
Ketika tempat cukur rambut berubah menjadi salon dan barbershop modern, apa yang sebenarnya ikut hilang: sekadar sebuah profesi, atau juga ruang perjumpaan dan bagian dari ingatan sosial masyarakat?
Dalam perjalanan panjang kebudayaan Indonesia, terutama di tengah masyarakat Jawa, ada banyak profesi tradisional yang pernah begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tukang pijat bayi, pemikat merpati, tukang cukur, pemanjat kelapa, hingga penggali sumur adalah beberapa di antaranya.
Profesi-profesi tersebut umumnya dijalani oleh mereka yang berasal dari kalangan wong cilik. Ada yang meneruskannya karena keturunan, ada pula yang menjalaninya karena pulung, sebuah istilah yang memiliki makna tersendiri dalam pandangan masyarakat Jawa.
Pada 1990an, profesi semacam itu masih mudah dijumpai di wilayah perkampungan dan pedesaan Yogyakarta.
Ibu Negara Omah Ampiran, misalnya, ketika masih tinggal di rumah tabon di Jetisharjo, Yogyakarta, masih menggunakan jasa tukang pijat bayi dua kali dalam sepekan. Ada Mbah Kerti, sebut saja demikian. Perempuan yang usianya ketika itu lebih dari 50 tahun ini dikenal luas oleh masyarakat Jetisharjo. Hampir setiap bayi di wilayah utara Jembatan Sardjito pernah merasakan sentuhan tangannya.
Mbah Kerti ngopeni bayi sejak puput atau tali pusat terlepas hingga sang bayi mulai bisa berjalan. Setiap kali datang, tugasnya cukup lengkap. Ia ndadah, memijat bayi dari ujung kaki hingga kepala, memandikan, mengusapkan minyak telon, membedaki, hingga membedong bayi. Semuanya dilakukan dalam waktu sekitar setengah hingga satu jam.
Namun, zaman berubah, anak-anak yang lahir dari keluarga muda masa kini mungkin semakin jarang mengenal kain bedong, popok kain, atau jarit gendong. Benda-benda tersebut mulai dianggap kurang praktis dibandingkan swaddle baby, pampers, hipseat carrier, atau baby wrap.
Perubahan semacam itu bukan sesuatu yang perlu disesali begitu saja. Setiap zaman memang membawa cara baru dalam menjalani kehidupan.
Tetapi, perubahan tersebut menarik untuk dilihat sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan. Termasuk ketika kita berbicara tentang rambut.
Ketika Rambut Menjadi Bagian dari Perubahan Zaman
Bagi kebanyakan orang, memotong rambut merupakan kegiatan biasa. Rambut sudah panjang, lalu dipotong. Selesai.
Namun, jika diperhatikan lebih jauh, di balik suara gunting dan helaian rambut yang jatuh ke lantai, ada perubahan budaya yang berlangsung perlahan. Bahkan, cara masyarakat memotong rambut juga dapat memperlihatkan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.
Dalam buku Profesi Wong Cilik: Spiritualitas Pekerja Tradisional di Jawa, Iman Budhi Santosa (IBS) pernah mengkhawatirkan keberadaan sejumlah profesi tradisional yang perlahan terdesak oleh perubahan zaman.
Tukang cukur merupakan salah satunya. Selain itu, ada pula dukun bayi, pemikat perkutut, penggali sumur, pemanjat kelapa, juru kunci, penatu, tukang patri, hingga bong supit.
Perubahan sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang berlangsung begitu cepat perlahan menggeser nilai-nilai tradisional yang sebelumnya menjadi bagian dari cara masyarakat bertahan hidup.
Profesi tukang cukur tradisional menjadi salah satu contoh yang menarik.
Dahulu, seorang tukang cukur dapat mengandalkan peralatan sederhana. Pisau cukur model Jerman, misalnya, termasuk pisau lipat Solingen yang dikenal ampuh untuk mencukur kumis dan janggut. Ada pula bedak sederhana yang digunakan sebelum atau sesudah rambut dicukur.
Peralatan tersebut mungkin terlihat jauh dari kesan modern jika dibandingkan dengan perlengkapan cukur masa kini.
Namun, pada zamannya, peralatan sederhana itu cukup untuk membuat sebuah profesi bertahan. Persoalannya, persaingan kemudian datang bersama perubahan selera masyarakat.
Dari Tukang Cukur ke Salon
Pada dasawarsa 1970an, budaya salon mulai berkembang. Salon yang sebelumnya identik dengan kebutuhan perawatan dan kecantikan perempuan perlahan memperluas layanan hingga menjangkau kebutuhan laki-laki.
Potong rambut tidak lagi hanya soal memendekkan rambut. Tempatnya lebih luas, bersih, dan nyaman. Pelanggan bisa mendapatkan berbagai layanan, mulai dari potong rambut, pewarnaan, smoothing, rebounding, creambath, hingga berkonsultasi mengenai gaya rambut yang sesuai.
Bagi masyarakat perkotaan, perubahan ini tentu menawarkan pengalaman baru. Tukang cukur tradisional pun perlahan harus berbagi pelanggan dengan tempat-tempat yang menawarkan pengalaman berbeda.
Di tengah perubahan tersebut, mereka yang sebelumnya sempat menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kota hingga kecamatan di pedesaan mulai kehilangan ruang. Mereka tidak selalu kalah dalam hal keterampilan. Namun, mereka berhadapan dengan perubahan ekspektasi pelanggan terhadap tempat, fasilitas, kenyamanan, dan layanan.
Tukang cukur tradisional akhirnya semakin sering ditemukan di ruang-ruang yang lebih sederhana, seolah berjalan menuju garis sunyi. Padahal, masa kejayaan mereka dahulu justru lahir dari kesederhanaan.
Tempat bekerja tidak membutuhkan persyaratan khusus. Beranda rumah di tepi jalan bisa menjadi tempat mencukur. Lapak kecil di bawah pohon yang teduh pun cukup. Bahkan, ada yang hanya bermodalkan kursi kayu, cermin yang digantung pada batang pohon di kawasan alun-alun, serta sebuah kotak berisi peralatan cukur.
Ada pula tukang cukur keliling. Mereka berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya dengan membawa kotak kayu berisi gunting, sisir, pisau cukur, handuk, dan semprotan air. Kehadiran mereka menjadi penting, terutama di desa atau kawasan yang belum memiliki tempat cukur permanen.
Profesi itu sederhana, tetapi kedekatannya dengan masyarakat begitu nyata.
Udin dan Pakde Sis
Sosok Aminuddin, atau Udin, merupakan salah satu contoh tukang cukur tradisional yang masih bertahan. Ia setia menjalani profesinya di Alun-alun Utara Yogyakarta.
Dalam wawancara dengan detik.com pada 18 Agustus 2025, Udin mengaku sudah mangkal sejak 2002. Ia biasanya bekerja dari pukul 08.00 hingga 17.00.
Ketika hujan datang tiba-tiba, tubuh sedang sakit, atau kondisi mengharuskannya berhenti bekerja, ia pun buru-buru menutup lapaknya. Tentu saja, zaman tetap harus diikuti. Udin kini sudah menggunakan hair clipper untuk membantu pekerjaannya.
Di Desa Jamblangan, Seyegan, Sleman, tepatnya di sebuah jalan kecil menuju pemakaman umum di sebelah barat SMKN 1 Seyegan, ada pula seorang tukang cukur tradisional yang menempati kios kecil di sisi utara jalan.
Sebut saja namanya Pakde Sis. Sesekali terlihat seorang bapak sedang dicukur di sana. Menariknya, setelah rambut selesai dipotong, pelanggan tidak selalu langsung pulang.
Mereka masih duduk sebentar, ngobrol, bercerita, hingga menuggu pelanggan berikutnya datang.
Percakapan bisa bergerak ke mana-mana. Dari kabar keluarga, pekerjaan, harga kebutuhan sehari-hari, hingga persoalan sosial yang sedang terjadi di desa.
Pada titik ini tukang cukur tradisional memiliki peran yang mungkin tidak tercatat dalam daftar layanan sebuah tempat cukur, bukan sekadar penyedia jasa sampai bagian dari ruang perjumpaan masyarakat.
Pakde Sis bekerja sendiri dengan peralatan sederhana, seperti gunting, pisau cukur manual, dan cermin kecil. Pelanggannya rata-rata berusia di atas 30 tahun.
Hubungan antara tukang cukur dan pelanggan pun tidak semata-mata profesional. Ada kedekatan yang tumbuh dari pertemuan berulang, cerita yang disampaikan sambil rambut dipotong.
Ada pula obrolan ngalor-ngidul yang mungkin tidak pernah terjadi jika seseorang hanya datang, duduk, dicukur, membayar, lalu pergi.
Ketika Tukang Cukur Madura Datang
Namun, keberadaan tukang cukur tradisional di pedesaan juga menghadapi perubahan berikutnya.
Sekitar awal 2000an, tukang potong rambut Madura mulai banyak dijumpai. Mereka membuka kios-kios kecil di pinggir jalan dengan peralatan yang relatif lebih modern.
Hair clipper listrik membantu mempercepat proses pemotongan rambut sekaligus membuat berbagai model rambut lebih mudah dikerjakan.
Kios-kios tersebut umumnya dilengkapi cermin besar, kipas angin, dan penerangan yang memadai. Harganya pun relatif terjangkau sehingga mampu bersaing dengan tukang cukur tradisional.
Pertumbuhannya terasa cepat, seperti cendawan di musim hujan, tetapi perubahan belum berhenti sampai di sana.
Sekitar tiga tahun kemudian, barbershop mulai bermunculan di berbagai sudut Kota Yogyakarta.
Kali ini, yang ditawarkan bukan sekadar potongan rambut. Ada ruangan berpendingin udara, interior yang menarik, tenaga muda yang berpengalaman, free Wi-Fi, hingga sistem pembayaran menggunakan QRIS dan aplikasi pembayaran lainnya.
Peralatannya pun semakin beragam. Ada hair clipper cordless, trimmer detail, foil shaver, hingga straight razor.
Model rambut yang dapat dibuat pun semakin beragam: undercut, low fade, buzz cut, mohawk, pompadour, french crop, mullet, taper, dan berbagai gaya lainnya. Bahkan pengalaman mencukur pun dibuat semakin lengkap.
Ada shaving brush dan shaving cream untuk menghasilkan busa tebal agar proses mencukur terasa lebih nyaman. Ada hot towel untuk membantu membuka pori-pori sebelum mencukur. Ada pula pomade, clay, atau wax untuk menata rambut setelah selesai.
Jika sedang ramai, nomor antrean digital membantu mengatur giliran pelanggan. Semua itu menunjukkan bahwa industri potong rambut telah berkembang menjadi sebuah pengalaman.
Lebih dari Sekadar Memotong Rambut
Jika ditarik lebih jauh, perjalanan dari tukang cukur tradisional, tukang potong rambut Madura, salon, hingga barbershop modern sebenarnya merupakan bagian dari perjalanan budaya masyarakat.
Cara kita memotong rambut berubah seiring dengan perubahan cara kita bekerja, bersosialisasi, membelanjakan uang, hingga memandang penampilan.
Dulu, seseorang mungkin cukup duduk di kursi kayu di depan rumah atau di bawah pohon rindang.
Kini, sebagian orang mungkin memilih ruangan berpendingin udara dengan interior yang dirancang khusus, sambil menikmati kopi dan mengakses internet.
Tidak ada yang sepenuhnya salah dari perubahan itu. Setiap generasi memiliki kebutuhan dan pilihannya sendiri. Yang menarik justru adalah apa yang tertinggal di belakang setiap perubahan tersebut.
Sebab, ketika sebuah profesi tradisional perlahan menghilang, yang mungkin ikut berkurang bukan hanya pilihan tempat mencukur rambut.
Ada ruang-ruang interaksi sosial yang ikut beruban, kebiasaan yang perlahan ditinggalkan. Pun ada pula percakapan antargenerasi yang mungkin tidak lagi berlangsung dalam bentuk yang sama.
Ingatan tentang bagaimana masyarakat pernah menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tukang cukur tradisional layak dilihat bukan semata-mata sebagai profesi lama yang kalah bersaing dengan zaman.
Di balik kursi kayu, cermin kecil, gunting, dan pisau cukur manual, pernah tumbuh hubungan sosial yang sederhana tetapi bermakna.
Namun, selama masih ada tukang cukur tradisional yang membuka lapaknya, menyapa pelanggan, lalu mendengarkan cerita sambil menggerakkan gunting, di sanalah sebagian kecil kehidupan lama masih menemukan tempatnya.
Memotong rambut pada akhirnya memang bukan sekadar memendekkan rambut. Kebiasaan sederhana yang terus mengikuti perubahan zaman.
Dan dari kebiasaan sederhana itulah, kita bisa melihat bagaimana sebuah masyarakat perlahan berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tukang Cukur Tradisional di Garis Sunyi"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT