
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di tengah ragam hidangan Lebaran yang semakin beragam dan modern, masihkah ada ruang untuk makanan sederhana yang menyimpan kenangan, seperti pumpuk dari dapur kampung Belitung?
Pada pagi hari Lebaran di kampung-kampung Belitung di masa lalu, suasana dapur kerap masih hidup sejak dini hari.
Ketupat tergantung rapi di sudut ruangan, kuah gulai dipanaskan kembali, dan tamu mulai berdatangan satu per satu.
Di antara beragam hidangan yang tersaji, sesekali tampak kue sederhana berwarna pucat dengan permukaan yang tidak sepenuhnya halus. Kue itu dikenal dengan nama pumpuk.
Pumpuk bukanlah sajian yang mencolok. Ia tidak dihias dengan taburan gula atau warna-warni seperti kue Lebaran masa kini. Bentuknya sederhana, pipih, dan terbuat dari bahan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: tepung singkong dan kelapa.
Namun justru dalam kesederhanaannya, pumpuk menyimpan makna yang lebih dalam. Bagi banyak orang di kampung-kampung Belitung, makanan ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan bagian dari ingatan tentang rumah, dapur, dan kebersamaan keluarga.
Secara fisik, pumpuk berbentuk pipih dengan ketebalan sekitar dua sentimeter. Teksturnya cenderung kering dan sedikit remah, menyerupai kue singkong kukus yang tidak terlalu lembap. Bahan utamanya pun sederhana: tepung singkong tradisional yang dikenal sebagai tepong rap menggale, kelapa parut setengah tua, serta sedikit garam.
Kesederhanaan ini mencerminkan cara hidup masyarakat Belitung di masa lalu yang sangat bergantung pada alam. Singkong menjadi salah satu sumber pangan utama karena mudah tumbuh di tanah berpasir dan tidak membutuhkan perawatan rumit. Dari bahan inilah lahir berbagai olahan makanan rumahan yang sederhana, tetapi mengenyangkan.
Sebelum menjadi pumpuk, singkong diolah terlebih dahulu menjadi tepung rap menggale. Prosesnya cukup panjang.
Singkong yang telah dikupas dipotong kecil-kecil, lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Pemandangan ini dahulu menjadi hal yang lazim di halaman rumah atau di atas para-para bambu.
Kegiatan menjemur dan mengolah singkong sering kali dilakukan bersama-sama oleh anggota keluarga. Setelah kering, singkong ditumbuk menggunakan lesung dan alu hingga menjadi tepung dengan tekstur yang tidak terlalu halus. Justru butiran kasar inilah yang memberi karakter khas pada pumpuk.
Tepung tersebut kemudian dicampur dengan kelapa parut dan garam, diaduk hingga merata, lalu dimasukkan ke dalam loyang untuk dikukus. Pengukusan dilakukan menggunakan alat sederhana di atas tungku dapur. Setelah matang, adonan mengeras dan dipotong-potong sebelum disajikan.
Dalam keseharian, pumpuk bukanlah makanan istimewa. Ia lebih sering hadir sebagai bekal sederhana bagi mereka yang pergi ke ladang, melaut, atau menjalani aktivitas harian. Selain mengenyangkan, pumpuk juga cukup tahan lama, bisa dikonsumsi hingga dua atau tiga hari tanpa mudah basi.
Namun saat Lebaran, kehadiran pumpuk menghadirkan nuansa yang berbeda. Setelah salat Id dan berkunjung ke rumah kerabat, orang-orang biasanya berkumpul di beranda sambil menikmati kopi atau teh hangat. Di momen seperti inilah pumpuk kerap hadir sebagai teman sederhana yang menemani percakapan.
Disajikan tanpa tambahan apa pun, pumpuk menghadirkan rasa gurih yang lembut dari kelapa.
Bagi mereka yang tumbuh bersama makanan ini, rasa tersebut membawa kembali kenangan yang hangat tentang keluarga, tentang rumah, dan tentang kebersamaan yang sederhana.
Di tengah meja yang dipenuhi berbagai hidangan Lebaran, pumpuk seolah menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan. Ada masa ketika hari raya dirayakan dengan hidangan yang sederhana, tetapi penuh makna.
Seiring waktu, keberadaan pumpuk mulai jarang ditemui. Proses pembuatannya yang panjang membuat banyak keluarga beralih ke pilihan yang lebih praktis. Generasi muda pun tidak semuanya mengenal makanan ini, bahkan mungkin belum pernah mencicipinya.
Padahal, di balik kesederhanaannya, pumpuk menyimpan cerita tentang cara hidup masyarakat masa lalu tentang bagaimana mereka memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, tentang kebersamaan di dapur, serta tentang nilai-nilai yang diwariskan tanpa banyak kata.
Dalam konteks Lebaran, pumpuk mengajarkan bahwa hari raya bukan semata tentang apa yang tersaji di meja, tetapi tentang makna kebersamaan dan rasa syukur yang menyertainya.
Mengenang kembali makanan seperti pumpuk bukan hanya soal nostalgia. Ia adalah cara untuk menjaga ingatan kolektif tentang kehidupan kampung yang sederhana namun hangat. Tentang dapur yang selalu hidup, tentang keluarga yang berkumpul, dan tentang rasa yang tidak lekang oleh waktu.
Selama kisahnya masih diceritakan, pumpuk tidak benar-benar hilang. Ia tetap hidup sebagai jejak rasa dari dapur kampung Belitung sebuah pengingat bahwa dalam kesederhanaan, selalu ada kehangatan yang layak dirawat.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pumpuk, Jejak Rasa dari Dapur Kampung Belitung"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang