
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika ruang tamu makin jarang didatangi dan pertemuan lebih sering berpindah ke warung kopi, apakah yang sebenarnya berubah: cara kita bertamu, cara kita menjaga privasi, atau cara kita membangun kedekatan?
Salah satu perubahan paling terasa dalam dua dekade terakhir adalah cara kita melakukan anjangsana.
Kalau di kota-kota besar, ruang tamu di banyak rumah kini lebih mirip museum. Rapi, dingin, nyaris tak tersentuh, dan jarang menerima tamu. Kehadiran orang lain di ruang itu menjadi peristiwa khusus, mungkin hanya saat hari raya atau acara keluarga besar.
Selebihnya, sofa empuk dan meja tamu menjadi saksi debu yang menempel pelan. Ada yang mengalihfungsikannya sebagai ruang keluarga, ada pula yang membiarkannya sekadar menjadi etalase rumah.
Penyebabnya berlapis: ritme kerja yang padat, komunikasi digital yang serba cepat, hingga kelelahan urban yang membuat interaksi tatap muka terasa mahal.
Pengalaman saya selama hampir setahun tinggal di Flores justru menghadirkan kontras yang kuat.
Pada banyak wilayah pedesaan Flores, tradisi menerima tamu masih hidup dan bernapas. Bertamu adalah hal biasa, bahkan dianggap kewajiban sosial. Simbol penerimaannya sederhana, tetapi bermakna: secangkir kopi atau teh.
Di sana, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah tanda keterbukaan, undangan untuk berbincang, dan bentuk penghormatan kepada tamu. Sebuah “kontrak sosial” yang tidak tertulis, tetapi dipahami bersama.
Perbandingan ini memberi isyarat penting bagi kita yang hidup di kota besar. Bisa jadi, menjamurnya warung kopi telah secara perlahan menggeser makna anjangsana. Kita tidak lagi mengunjungi orangnya, melainkan memilih tempatnya.
Infrastruktur yang Membentuk Perilaku
Ada pandangan sosiologis yang menyebut bahwa ruang dan infrastruktur ikut membentuk perilaku manusia.
Kehadiran warung kopi di hampir setiap sudut kota menyediakan “ruang netral” untuk bertemu. Di sinilah pergeseran itu terjadi dengan halus.
Di kafe, relasi diatur oleh transaksi. Ada harga yang harus dibayar, ada etika tak tertulis soal siapa membayar siapa. Jika pertemuan bersifat santai, split bill dianggap adil.
Jika ada kepentingan tertentu, satu pihak akan mengambil alih tagihan sebagai bagian dari strategi sosial.
Situasi ini sangat berbeda dengan jamuan di ruang tamu. Di rumah, kopi disuguhkan tanpa kalkulasi. Ia adalah ekspresi keramahan, tanpa struk, tanpa batas waktu. Tuan rumah hadir sebagai penyambut, bukan sebagai penyedia jasa.