
Mengapa setiap kali memotret anggrek saya selalu teringat pada cerpen Kuntowijoyo, dan bagaimana kegiatan sederhana merawat serta mengabadikan bunga justru membuat saya memahami kembali hubungan antara mencintai, mengagumi, dan memberi ruang bagi sebuah keindahan?
Setiap kali memotret anggrek, saya teringat pada cerpen Kuntowijoyo, Dilarang Mencintai Bunga-Bunga.
Cerpen tersebut menceritakan seorang anak laki-laki yang menyukai bunga, tetapi mendapat tentangan dari ayahnya. Bunga dianggap bukan dunia laki-laki.
Laki-laki mesti kuat, keras, dan bekerja dengan tangan kasar. Sementara bunga dipandang sebagai simbol kelembutan yang lebih dekat dengan dunia perempuan.
Entah mengapa, ingatan terhadap cerpen itu selalu muncul kembali ketika saya berhadapan dengan bunga anggrek.
Ketika ada tamu bertandang ke Omah Ampiran, tempat tinggal saya bersama keluarga, lalu mengagumi kehebatan tangan Ibu Negara Omah Ampiran dalam merawat anggrek, mantan pacar biasanya menahan senyum.
“Itu yang menanam dan merawat Pak Presiden Omah Ampiran,” jelas Ibu Negara dengan tenang.
Beberapa tamu kadang tidak bisa menyembunyikan keheranan ketika mengetahui bahwa sayalah yang merawat anggrek.
Seolah-olah ada kegiatan lain yang lebih pantas dilakukan seorang lelaki senja selain menanam dan merawat Anggrek Bulan, Pandurata (Anggrek Hitam Kalimantan), Stapelia, Black Cat, Mangosteen, Americana, Golden Shower, Brasavola Yellow Star, Lancy Follium, Scomborgia, Onci Sunny Village, Antenatum Longhorn, dan berbagai jenis lainnya.
Memasuki masa pensiun, saya justru menikmati kegiatan yang mungkin dianggap kurang lazim bagi sebagian orang: merawat anggrek.
Mulai dari menyiram, memberikan pupuk, menyemprotkan antihama dan antijamur, hingga menunggu kemunculan tangkai bunga dalam rentang waktu berbulan-bulan.
Ketika anggrek akhirnya “berbakti” atau berbunga, saya mengabadikannya melalui lensa kamera.
Sejak pertama kali membaca cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga untuk keperluan penulisan makalah di jurnal terakreditasi, cerpen tersebut selalu membekas dalam ingatan.
Judulnya unik sekaligus provokatif. Bagaimana mungkin seseorang dilarang mencintai bunga-bunga?
Setiap kali memotret anggrek, entah mengapa saya selalu kembali teringat pada cerpen tersebut.
Mungkin karena ada hubungan setipis tisu antara mencintai dan mengagumi.
Seorang pemelihara anggrek tentu menyukai bunganya. Namun, seorang fotografer perlu menjaga jarak tertentu dengan objek yang sedang dipotretnya.
Boleh mengagumi, tetapi tidak seharusnya terlalu larut dalam perasaan hingga kehilangan ketelitian. Kamera menuntut kepekaan sekaligus ketepatan, bukan sekadar kekaguman.
Kecintaan saya terhadap fotografi sebenarnya sudah dimulai sejak kanak-kanak.
Saat SMP, saya gemar memotret pemandangan alam. Ketika kuliah dan pulang ke Jambi, ketertarikan saya bergeser ke fotografi human interest, dengan memotret kehidupan anak-anak di tepian Sungai Batanghari.
Setelah era kamera digital berkembang, minat saya kembali bergeser. Saya mulai memotret model.
Kini, selain sesekali memotret alam dan model, saya lebih sering menghabiskan waktu membidik bunga anggrek di halaman rumah, di antara koleksi kamboja Bali atau Plumeria yang terdiri dari warna pink, kuning, merah fanta, three color, hingga kelopak sepuluh.