Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bambang Trim
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Bambang Trim adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Bikin Buku Ilmiah Memasyarakat, Bisa?

Kompas.com, 21 Mei 2025, 16:45 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Namun, saya hanya memberi materi hanya dalam tempo 30 menit sehingga terbatas sekali dibandingkan segudang masalah buku ilmiah yang harus disampaikan.

Titipan pesan dari Perpusnas RI sebenarnya bagaimana saya dapat menegaskan buku ilmiah seperti apa yang pantas diberi ISBN.

Ada banyak buku ilmiah yang sebenarnya tidak menunjukkan ciri sebuah buku. Beberapa buku dikonversi dari tesis/disertasi, tetapi hanya kulit luar yang berbeda, isinya plek ketiplek

Selain itu, ada juga persoalan sasaran penerbitan. Untuk hal ini, saya menyinggung dalam satu salindia pemikiran Chris Anderson (2006) tentang model grafik long tail dalam bisnis penerbitan buku ilmiah. Buku ilmiah cenderung berada pada ekor panjang yang menunjukkan objek kurang populer, bahkan samar-samar.

Hal itu harus dipahami hingga pada batas tiras produksi berapa sebuah buku layak diberi ISBN atau apakah ia menggunakan opsi open access dalam bentuk buku elektronik?

Kekacauan pemahaman juga terjadi pada ciri buku ilmiah dibandingkan jenisnya. Ada beberapa jenis buku ilmiah, yaitu buku ajar (dikonversi dari RPS), buku teks (menggunakan struktur keilmuan untuk pasar lebih luas), monografi riset (menggunakan topik ceruk/narrow scope), dan buku ilmiah populer---Dikti menyebutnya buku referensi (menggunakan topik meluas/board scope).

Ciri setiap buku itu tidak jelas pada banyak buku panduan penulisan buku ilmiah yang dikeluarkan oleh pemerintah atau kampus. 

Saya lebih suka menggunakan panduan dari BRIN dan berdiskusi dengan teman-teman BRIN karena beberapanya lulusan dari ilmu penerbitan dan ilmu perpustakaan yang memahami hakikat buku.

Ciri dan sifat buku sudah mengalami pergeseran untuk masa kini sehingga definisi dan ciri yang dibuat UNESCO pada 1964 sudah tidak relevan lagi.

Sebagai contoh soal ketebalan buku yang layak disebut buku atau buku ilmiah. UNESCO membuat batasan lebih dari 49 halaman;

Dikti di dalam POPAK 2019 membuat batasan minimal 60 halaman; BRIN dalam Program Akuisisi Pengetahuan Lokal membuat batasan minimal 90 halaman.

Memang tidak ada standar baku untuk ketebalan halaman buku dan format halaman buku harus kelipatan 8/16 juga sudah tidak berlaku setelah adanya buku elektronik.

Soal ketebalan itu bagi saya urusan soal kedalaman materi yang dihubungkan dengan pembaca sasaran.

Penulis dapat menimbang-nimbang seberapa luas dan seberapa dalam ia hendak menyampaikan hasil penelitian, pengembangan, dan pemikirannya di dalam sebuah buku. Ia kini menghadapi pembaca sasaran dari empat generasi: Baby Boomers, Gen-X, Gen-Y (milenial), dan Gen-Z. 

Buku ajar kini akan banyak dikonsumsi Gen-Z dan Gen-Y menyusul. Buku teks akan banyak dikonsumsi Gen-Y, Gen-X, dan menyusul Baby Boomers.

Monografi riset hampir sama dengan buku teks. Buku ilmiah populer sangat mungkin dibaca oleh empat generasi.

Maka dari itu, penulis buku ilmiah kini harus menyesuaikan materi, gaya penulisan, dan kebutuhan pembaca lintas generasi, apalagi jika menulis buku ajar yang harus berhadapan dengan Gen-Z---masalah terbesar kita menghadapi sebagian besar generasi yang kurang literat dan malas membaca buku.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Buku Ilmiah yang (Tidak) Memasyarakat"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau