
Lalu, apakah hutan bisa terbakar secara alami?
Dalam kondisi tertentu, kebakaran memang dapat terjadi karena faktor alam. Penelitian Center for International Forestry Research (CIFOR) menunjukkan bahwa mikroorganisme pembusuk pada tumpukan bahan organik yang tebal, seperti di kawasan peatland, dapat menghasilkan panas.
Dalam kondisi tertentu, proses oksidasi dapat berkembang lebih jauh sehingga meningkatkan risiko munculnya api.
Sambaran petir juga dapat menjadi salah satu sumber kebakaran alami. NOAA menyebut dry lightning sebagai salah satu penyebab alami utama kebakaran hutan di kawasan dengan iklim kering.
Namun, kondisi seperti itu tidak berarti seluruh kebakaran hutan di Indonesia dapat dikaitkan dengan faktor alam.
Dalam konteks Indonesia, faktor manusia tetap menjadi persoalan yang sangat penting. Dilansir dari laman Sekretariat Kabinet, Kepala BNPB pada 2019 menyebut sekitar 99 persen kebakaran hutan dan lahan terjadi akibat aktivitas manusia. Sebagian besar lahan yang terbakar kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan perkebunan.
Lantas, bagaimana mungkin petir muncul ketika musim kemarau dan El Nino sedang berlangsung?
El Nino tidak berarti hujan dan petir berhenti sepenuhnya. Fenomena ini lebih berkaitan dengan perubahan pola, frekuensi, dan distribusi cuaca. Musim kemarau dapat berlangsung lebih panjang dari biasanya, sementara awal musim hujan berpotensi datang lebih lambat.
Ketika hujan akhirnya turun, distribusinya pun tidak selalu merata. Ada wilayah yang mendapatkan hujan, sementara wilayah lainnya masih mengalami kondisi kering.
Kondisi seperti dry lightning juga relatif jarang menjadi penyebab kebakaran di Indonesia yang memiliki karakter iklim tropis lembap. Karena itu, persoalan kebakaran hutan dan lahan tetap perlu dilihat dari berbagai faktor, termasuk aktivitas manusia.
Hutan yang berada dalam kondisi sangat kering akan lebih mudah terbakar. Sumber api yang kecil sekalipun, seperti puntung rokok yang dibuang sembarangan, dapat menjadi awal kebakaran yang kemudian meluas.
Risikonya menjadi semakin besar ketika hujan yang biasanya membantu proses pemadaman secara alami tidak kunjung turun atau jumlahnya sangat terbatas.
Terbaru, dilansir dari Kompas.id pada 24 Agustus 2026, Polri menetapkan 72 tersangka perorangan yang diduga melakukan pembakaran hutan. Total luas lahan yang disebut dibakar para tersangka mencapai 1.006 hektar dengan motif membuka lahan karena dianggap lebih murah untuk kemudian ditanami kelapa sawit.
Kondisi lingkungan yang sedang rentan akibat kekeringan tentu dapat memperbesar dampak dari aktivitas pembakaran tersebut.
Dan ketika kebakaran hutan terjadi dalam skala luas, dampaknya tidak berhenti di kawasan hutan.
Ekosistem terganggu. Flora dan fauna kehilangan habitat. Sebagian satwa bahkan dapat bergerak keluar dari kawasan hutan untuk mencari makanan dan tempat berlindung.
Pada akhirnya, kondisi tersebut juga dapat bersinggungan dengan kehidupan manusia.
Ketika habitat satwa terganggu, kemungkinan satwa memasuki kawasan permukiman menjadi lebih besar. Ketika sumber makanan di habitat alaminya berkurang, interaksi antara satwa dan manusia juga berpotensi meningkat.
Selain persoalan ekosistem, kebakaran hutan juga membawa dampak terhadap kesehatan manusia. Asap dan kualitas udara yang memburuk dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dalam kondisi kualitas udara yang tidak sehat, aktivitas masyarakat pun dapat ikut terdampak. Sejumlah kegiatan, termasuk pembelajaran di beberapa daerah seperti Pekanbaru, pernah dilakukan secara daring sebagai salah satu upaya mengurangi paparan terhadap kualitas udara yang buruk akibat debu dan kabut asap.
Dampak El Nino juga dapat dirasakan oleh sektor pertanian. Berkurangnya ketersediaan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.