
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Padahal, benarkah kita tahu apa yang ada di hatinya? Apakah mengundang mantan selalu berarti pamer kebahagiaan di atas luka orang lain?
Mengundang mantan ke pernikahan sejatinya bukan perkara ringan. Dibutuhkan keberanian besar atau mungkin kenekatan terutama jika hubungan di masa lalu kandas bukan karena hilangnya rasa, melainkan karena faktor eksternal seperti restu keluarga.
Saat itu, saya sendiri diliputi kebimbangan. Haruskah undangan tetap dikirim, atau lebih baik tidak?
Ibu, dengan nada datar, berkata, “Kirim saja. Biar dia datang bersama teman-teman kantornya. Supaya tidak menyimpan harapan lagi.”
Undangan pun terkirim. Tak lama kemudian, pesan-pesan datang—campuran antara ucapan selamat dan ketidakpercayaan atas keputusan menikah yang terasa begitu cepat.
Saya selalu menaruh hormat pada mereka yang memilih datang ke pernikahan mantan. Termasuk Mas N, yang hadir bersama rekan-rekan satu kantornya. Senyumnya tak selebar dulu, tetapi cukup untuk menunjukkan itikad baik.
Ia naik ke pelaminan, menjabat tangan kami, dan mengucapkan selamat dengan tenang. Ia juga menyapa ibu saya—yang dulu tidak menyetujui hubungan kami—dengan sikap yang tetap sopan. Barangkali hatinya masih menyimpan ganjalan, tetapi ia memilih bersikap dewasa.
Saya bisa membayangkan candaan teman-temannya, upaya menghibur dengan cara mereka sendiri. Di titik itu, kehadiran Mas N terasa bukan sebagai gangguan, melainkan penutup satu bab kehidupan yang pernah penting.
Dua puluh tahun berlalu, memori itu kembali terbuka karena sebuah lagu. Mantan, bagaimanapun, adalah bagian dari masa lalu yang turut membentuk diri kita hari ini. Perpisahan yang baik tidak selalu berarti tanpa rasa sakit, tetapi memberi ruang agar luka tidak menetap terlalu lama.
Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk pulih. Mas N, misalnya, menemukan pelariannya lewat maraton. Berlari jauh membantunya melepas gundah, hingga akhirnya ia bertemu pasangan hidup yang sefrekuensi dengannya.
Begitulah hidup bekerja dengan caranya sendiri. Jalan takdir jarang lurus, sering berbelok, dan penuh kejutan. Jodoh, rezeki, dan perpisahan adalah bagian dari misteri yang kita jalani sambil belajar menerima.
Pada akhirnya, mengundang atau tidak mengundang mantan ke pernikahan bukan soal benar atau salah. Ia adalah soal kesiapan hati, empati, dan kejujuran pada diri sendiri.
Sebab kedewasaan bukan hanya tentang melangkah maju, tetapi juga tentang berdamai dengan masa lalu tanpa harus menyakiti siapa pun, termasuk diri kita sendiri.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Perlukah Mengundang Mantan Datang ke Kawinan Kita?"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang