Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Junjung Widagdo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Junjung Widagdo adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan

Kompas.com, 22 Februari 2026, 11:43 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Dalam penilaian tertulis berbentuk pilihan ganda, peluang untuk menebak masih ada. Siswa bisa memilih secara acak, mengikuti intuisi, atau terpengaruh jawaban teman.

Pada penilaian lisan, ruang tersebut hampir tidak tersedia. Interaksi berlangsung secara personal antara guru dan siswa.

Saya menyadari metode ini menuntut alokasi waktu lebih panjang. Dalam tiga jam pelajaran, saya hanya dapat menilai sekitar separuh dari 36 siswa. Artinya, diperlukan setidaknya dua pertemuan untuk menuntaskan seluruh proses.

Namun, kepuasan yang saya rasakan sebanding dengan usaha tersebut. Hasilnya memang bervariasi, dari 0 hingga 100, tetapi angka-angka itu terasa lebih merefleksikan pemahaman yang sebenarnya.

Tidak ada ruang untuk menebak atau bergantung pada bantuan luar. Siswa hanya bisa menjawab sesuai dengan kesiapan mereka.

Menariknya, beberapa siswa tampak tersentuh ketika menyadari kurangnya persiapan mereka. Momen itu menunjukkan bahwa penilaian bukan sekadar mengukur hasil, melainkan juga sarana refleksi dan pembelajaran.

Bagi saya, penilaian lisan menjadi salah satu instrumen efektif untuk membaca sejauh mana pemahaman siswa berkembang.

Fondasi Analitis

Penilaian lisan yang saya terapkan bertumpu pada satu fondasi penting: ingatan atau hafalan. Dalam beberapa tahun terakhir, praktik menghafal sering dipandang sebagai pendekatan lama yang kurang relevan. Padahal, mengingat merupakan pintu awal untuk memahami.

Pada masa sekolah dasar di tahun 1990-an, hafalan adalah bagian yang lumrah dalam proses belajar.

Kami menghafal perkalian, pembagian, akar, dan pangkat dalam matematika. Kami juga menghafal butir-butir Pancasila, Pembukaan UUD 1945, hingga nama-nama menteri kabinet. Menyetorkan hafalan di depan kelas adalah pengalaman yang biasa.

Kini, praktik tersebut semakin jarang ditemui. Pendidikan bergerak menuju pembelajaran yang menyenangkan, terintegrasi teknologi, dan menekankan analisis tingkat tinggi. Semua itu tentu penting dan patut diapresiasi.

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa kemampuan analitis tidak berdiri sendiri. Ia dibangun di atas pengetahuan yang tersimpan kuat dalam ingatan. Tanpa fondasi yang kokoh, analisis menjadi rapuh.

Di ruang publik, kerap muncul contoh siswa yang kesulitan melakukan operasi hitung dasar atau tidak mengetahui informasi geografis sederhana. Fenomena ini tentu tidak dapat digeneralisasi, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa fondasi pengetahuan tetap penting.

Rasanya kurang tepat jika menyalahkan siswa semata. Bisa jadi, kita para pendidik juga secara perlahan mengurangi porsi latihan dasar, karena merasa nilai tinggi pada penilaian pilihan ganda sudah cukup mewakili keberhasilan belajar.

Bagi saya, hafalan bukan tujuan akhir, melainkan landasan. Hafalan yang kuat melahirkan pemahaman. Pemahaman memungkinkan analisis. Dan analisis pada akhirnya menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Barangkali refleksi ini perlu kita renungkan bersama. Jangan sampai dalam semangat mengikuti perubahan zaman, kita terlalu cepat meninggalkan fondasi yang justru menopang kualitas literasi dan numerasi generasi mendatang.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Saya Kembali ke Ulangan Lisan"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau