
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagi mereka yang tumbuh bersama makanan ini, rasa tersebut membawa kembali kenangan yang hangat tentang keluarga, tentang rumah, dan tentang kebersamaan yang sederhana.
Di tengah meja yang dipenuhi berbagai hidangan Lebaran, pumpuk seolah menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan. Ada masa ketika hari raya dirayakan dengan hidangan yang sederhana, tetapi penuh makna.
Seiring waktu, keberadaan pumpuk mulai jarang ditemui. Proses pembuatannya yang panjang membuat banyak keluarga beralih ke pilihan yang lebih praktis. Generasi muda pun tidak semuanya mengenal makanan ini, bahkan mungkin belum pernah mencicipinya.
Padahal, di balik kesederhanaannya, pumpuk menyimpan cerita tentang cara hidup masyarakat masa lalu tentang bagaimana mereka memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, tentang kebersamaan di dapur, serta tentang nilai-nilai yang diwariskan tanpa banyak kata.
Dalam konteks Lebaran, pumpuk mengajarkan bahwa hari raya bukan semata tentang apa yang tersaji di meja, tetapi tentang makna kebersamaan dan rasa syukur yang menyertainya.
Mengenang kembali makanan seperti pumpuk bukan hanya soal nostalgia. Ia adalah cara untuk menjaga ingatan kolektif tentang kehidupan kampung yang sederhana namun hangat. Tentang dapur yang selalu hidup, tentang keluarga yang berkumpul, dan tentang rasa yang tidak lekang oleh waktu.
Selama kisahnya masih diceritakan, pumpuk tidak benar-benar hilang. Ia tetap hidup sebagai jejak rasa dari dapur kampung Belitung sebuah pengingat bahwa dalam kesederhanaan, selalu ada kehangatan yang layak dirawat.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pumpuk, Jejak Rasa dari Dapur Kampung Belitung"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang