
Bagi saya, bilik siar akhirnya bukan sekadar tempat bekerja. Karena di sana pernah menjadi ruang untuk melepaskan kegelisahan, mengolah kekecewaan, merawat kreativitas, dan menemukan kembali arah setelah sebuah impian harus berubah.
Mungkin memang begitu cara hidup bekerja.
Tidak semua pintu yang tertutup berarti perjalanan harus berakhir. Kadang, sebuah pintu yang tertutup justru mengarahkan kita menuju ruang lain yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.
Dan bagi saya, salah satu ruang itu bernama bilik siar.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ruang Katarsis Bernama Bilik Siar!"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.