Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Padahal, jika diberi kesempatan melanjutkan ke S1, lulusan vokasi berpotensi menjadi kombinasi ideal antara kemampuan praktis dan landasan akademik. Ini adalah potensi yang besar, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Polemik yang belakangan muncul terkait penerima beasiswa LPDP sejatinya dapat menjadi momentum refleksi yang lebih luas.
Selama ini, diskusi publik sering berfokus pada kontribusi penerima setelah lulus atau komitmen terhadap negara. Hal tersebut memang penting, tetapi ada pertanyaan lain yang tak kalah relevan: siapa saja yang belum mendapatkan akses sejak awal?
Lulusan D3 menjadi salah satu jawabannya. Mereka bahkan belum sampai pada tahap “diperdebatkan”, karena akses menuju peluang tersebut masih terbatas.
Inilah yang membuat isu ini penting untuk diangkat—bukan untuk membandingkan, melainkan untuk melengkapi perspektif.
Jika berbicara tentang kontribusi terhadap negara, membuka akses pendidikan yang lebih luas juga merupakan investasi jangka panjang.
Lulusan D3 yang melanjutkan ke S1 berpotensi menjadi tenaga kerja yang lebih adaptif, kompeten, dan siap menghadapi tantangan global. Mereka tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki fondasi akademik yang lebih kokoh.
Selain itu, tidak dapat diabaikan bahwa banyak mahasiswa D3 berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Jalur vokasi sering dipilih karena lebih terjangkau dan menawarkan jalan lebih cepat ke dunia kerja.
Dalam konteks ini, membuka akses beasiswa bagi mereka bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan mobilitas ekonomi.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Perubahan tentu tidak harus terjadi secara instan. Namun, langkah awal dapat dimulai dengan menghadirkan skema beasiswa khusus untuk transisi D3 ke S1, program afirmasi bagi lulusan vokasi, atau memperluas cakupan beasiswa yang sudah ada agar lebih inklusif terhadap berbagai jalur pendidikan.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang siapa yang lebih berhak mendapatkan beasiswa.
Ini tentang bagaimana pendidikan dipandang sebagai hak yang semestinya dapat diakses oleh semua orang. Jika tujuan kita adalah membangun sumber daya manusia yang unggul, maka setiap jalur perlu diberi ruang yang adil untuk berkembang.
Lulusan D3 bukan kekurangan potensi, melainkan sering kali kekurangan kesempatan. Dan dalam banyak hal, yang dibutuhkan bukanlah perubahan besar, melainkan keberpihakan kecil yang konsisten.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Lulusan D3: Mengapa Jalan Kami Terasa Lebih Sempit?"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya