
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah mungkin kualitas literasi dan numerasi kita yang kerap tertinggal bukan semata soal kurikulum atau kemampuan siswa, melainkan juga tentang cara kita menilai dan membangun fondasi belajar di kelas?
Sejak sepekan terakhir, saya melakukan perubahan dalam metode penilaian. Jika sebelumnya saya menggunakan aplikasi evaluasi daring dengan soal pilihan ganda, kini saya kembali pada penilaian lisan.
Keputusan ini tentu bukan tanpa pertimbangan. Penilaian lisan membutuhkan waktu dan energi lebih besar. Namun, di balik kelelahan itu, saya menemukan sesuatu yang terasa lebih jujur dan autentik.
Kegelisahan saya bermula dari pengalaman pada penilaian daring sebelumnya. Belum sampai sepuluh menit, seluruh soal telah dijawab dengan tingkat akurasi mendekati sempurna.
Padahal, soal-soal tersebut dirancang berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) yang menuntut analisis.
Sebagai guru yang setiap hari mendampingi mereka di kelas, saya cukup memahami profil kemampuan masing-masing siswa.
Hasil yang terlalu sempurna justru menimbulkan tanda tanya. Bahkan, siswa yang selama ini aktif dan fokus dalam pembelajaran justru memperoleh nilai lebih rendah dibandingkan mereka yang tampak kurang serius saat belajar.
Di titik itulah saya mulai merefleksikan: barangkali persoalannya bukan semata pada materi, melainkan pada pendekatan penilaian yang saya gunakan.
Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali pada metode yang lebih konvensional: penilaian lisan.
Siswa maju satu per satu, saya mengajukan pertanyaan, dan mereka menjawab secara langsung. Prosesnya memang tidak secepat penilaian daring, tetapi lebih mampu menggambarkan kemampuan yang sesungguhnya.
Menjaga Autentisitas
Perubahan ini tidak saya lakukan secara spontan. Saya sempat bertanya pada diri sendiri: apakah materi yang saya sampaikan terlalu mudah? Apakah soal yang saya susun kurang menantang? Ataukah ada kemungkinan soal tersebut tersebar lebih awal?
Di era perkembangan teknologi yang sangat cepat, berbagai kemungkinan memang terbuka. Soal bisa saja dibagikan sebelum waktunya atau dipindai untuk memperoleh jawaban secara instan.
Namun, saya memilih untuk tidak terjebak dalam prasangka terhadap siswa. Fokus saya adalah memperbaiki pendekatan penilaian.
Penilaian lisan mungkin dianggap kurang praktis dan tidak sepenuhnya sejalan dengan tren digitalisasi pendidikan. Namun, justru dalam interaksi langsung itulah terjaga autentisitas proses belajar.