Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Efa Butar butar
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Efa Butar butar adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 09:59 WIB

Lalu, apakah hutan bisa terbakar secara alami?

Dalam kondisi tertentu, kebakaran memang dapat terjadi karena faktor alam. Penelitian Center for International Forestry Research (CIFOR) menunjukkan bahwa mikroorganisme pembusuk pada tumpukan bahan organik yang tebal, seperti di kawasan peatland, dapat menghasilkan panas.

Dalam kondisi tertentu, proses oksidasi dapat berkembang lebih jauh sehingga meningkatkan risiko munculnya api.

Sambaran petir juga dapat menjadi salah satu sumber kebakaran alami. NOAA menyebut dry lightning sebagai salah satu penyebab alami utama kebakaran hutan di kawasan dengan iklim kering.

Namun, kondisi seperti itu tidak berarti seluruh kebakaran hutan di Indonesia dapat dikaitkan dengan faktor alam.

Dalam konteks Indonesia, faktor manusia tetap menjadi persoalan yang sangat penting. Dilansir dari laman Sekretariat Kabinet, Kepala BNPB pada 2019 menyebut sekitar 99 persen kebakaran hutan dan lahan terjadi akibat aktivitas manusia. Sebagian besar lahan yang terbakar kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan perkebunan.

Lantas, bagaimana mungkin petir muncul ketika musim kemarau dan El Nino sedang berlangsung?

El Nino tidak berarti hujan dan petir berhenti sepenuhnya. Fenomena ini lebih berkaitan dengan perubahan pola, frekuensi, dan distribusi cuaca. Musim kemarau dapat berlangsung lebih panjang dari biasanya, sementara awal musim hujan berpotensi datang lebih lambat.

Ketika hujan akhirnya turun, distribusinya pun tidak selalu merata. Ada wilayah yang mendapatkan hujan, sementara wilayah lainnya masih mengalami kondisi kering.

Kondisi seperti dry lightning juga relatif jarang menjadi penyebab kebakaran di Indonesia yang memiliki karakter iklim tropis lembap. Karena itu, persoalan kebakaran hutan dan lahan tetap perlu dilihat dari berbagai faktor, termasuk aktivitas manusia.

Hutan yang berada dalam kondisi sangat kering akan lebih mudah terbakar. Sumber api yang kecil sekalipun, seperti puntung rokok yang dibuang sembarangan, dapat menjadi awal kebakaran yang kemudian meluas.

Risikonya menjadi semakin besar ketika hujan yang biasanya membantu proses pemadaman secara alami tidak kunjung turun atau jumlahnya sangat terbatas.

Terbaru, dilansir dari Kompas.id pada 24 Agustus 2026, Polri menetapkan 72 tersangka perorangan yang diduga melakukan pembakaran hutan. Total luas lahan yang disebut dibakar para tersangka mencapai 1.006 hektar dengan motif membuka lahan karena dianggap lebih murah untuk kemudian ditanami kelapa sawit.

Kondisi lingkungan yang sedang rentan akibat kekeringan tentu dapat memperbesar dampak dari aktivitas pembakaran tersebut.

Dan ketika kebakaran hutan terjadi dalam skala luas, dampaknya tidak berhenti di kawasan hutan.

Ekosistem terganggu. Flora dan fauna kehilangan habitat. Sebagian satwa bahkan dapat bergerak keluar dari kawasan hutan untuk mencari makanan dan tempat berlindung.

Pada akhirnya, kondisi tersebut juga dapat bersinggungan dengan kehidupan manusia.

Ketika habitat satwa terganggu, kemungkinan satwa memasuki kawasan permukiman menjadi lebih besar. Ketika sumber makanan di habitat alaminya berkurang, interaksi antara satwa dan manusia juga berpotensi meningkat.

Selain persoalan ekosistem, kebakaran hutan juga membawa dampak terhadap kesehatan manusia. Asap dan kualitas udara yang memburuk dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Dalam kondisi kualitas udara yang tidak sehat, aktivitas masyarakat pun dapat ikut terdampak. Sejumlah kegiatan, termasuk pembelajaran di beberapa daerah seperti Pekanbaru, pernah dilakukan secara daring sebagai salah satu upaya mengurangi paparan terhadap kualitas udara yang buruk akibat debu dan kabut asap.

Dampak El Nino juga dapat dirasakan oleh sektor pertanian. Berkurangnya ketersediaan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau