
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Benarkah anak bungsu selalu lebih 'diuntungkan" di keluarga? Apa seorang anak bungsu hanya memiliki satu buku tambahan untuk dibaca dari kehidupan kakak-kakaknya?
“Anak bungsu melihat kegagalan kakak-kakaknya sebagai kompas, dan keberhasilan mereka sebagai standar.”
Dalam dinamika persaudaraan, ada anggapan yang cukup populer bahwa anak bungsu memiliki “waktu belajar” yang lebih panjang dibanding kakaknya. Jika dianalogikan, setidaknya si bungsu telah memiliki satu buku khusus yang bisa ia baca sejak kecil: kehidupan sang kakak.
Beberapa waktu lalu, saya sempat berhenti pada sebuah tayangan reels Instagram. Seorang konten kreator asal Indonesia, pria berusia 30an, duduk dengan gaya percaya diri sambil mengelompokkan buku-buku best seller ke dalam tiga kategori: Smarter, Wiser, dan Dumber.
Tentu setiap orang berhak menyampaikan pendapat. Namun yang menggelitik saya adalah kesan seolah-olah sebuah buku bisa sepenuhnya "membodohkan".
Benarkah tidak ada satu paragraf pun, bahkan dari buku yang kerap diperdebatkan seperti The Secret atau Law of Attraction, yang mampu memantik refleksi atau memberi sudut pandang baru bagi pembacanya?
Dari situ, pikiran saya berbelok pada topik yang lebih dekat dan lebih organik: bagaimana rasanya menjadi anak bungsu. Sama seperti perdebatan tentang buku tadi, setiap anak bungsu sesungguhnya telah diberi satu “buku gratis” sejak lahir—yakni perjalanan hidup kakaknya.
Buku itu mungkin penuh coretan kesalahan, keputusan yang kurang matang, atau kisah yang dinilai kurang ideal oleh orang tua.
Namun justru dari sanalah letak nilainya. Kegagalan sang kakak bisa menjadi kompas, sementara keberhasilannya menjadi standar yang ingin dicapai. Jika dimaknai dengan bijak, tidak ada fragmen kehidupan yang benar-benar membuat seseorang menjadi lebih bodoh.
Belajar dari Paragraf Hidup Orang Lain
Saya perlu jujur: saya bukan anak bungsu. Saya adalah anak sulung dengan satu adik kandung. Namun justru dari adik saya, saya melihat dengan lebih jelas bagaimana posisi “si pembaca buku” itu bekerja.
Ia pernah berkata singkat, “Aku tentu belajar dari pengalaman yang sudah kamu lalui.” Kalimat sederhana itu terasa dalam. Tanpa perlu banyak bertanya atau menginterogasi setiap langkah saya, ia mengamati.
Saat saya terjatuh karena keputusan yang tergesa-gesa, mungkin ia mencatatnya sebagai peringatan.
Saat saya berhasil melewati tantangan, barangkali ia menjadikannya referensi. Dalam paragraf hidup saya yang kadang terasa acak-acakan sekalipun, ia tetap menemukan pelajaran. Proses belajar yang sunyi ini membuatnya lebih cermat secara situasional karena tidak selalu harus jatuh di lubang yang sama untuk tahu bahwa lubang itu dalam.
Antara Proteksi dan Tuntutan "Jadilah Dewasa"