
Seberapa besar sebenarnya pengaruh El Nino terhadap kehidupan kita, mulai dari cuaca, ketersediaan air, pertanian, kebakaran hutan, hingga kesehatan sehari-hari? Dan mengapa fenomena yang namanya terdengar sederhana ini perlu kita pahami sebelum dampaknya terasa semakin luas?
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah bersama Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, Senin (29/6/2026), Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengingatkan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan lintas sektor menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai kategori kuat pada 2026.
Nama El Nino memang cukup sering terdengar belakangan ini. Fenomena tersebut bahkan kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan.
Namun, sebenarnya apa itu El Nino? Mengapa fenomena ini bisa berpengaruh terhadap begitu banyak aspek kehidupan manusia?
***
Nama El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang secara harfiah berarti "anak laki-laki" atau "bayi laki-laki". Dalam konteks sejarah penamaannya, istilah tersebut merujuk pada Bayi Yesus (The Christ Child) karena fenomena ini dahulu kerap diamati muncul sekitar musim Natal.
Secara sederhana, El Nino merupakan kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat daripada kondisi normal.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), lembaga kelautan dan atmosfer Amerika Serikat, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, angin pasat (trade winds) bertiup dari timur ke barat, dari kawasan pantai Amerika Selatan menuju Asia, termasuk Indonesia.
Angin tersebut mendorong air laut yang hangat ke wilayah Indonesia. Air laut yang hangat kemudian meningkatkan penguapan dan membantu pembentukan awan hujan di kawasan Indonesia.
Pada saat El Nino terjadi, pola tersebut berubah. Angin pasat melemah dan dapat mengalami perubahan arah sehingga air laut yang lebih hangat bergeser dan menumpuk di kawasan tengah hingga timur Samudra Pasifik, sementara wilayah Asia, termasuk Indonesia, mengalami kondisi laut yang relatif lebih dingin.
Perubahan tersebut kemudian memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia.
Di Indonesia, salah satu dampak yang paling sering dirasakan adalah berkurangnya curah hujan dan meningkatnya risiko kekeringan.
Lalu, apakah El Nino sama dengan musim kemarau?
Tidak persis demikian.
BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau dan El Nino merupakan dua hal yang berbeda. Musim kemarau merupakan bagian dari siklus musim tahunan, sedangkan El Nino merupakan fenomena iklim yang terjadi secara periodik.
Persoalannya, ketika El Nino berlangsung bersamaan dengan musim kemarau, kondisi yang sudah kering dapat menjadi lebih kuat.
Curah hujan yang memang lebih sedikit pada musim kemarau dapat semakin berkurang, sementara periode kering di sejumlah wilayah berpotensi berlangsung lebih panjang.
Di sinilah El Nino mulai memiliki hubungan yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dampak El Nino pada Kehidupan Manusia
Dampak El Nino dapat dirasakan di berbagai sektor. Salah satunya adalah lingkungan dan kehutanan.
Ketika musim kemarau berlangsung bersamaan dengan kondisi El Nino, lingkungan yang sudah kering menjadi lebih rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Risiko tersebut semakin besar ketika terdapat sumber api, baik yang berasal dari aktivitas manusia maupun faktor alam tertentu.