Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Syahrial
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Syahrial adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung

Kompas.com, 28 Maret 2026, 13:56 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di tengah ragam hidangan Lebaran yang semakin beragam dan modern, masihkah ada ruang untuk makanan sederhana yang menyimpan kenangan, seperti pumpuk dari dapur kampung Belitung?

Pada pagi hari Lebaran di kampung-kampung Belitung di masa lalu, suasana dapur kerap masih hidup sejak dini hari.

Ketupat tergantung rapi di sudut ruangan, kuah gulai dipanaskan kembali, dan tamu mulai berdatangan satu per satu.

Di antara beragam hidangan yang tersaji, sesekali tampak kue sederhana berwarna pucat dengan permukaan yang tidak sepenuhnya halus. Kue itu dikenal dengan nama pumpuk.

Pumpuk bukanlah sajian yang mencolok. Ia tidak dihias dengan taburan gula atau warna-warni seperti kue Lebaran masa kini. Bentuknya sederhana, pipih, dan terbuat dari bahan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: tepung singkong dan kelapa.

Namun justru dalam kesederhanaannya, pumpuk menyimpan makna yang lebih dalam. Bagi banyak orang di kampung-kampung Belitung, makanan ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan bagian dari ingatan tentang rumah, dapur, dan kebersamaan keluarga.

Secara fisik, pumpuk berbentuk pipih dengan ketebalan sekitar dua sentimeter. Teksturnya cenderung kering dan sedikit remah, menyerupai kue singkong kukus yang tidak terlalu lembap. Bahan utamanya pun sederhana: tepung singkong tradisional yang dikenal sebagai tepong rap menggale, kelapa parut setengah tua, serta sedikit garam.

Kesederhanaan ini mencerminkan cara hidup masyarakat Belitung di masa lalu yang sangat bergantung pada alam. Singkong menjadi salah satu sumber pangan utama karena mudah tumbuh di tanah berpasir dan tidak membutuhkan perawatan rumit. Dari bahan inilah lahir berbagai olahan makanan rumahan yang sederhana, tetapi mengenyangkan.

Sebelum menjadi pumpuk, singkong diolah terlebih dahulu menjadi tepung rap menggale. Prosesnya cukup panjang.

Singkong yang telah dikupas dipotong kecil-kecil, lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Pemandangan ini dahulu menjadi hal yang lazim di halaman rumah atau di atas para-para bambu.

Kegiatan menjemur dan mengolah singkong sering kali dilakukan bersama-sama oleh anggota keluarga. Setelah kering, singkong ditumbuk menggunakan lesung dan alu hingga menjadi tepung dengan tekstur yang tidak terlalu halus. Justru butiran kasar inilah yang memberi karakter khas pada pumpuk.

Tepung tersebut kemudian dicampur dengan kelapa parut dan garam, diaduk hingga merata, lalu dimasukkan ke dalam loyang untuk dikukus. Pengukusan dilakukan menggunakan alat sederhana di atas tungku dapur. Setelah matang, adonan mengeras dan dipotong-potong sebelum disajikan.

Dalam keseharian, pumpuk bukanlah makanan istimewa. Ia lebih sering hadir sebagai bekal sederhana bagi mereka yang pergi ke ladang, melaut, atau menjalani aktivitas harian. Selain mengenyangkan, pumpuk juga cukup tahan lama, bisa dikonsumsi hingga dua atau tiga hari tanpa mudah basi.

Namun saat Lebaran, kehadiran pumpuk menghadirkan nuansa yang berbeda. Setelah salat Id dan berkunjung ke rumah kerabat, orang-orang biasanya berkumpul di beranda sambil menikmati kopi atau teh hangat. Di momen seperti inilah pumpuk kerap hadir sebagai teman sederhana yang menemani percakapan.

Disajikan tanpa tambahan apa pun, pumpuk menghadirkan rasa gurih yang lembut dari kelapa.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Kata Netizen
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kata Netizen
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Kata Netizen
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Kata Netizen
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Kata Netizen
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Kata Netizen
Fenomena 'Book Shaming' dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Fenomena "Book Shaming" dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Kata Netizen
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Kata Netizen
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Kata Netizen
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Kata Netizen
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Kata Netizen
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau