
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Dalam penilaian tertulis berbentuk pilihan ganda, peluang untuk menebak masih ada. Siswa bisa memilih secara acak, mengikuti intuisi, atau terpengaruh jawaban teman.
Pada penilaian lisan, ruang tersebut hampir tidak tersedia. Interaksi berlangsung secara personal antara guru dan siswa.
Saya menyadari metode ini menuntut alokasi waktu lebih panjang. Dalam tiga jam pelajaran, saya hanya dapat menilai sekitar separuh dari 36 siswa. Artinya, diperlukan setidaknya dua pertemuan untuk menuntaskan seluruh proses.
Namun, kepuasan yang saya rasakan sebanding dengan usaha tersebut. Hasilnya memang bervariasi, dari 0 hingga 100, tetapi angka-angka itu terasa lebih merefleksikan pemahaman yang sebenarnya.
Tidak ada ruang untuk menebak atau bergantung pada bantuan luar. Siswa hanya bisa menjawab sesuai dengan kesiapan mereka.
Menariknya, beberapa siswa tampak tersentuh ketika menyadari kurangnya persiapan mereka. Momen itu menunjukkan bahwa penilaian bukan sekadar mengukur hasil, melainkan juga sarana refleksi dan pembelajaran.
Bagi saya, penilaian lisan menjadi salah satu instrumen efektif untuk membaca sejauh mana pemahaman siswa berkembang.
Fondasi Analitis
Penilaian lisan yang saya terapkan bertumpu pada satu fondasi penting: ingatan atau hafalan. Dalam beberapa tahun terakhir, praktik menghafal sering dipandang sebagai pendekatan lama yang kurang relevan. Padahal, mengingat merupakan pintu awal untuk memahami.
Pada masa sekolah dasar di tahun 1990-an, hafalan adalah bagian yang lumrah dalam proses belajar.
Kami menghafal perkalian, pembagian, akar, dan pangkat dalam matematika. Kami juga menghafal butir-butir Pancasila, Pembukaan UUD 1945, hingga nama-nama menteri kabinet. Menyetorkan hafalan di depan kelas adalah pengalaman yang biasa.
Kini, praktik tersebut semakin jarang ditemui. Pendidikan bergerak menuju pembelajaran yang menyenangkan, terintegrasi teknologi, dan menekankan analisis tingkat tinggi. Semua itu tentu penting dan patut diapresiasi.
Namun, kita juga perlu menyadari bahwa kemampuan analitis tidak berdiri sendiri. Ia dibangun di atas pengetahuan yang tersimpan kuat dalam ingatan. Tanpa fondasi yang kokoh, analisis menjadi rapuh.
Di ruang publik, kerap muncul contoh siswa yang kesulitan melakukan operasi hitung dasar atau tidak mengetahui informasi geografis sederhana. Fenomena ini tentu tidak dapat digeneralisasi, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa fondasi pengetahuan tetap penting.
Rasanya kurang tepat jika menyalahkan siswa semata. Bisa jadi, kita para pendidik juga secara perlahan mengurangi porsi latihan dasar, karena merasa nilai tinggi pada penilaian pilihan ganda sudah cukup mewakili keberhasilan belajar.
Bagi saya, hafalan bukan tujuan akhir, melainkan landasan. Hafalan yang kuat melahirkan pemahaman. Pemahaman memungkinkan analisis. Dan analisis pada akhirnya menghadirkan pembelajaran yang bermakna.
Barangkali refleksi ini perlu kita renungkan bersama. Jangan sampai dalam semangat mengikuti perubahan zaman, kita terlalu cepat meninggalkan fondasi yang justru menopang kualitas literasi dan numerasi generasi mendatang.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Saya Kembali ke Ulangan Lisan"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang