Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rully Novrianto
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

POV Pria Biasa, "Berapa Ekspektasi Gaji Calon Suami?"

Kompas.com, 23 Mei 2025, 17:49 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Kamu pasti pernah melihat konten-konten di Instagram atau TikTok yang isinya wawancara singkat dengan perempuan yang ditanya, "Berapa ekspektasi gaji calon suami?"

Jawabannya beragam, dari yang realistis hingga fantastis. Ada yang bilang UMR juga cukup kok, yang penting bertanggung jawab dan sayang keluarga". Tetapi ada juga yang ngegas, "Minimal 50 juta lah, biar bisa hidup enak di Jakarta". 

Saya yang cuma pria biasa dan belum menikah, cuma bisa geleng-geleng kepala sambil mikir, "Ini seriusan atau setting-an sih?" 

Kolom Komentar yang Menghibur 

Buat saya, yang paling seru dari konten seperti ini adalah kolom komentarnya. Dijamin akan ada komentar dari dua kubu yang siap tarung sampai keyboard-nya rusak dan kuotanya habis. Yang pria pada emosi, yang perempuan pada ngotot.

Kubu Pria: 

"Wkwkwk mimpi kali mau dapet suami yang gajinya 50 juta. Muka lo aja cuma 5 juta, kredit lagi." 

"Nanti juga nikahnya sama tukang tipu-tipu yang ngaku direktur." 

"Kalo gue gajinya segitu, ceweknya minimal harus kayak model video klip dong." 

Kubu Perempuan: 

"Kalau nggak mampu ya jangan ngemis-ngemis nikah. Kasian anaknya entar makan indomie seumur hidup." 

"Standar hidup beda-beda, jangan marah cuma karena lo nggak sanggup." 

"Cowok kayak gini mah biasa insecure, soalnya karirnya mentok."

Lucu sih bacanya, tapi siapa yang benar di sini? Debatnya seru, tapi ujung-ujungnya nggak ada yang menang. Karena sebenarnya... nggak ada jawaban mutlak. 

Pria merasa dihakimi: "Duh, saya kerja keras tapi tetap aja dianggap nggak cukup."
Perempuan merasa tidak dihargai: "Masa saya harus hidup susah cuma demi dibilang setia?"

Ekspektasi vs. Realita

Bila kita lihat lebih dalam, ini bukan cuma soal angka. Ini soal ekspektasi hidup yang ditanamkan oleh lingkungan, budaya, atau bahkan tontonan sehari-hari.

Berapa persen sih pria di Indonesia yang penghasilannya segitu? Apa ini standar buat pria-pria level Sultan Andara, atau buat pria biasa, seperti saya?

Angka yang disebut sering kali tidak datang dari pengalaman pribadi, tapi dari imajinasi. "Kalau gajinya Rp50 juta sebulan, pasti hidup enak," misalnya.

Influencer yang kerap flexing gaya hidup mewah di medsos, atau cerita-cerita sukses yang instan juga turut mempengaruhi. Jadinya banyak orang bikin standar pasangan dari gambaran ideal ini, bukan dari realitas ekonomi di sekitar mereka.

Mungkin, masalahnya bukan di nominalnya. Tapi di komunikasi dan kesepahaman. Ekspektasi itu penting, tapi tidak semua orang bakal sepakat dengan standar kita.

Kenapa Ini Selalu Jadi Topik Panas?

Saya rasa, salah satu alasannya karena gaji sudah jadi semacam simbol kemampuan pria buat melindungi dan menyediakan. Tapi apa cuma itu yang penting?

Masih ada nilai-nilai lain seperti kesetiaan, tanggung jawab, atau tahu caranya benerin komputer yang rusak. Tapi topik seperti ini memang gampang bikin orang ribut, karena banyak yang merasa kena langsung.

Dari sisi perempuan, saya mengerti kalau mereka punya kekhawatiran soal masa depan. Siapa sih yang mau hidup susah?

Tapi buat pria, pertanyaan begini bisa jadi tekanan. Bisa dibayangkan, seberapa besar tekanan untuk memenuhi standar itu? Pria bukan cuma harus kerja keras, tapi juga harus sesuai standar yang tidak semua orang bisa penuhi. 

Refleksi dari Seorang Pria Biasa

Sebagai pria, saya deg-degan jika seandainya suatu hari nanti ketemu seorang konten kreator di jalan, dan ditanya soal penghasilan di depan kamera buat dijadikan konten.

Apa saya bakal jawab jujur, atau bikin standar ngawur biar kontennya jadi viral dan dihujat netizen se-Indonesia?

Tapi yang jelas, konten seperti ini memberi saya perspektif soal bagaimana orang berbeda-beda dalam mendefinisikan kata "cukup." Ada yang mencari "partner hidup", dan ada yang mencari "penyedia hidup." Semuanya kembali lagi ke preferensi masing-masing.

Sebab standar hidup itu relatif. Ada yang happy dengan gaji 5 juta, ada juga yang merasa 50 juta masih kurang.

Kalau kamu perempuan yang ingin dapat suami bergaji tinggi, ya silakan. Tapi siap-siap aja bersaing dengan perempuan lain yang mungkin lebih cantik/pintar/berkelas. 

Kalau kamu pria yang merasa ekspektasi perempuan sekarang kebangetan, ya mungkin kamu belum ketemu yang cocok. Atau... mungkin memang waktunya upgrade skill biar gaji naik? 

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Konten "Berapa Ekspektasi Gaji Calon Suami?" dari Perspektif Seorang Pria Biasa"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Pujian Sederhana Mengubah Rasa Percaya Diri Siswa
Pujian Sederhana Mengubah Rasa Percaya Diri Siswa
Kata Netizen
Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah
Perjalanan Panjang Menjemput Panggilan ke Baitullah
Kata Netizen
Ruang Hijau Kecil Menghadirkan 'Kehidupan Baru' di Rumah
Ruang Hijau Kecil Menghadirkan "Kehidupan Baru" di Rumah
Kata Netizen
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Kata Netizen
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Kata Netizen
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Kata Netizen
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau