Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Akbar Pitopang
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Akbar Pitopang adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?

Kompas.com, 26 September 2026, 17:28 WIB

Jika biaya pendidikan negeri hingga perguruan tinggi benar-benar dibuat gratis, apakah itu sudah cukup untuk memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan belajar yang sama, atau masih ada biaya dan persoalan lain yang perlu diselesaikan?

Wacana pendidikan gratis kembali menghangat setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa biaya pendidikan pada satuan pendidikan negeri, mulai dari SD, SMP, SMA hingga universitas negeri, harus gratis.

Pernyataan tersebut disampaikan pada 18 September 2026 dan kemudian ditindaklanjuti melalui pembahasan pemerintah mengenai bagaimana gagasan tersebut dapat diwujudkan.

Sebagai guru, saya tentu menyambut pembicaraan tentang perluasan akses pendidikan dengan pikiran terbuka.

Namun, saya justru merasa kata "gratis" perlu dibicarakan secara hati-hati. Sebab, pendidikan memiliki biaya nyata yang tetap harus ditanggung oleh seseorang, entah oleh keluarga, pemerintah daerah, maupun negara.

Pertanyaan terpentingnya adalah apakah anak-anak Indonesia benar-benar memperoleh kesempatan belajar yang bermutu tanpa tersingkir oleh keadaan ekonomi.

Kita sebenarnya sedang berada dalam arah kebijakan yang sejalan melalui Program Wajib Belajar 13 Tahun. Pemerintah mendefinisikannya sebagai kebijakan yang mencakup satu tahun prasekolah, enam tahun SD, tiga tahun SMP, dan tiga tahun pendidikan menengah, dengan tujuan memperluas dan memeratakan akses pendidikan yang bermutu.

Artinya, gagasan untuk memperluas akses pendidikan sebenarnya sudah memiliki landasan kebijakan, dari pendidikan prasekolah hingga tamat pendidikan menengah.

Persoalannya, akses pendidikan tidak selalu terhambat karena sekolah meminta biaya pendidikan secara langsung. Ada ongkos transportasi, seragam, sepatu, perlengkapan belajar, perangkat digital, kebutuhan makan, hingga biaya tempat tinggal bagi anak yang harus merantau.

Data BPS memperlihatkan bahwa alasan penduduk usia 7–18 tahun tidak atau belum pernah sekolah maupun tidak bersekolah lagi cukup beragam. Alasan tidak ada biaya mencapai 35,78 persen dan menjadi alasan terbesar, disusul bekerja atau mencari nafkah sebesar 23,56 persen serta menikah atau mengurus rumah tangga sebesar 15,77 persen.

Menuju Hak Pendidikan yang Benar-Benar Terjamin

Bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, penghapusan biaya pendidikan tentu dapat menjadi bantuan yang sangat berarti. Negara yang mampu mengurangi beban tersebut sedang membuka pintu yang sebelumnya mungkin terasa terlalu berat untuk didorong.

Kita tidak perlu berpura-pura bahwa uang bukan persoalan. Seorang anak dari keluarga sederhana bisa saja memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi harus menghitung berkali-kali biaya transportasi, buku, laptop, tempat tinggal, atau kebutuhan sehari-hari sebelum memutuskan untuk melanjutkan pendidikan.

Namun, saya juga ingin mengingatkan bahwa pendidikan gratis tidak sama dengan pendidikan tanpa biaya.

Jika mahasiswa tidak lagi membayar uang kuliah, perguruan tinggi tetap membutuhkan dosen, laboratorium, perpustakaan, teknologi, penelitian, pemeliharaan gedung, jaringan internet, administrasi, dan berbagai layanan akademik. Biaya tersebut tetap ada dan pada akhirnya perlu ditanggung melalui anggaran negara atau sumber pembiayaan lainnya.

Di sinilah desain kebijakan menjadi jauh lebih penting daripada sekadar slogan. Pemerintah perlu menghitung kemampuan fiskal secara matang agar pembebasan biaya pendidikan tidak justru diikuti penurunan kualitas layanan karena sekolah atau kampus kehilangan ruang untuk membiayai kebutuhan dasarnya.

Pendidikan yang lebih terjangkau bagi peserta didik akan kehilangan sebagian maknanya jika ruang kelas terlalu penuh, guru kekurangan dukungan, laboratorium tidak berfungsi dengan baik, perpustakaan tidak berkembang, atau mahasiswa memperoleh gelar tetapi minim pengalaman belajar yang bermutu.

Saya juga melihat perlunya membedakan antara pendidikan gratis untuk semua dan bantuan penuh bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Keduanya memiliki konsekuensi anggaran dan desain kebijakan yang berbeda. Karena itu, pemerintah perlu menentukan sasaran, mekanisme pembiayaan, standar layanan, serta sistem pengawasan secara transparan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Anak Belajar Mengenal Tradisi Daerah lewat Karnaval Budaya
Kata Netizen
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Sekolah dan Kuliah Gratis, Apakah Kesempatan Belajar Jadi Setara?
Kata Netizen
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Cerita Musim Kemarau di NTT, dari Pohon Lontar ke Gula Lempeng
Kata Netizen
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Mengenal TB Lebih Dekat, dari Penularan hingga Pencegahannya
Kata Netizen
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau