
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ekspektasi vs. Realita
Bila kita lihat lebih dalam, ini bukan cuma soal angka. Ini soal ekspektasi hidup yang ditanamkan oleh lingkungan, budaya, atau bahkan tontonan sehari-hari.
Berapa persen sih pria di Indonesia yang penghasilannya segitu? Apa ini standar buat pria-pria level Sultan Andara, atau buat pria biasa, seperti saya?
Angka yang disebut sering kali tidak datang dari pengalaman pribadi, tapi dari imajinasi. "Kalau gajinya Rp50 juta sebulan, pasti hidup enak," misalnya.
Influencer yang kerap flexing gaya hidup mewah di medsos, atau cerita-cerita sukses yang instan juga turut mempengaruhi. Jadinya banyak orang bikin standar pasangan dari gambaran ideal ini, bukan dari realitas ekonomi di sekitar mereka.
Mungkin, masalahnya bukan di nominalnya. Tapi di komunikasi dan kesepahaman. Ekspektasi itu penting, tapi tidak semua orang bakal sepakat dengan standar kita.
Kenapa Ini Selalu Jadi Topik Panas?
Saya rasa, salah satu alasannya karena gaji sudah jadi semacam simbol kemampuan pria buat melindungi dan menyediakan. Tapi apa cuma itu yang penting?
Masih ada nilai-nilai lain seperti kesetiaan, tanggung jawab, atau tahu caranya benerin komputer yang rusak. Tapi topik seperti ini memang gampang bikin orang ribut, karena banyak yang merasa kena langsung.
Dari sisi perempuan, saya mengerti kalau mereka punya kekhawatiran soal masa depan. Siapa sih yang mau hidup susah?
Tapi buat pria, pertanyaan begini bisa jadi tekanan. Bisa dibayangkan, seberapa besar tekanan untuk memenuhi standar itu? Pria bukan cuma harus kerja keras, tapi juga harus sesuai standar yang tidak semua orang bisa penuhi.
Refleksi dari Seorang Pria Biasa
Tapi yang jelas, konten seperti ini memberi saya perspektif soal bagaimana orang berbeda-beda dalam mendefinisikan kata "cukup." Ada yang mencari "partner hidup", dan ada yang mencari "penyedia hidup." Semuanya kembali lagi ke preferensi masing-masing.
Sebab standar hidup itu relatif. Ada yang happy dengan gaji 5 juta, ada juga yang merasa 50 juta masih kurang.
Kalau kamu perempuan yang ingin dapat suami bergaji tinggi, ya silakan. Tapi siap-siap aja bersaing dengan perempuan lain yang mungkin lebih cantik/pintar/berkelas.
Kalau kamu pria yang merasa ekspektasi perempuan sekarang kebangetan, ya mungkin kamu belum ketemu yang cocok. Atau... mungkin memang waktunya upgrade skill biar gaji naik?
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Konten "Berapa Ekspektasi Gaji Calon Suami?" dari Perspektif Seorang Pria Biasa"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang