
Ketika sebuah impian masa kecil harus berhenti karena keadaan, bisakah musik dan radio menjadi ruang untuk menemukan kembali arah, menyalurkan kegelisahan, sekaligus mengubah kekecewaan menjadi energi kreatif?
Ada sebuah masa ketika impian masa kecil saya harus karam tepat di depan mata. Kelainan buta warna yang terlambat diketahui memupus harapan untuk menekuni bidang sains yang sebelumnya begitu saya cita-citakan.
Keadaan membuat saya harus berputar arah. Saya pindah ke jurusan sosial, sebuah lanskap yang saat itu terasa begitu asing bagi saya.
Sebagai anak muda, perubahan itu tentu tidak mudah diterima. Ada rasa frustrasi, kegundahan, sekaligus energi yang begitu besar dan belum tahu harus disalurkan ke mana. Namun, justru pada masa yang cukup sulit itu, Tuhan membukakan pintu lain yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan: dunia entertainment, khususnya musik dan radio.
Gelombang radio dan musik yang semula hanya menjadi hobi terpendam sejak SMA seperti kembali memanggil. Bersama kawan-kawan yang memiliki pengalaman serupa dan sama-sama berhadapan dengan ironi buta warna, kami mencoba merajut kegundahan, kekecewaan, dan kemarahan menjadi komposisi musik yang distorsif, mengikuti musik cadas yang kami sukai.
Musik rock dan metal era 90an yang saat itu sedang begitu kuat gaungnya menjadi semacam "ruang penyembuhan" awal bagi kami.
Kami mengikuti festival demi festival musik di berbagai pelosok Nusantara. Energi dan gairah anak muda yang sebelumnya terasa seperti kemarahan perlahan menemukan bentuknya melalui kreativitas di atas panggung.
Dari lingkar pertemanan dengan banyak orang yang memiliki latar belakang dan kepentingan beragam itu pula, perjalanan saya kemudian membawa saya semakin dekat dengan dunia radio. Saya mulai mengenal lebih jauh bilik kedap suara, studio musik, dan studio radio yang cukup dikenal di sekitar kampus.
Saya kemudian dipercaya memegang posisi Music Director (MD) di dua stasiun radio sekaligus yang kebetulan masih berada dalam satu keluarga usaha.
Menurut bos saat itu, salah satu alasannya adalah karena cukup sulit menemukan musisi yang juga aktif sebagai penyiar, atau sebaliknya, penyiar yang juga merupakan musisi aktif dan memiliki literasi musik yang cukup baik. Apalagi, saat itu musik rock sedang berada dalam masa yang sangat bergairah.
Karena latar belakang tersebut pula, saya dipercaya mengasuh beberapa program yang berkaitan dengan literasi musik. Salah satunya adalah "Rock Nation", yang saat itu menjadi salah satu program yang ikut mewarnai tren musik rock yang digandrungi anak-anak muda.
Bagi jiwa muda saya yang sedang penuh energi, ruang siar berukuran sekitar 3 x 4 meter dengan berbagai perangkat yang saat itu masih analog tiba-tiba terasa seperti sebuah laboratorium kreativitas sekaligus ruang hiburan yang luar biasa.
Di depan mikrofon condenser, berbagai gejolak, ketegangan, dan energi yang sebelumnya menumpuk menemukan salurannya.
Dunia broadcasting menantang naluri seni saya. Saya belajar bagaimana mengubah riak emosi menjadi intonasi suara yang menarik, memilih daftar lagu yang sesuai dengan suasana psikologis pendengar, hingga mencairkan malam melalui dialog spontan yang tetap komunikatif.
Siaran radio akhirnya menjadi ruang katarsis bagi saya. Di sanalah saya dapat mengekspresikan naluri untuk menghibur secara lebih utuh, tanpa harus terlalu banyak berpura-pura atau membuat sesuatu yang tidak sesuai dengan diri sendiri.