anak perempuan dalam ruang yang relatif terbatas. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan formal lebih banyak terbuka bagi anak laki-laki. Pada masa itu, perempuan pada umumnya dipersiapkan untuk mengurus rumah tangga dan menjalankan peran domestik.

Di Malang, situasinya pun masih terbatas. Kota ini belum berstatus sebagai gemeente atau kota praja seperti yang kita kenal sekarang.

Gagasan untuk mendirikan sekolah khusus anak perempuan masih menjadi sesuatu yang relatif baru dan belum menjadi kebutuhan umum masyarakat. Pada saat yang sama, kawasan permukiman Eropa mulai berkembang seiring dengan pertumbuhan sektor perkebunan dan industri gula.

Di tengah kondisi sosial yang demikian, sebuah keluarga pendatang bernama Stucky membawa perspektif yang berbeda.

Mereka memiliki perhatian terhadap pendidikan bagi anak-anaknya, termasuk anak perempuan.

Siapakah Keluarga Stucky?

Kepala keluarga ini adalah Ferdinand Maximiliaan Guillaume Stucky, seorang pria berdarah Swiss-Belanda. Sebelum datang ke Hindia Belanda, Ferdinand memiliki latar belakang yang cukup terpandang.

Stucky pernah menjabat sebagai Sekretaris Pribadi Raja Willem III dari Belanda. Setelah tiba di Jawa Timur, Ferdinand menetap di Malang dan bekerja di sektor industri gula, termasuk sebagai pengawas perkebunan di kawasan Jatiroto.

Sebagai bagian dari masyarakat elite Eropa pada masa itu, Ferdinand memiliki sebuah rumah besar di Jalan Tjelaket, kawasan yang kini kita kenal sebagai Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Rumah tersebut menghadap langsung ke jalur trem, sekaligus menjadi bagian dari perkembangan kawasan permukiman modern di Malang pada masa itu.

Di rumah inilah Ferdinand tinggal bersama istrinya dan membesarkan empat anak mereka: Max, Willem, Adriene, dan Laurien.

Berbeda dari gambaran umum keluarga pada masa tersebut, keluarga Stucky memiliki perhatian yang cukup besar terhadap pendidikan seluruh anak mereka, termasuk putri-putri mereka.

Hal inilah yang kemudian membuat rumah keluarga Stucky memiliki tempat tersendiri dalam rangkaian cerita awal pendidikan perempuan di Kota Malang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Kata Netizen
Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?
Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?
Kata Netizen
Hak Cuti ASN, Kebutuhan Pegawai Bertemu Beban Kerja
Hak Cuti ASN, Kebutuhan Pegawai Bertemu Beban Kerja
Kata Netizen
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau