
Apakah pekerjaan pertama kita harus selalu sesuai dengan jurusan kuliah, atau justru ada kesempatan lain yang bisa membawa kita menemukan potensi diri?
Menjadi sarjana ternyata tidak otomatis membuat seseorang tahu pekerjaan apa yang cocok untuk dirinya. Setidaknya, itulah yang saya alami setelah lulus dari jurusan Biologi di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN).
Saya sempat mencoba melamar pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi. Sayangnya, belum ada yang berjodoh. Di sisi lain, saya juga merasa kurang cocok menjadi peneliti. Bayangkan saja, saya yang cukup cablak dan tidak bisa diam ini harus duduk tenang berjam-jam di laboratorium. Hahaha!
Bukan berarti saya meremehkan profesi peneliti, ya. Justru saya cukup mengenali diri sendiri untuk memahami bahwa profesi tersebut mungkin bukan tempat terbaik bagi saya.
Sampai suatu hari, mata saya tertumbuk pada sebuah iklan kecil di koran. Iya, koran! Pada masa itu, informasi lowongan pekerjaan masih bisa ditemukan di antara berita politik, ekonomi, dan berbagai iklan yang memenuhi halaman surat kabar. Belum seperti sekarang, ketika kita cukup membuka situs pencari kerja atau menggulir layar ponsel.
Jadul banget, ya? Coba tebak, tahun berapa itu? Hehehe.
Entah mengapa, iklan kecil dari sebuah bank itu menarik perhatian saya. Tanpa banyak berpikir, saya menyiapkan surat lamaran dan mendatangi alamat yang tertera. Sesederhana itu. Belum menggunakan CV seperti sekarang, setidaknya untuk urusan lamaran kerja saya waktu itu.
Saya berangkat membawa surat lamaran dan tentu saja harapan untuk segera mendapatkan pekerjaan setelah enam bulan menganggur.
***
Begitu memasuki kantor bank tersebut, saya disambut dengan ramah oleh para pegawai. Mereka menanyakan keperluan saya, lalu salah seorang di antaranya mengantarkan saya menuju ruangan untuk wawancara.
Wawancara? Loh, kok, langsung? Jujur, saya cukup terkejut. Awalnya, saya mengira hanya akan menyerahkan surat lamaran, kemudian menunggu kabar. Rupanya, hari itu juga saya harus berhadapan dengan pewawancara.
Yang membuat saya semakin terkejut, ternyata saya akan diwawancarai langsung oleh direktur utama karena bagian HRD sedang sakit.
Duh, duh, rasanya jantung langsung berdegup kencang. Deg-degan? Pastilah!
Kakak yang mengantarkan saya mengetuk pintu. Setelah terdengar jawaban dari dalam, pintu dibuka dan saya dipersilakan masuk.
Tanpa sadar, langkah saya sempat terhenti ketika melihat sosok di hadapan. Saya membayangkan seorang direktur dengan wajah matang dan sedikit uban di sana-sini. Namun, saya justru melihat sosok yang masih muda dan ... tampan?
Astaga! Apa-apaan pikiran saya ini?
Saya segera menepis pikiran tersebut, mengulas senyum, lalu mengucapkan salam. Beliau membalas dengan ramah dan mempersilakan saya duduk.
Wawancara pun dimulai. Awalnya, pertanyaan yang diajukan masih seputar hal-hal umum. Sampai kemudian, beliau mulai membahas fakultas tempat saya menempuh pendidikan.
"Yakin lulusan Biologi bisa bekerja di bidang ini?" Kira-kira begitulah inti pertanyaannya.
Duh! Rasanya kaki langsung lemas. Bagaimana tidak? Biologi dan perbankan jelas merupakan dua bidang yang berbeda. Memang, saya tahu lulusan dari berbagai jurusan bisa bekerja di bank. Namun, mengetahui hal itu ternyata tidak serta-merta membuat saya punya jawaban yang meyakinkan.
Anehnya, reaksi tubuh saya justru berbeda dengan apa yang keluar dari mulut. Entah mendapat keberanian dari mana, saya menjawab,
"Selama ilmu itu tampak mata dan bisa dipelajari, saya yakin saya bisa, Pak."