Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nurul Rahmawati
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Nurul Rahmawati adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan

Kompas.com, 9 Februari 2026, 15:59 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Padahal, benarkah kita tahu apa yang ada di hatinya? Apakah mengundang mantan selalu berarti pamer kebahagiaan di atas luka orang lain?

Mengundang mantan ke pernikahan sejatinya bukan perkara ringan. Dibutuhkan keberanian besar atau mungkin kenekatan terutama jika hubungan di masa lalu kandas bukan karena hilangnya rasa, melainkan karena faktor eksternal seperti restu keluarga.

Saat itu, saya sendiri diliputi kebimbangan. Haruskah undangan tetap dikirim, atau lebih baik tidak?

Ibu, dengan nada datar, berkata, “Kirim saja. Biar dia datang bersama teman-teman kantornya. Supaya tidak menyimpan harapan lagi.”

Undangan pun terkirim. Tak lama kemudian, pesan-pesan datang—campuran antara ucapan selamat dan ketidakpercayaan atas keputusan menikah yang terasa begitu cepat.

Saya selalu menaruh hormat pada mereka yang memilih datang ke pernikahan mantan. Termasuk Mas N, yang hadir bersama rekan-rekan satu kantornya. Senyumnya tak selebar dulu, tetapi cukup untuk menunjukkan itikad baik.

Ia naik ke pelaminan, menjabat tangan kami, dan mengucapkan selamat dengan tenang. Ia juga menyapa ibu saya—yang dulu tidak menyetujui hubungan kami—dengan sikap yang tetap sopan. Barangkali hatinya masih menyimpan ganjalan, tetapi ia memilih bersikap dewasa.

Saya bisa membayangkan candaan teman-temannya, upaya menghibur dengan cara mereka sendiri. Di titik itu, kehadiran Mas N terasa bukan sebagai gangguan, melainkan penutup satu bab kehidupan yang pernah penting.

Dua puluh tahun berlalu, memori itu kembali terbuka karena sebuah lagu. Mantan, bagaimanapun, adalah bagian dari masa lalu yang turut membentuk diri kita hari ini. Perpisahan yang baik tidak selalu berarti tanpa rasa sakit, tetapi memberi ruang agar luka tidak menetap terlalu lama.

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk pulih. Mas N, misalnya, menemukan pelariannya lewat maraton. Berlari jauh membantunya melepas gundah, hingga akhirnya ia bertemu pasangan hidup yang sefrekuensi dengannya.

Begitulah hidup bekerja dengan caranya sendiri. Jalan takdir jarang lurus, sering berbelok, dan penuh kejutan. Jodoh, rezeki, dan perpisahan adalah bagian dari misteri yang kita jalani sambil belajar menerima.

Pada akhirnya, mengundang atau tidak mengundang mantan ke pernikahan bukan soal benar atau salah. Ia adalah soal kesiapan hati, empati, dan kejujuran pada diri sendiri.

Sebab kedewasaan bukan hanya tentang melangkah maju, tetapi juga tentang berdamai dengan masa lalu tanpa harus menyakiti siapa pun, termasuk diri kita sendiri.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Perlukah Mengundang Mantan Datang ke Kawinan Kita?"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau