Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ari Sony
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Ari Sony adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?

Kompas.com, 29 Maret 2026, 20:56 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Padahal, jika diberi kesempatan melanjutkan ke S1, lulusan vokasi berpotensi menjadi kombinasi ideal antara kemampuan praktis dan landasan akademik. Ini adalah potensi yang besar, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Polemik yang belakangan muncul terkait penerima beasiswa LPDP sejatinya dapat menjadi momentum refleksi yang lebih luas.

Selama ini, diskusi publik sering berfokus pada kontribusi penerima setelah lulus atau komitmen terhadap negara. Hal tersebut memang penting, tetapi ada pertanyaan lain yang tak kalah relevan: siapa saja yang belum mendapatkan akses sejak awal?

Lulusan D3 menjadi salah satu jawabannya. Mereka bahkan belum sampai pada tahap “diperdebatkan”, karena akses menuju peluang tersebut masih terbatas.

Inilah yang membuat isu ini penting untuk diangkat—bukan untuk membandingkan, melainkan untuk melengkapi perspektif.

Jika berbicara tentang kontribusi terhadap negara, membuka akses pendidikan yang lebih luas juga merupakan investasi jangka panjang.

Lulusan D3 yang melanjutkan ke S1 berpotensi menjadi tenaga kerja yang lebih adaptif, kompeten, dan siap menghadapi tantangan global. Mereka tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki fondasi akademik yang lebih kokoh.

Selain itu, tidak dapat diabaikan bahwa banyak mahasiswa D3 berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Jalur vokasi sering dipilih karena lebih terjangkau dan menawarkan jalan lebih cepat ke dunia kerja.

Dalam konteks ini, membuka akses beasiswa bagi mereka bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan mobilitas ekonomi.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Perubahan tentu tidak harus terjadi secara instan. Namun, langkah awal dapat dimulai dengan menghadirkan skema beasiswa khusus untuk transisi D3 ke S1, program afirmasi bagi lulusan vokasi, atau memperluas cakupan beasiswa yang sudah ada agar lebih inklusif terhadap berbagai jalur pendidikan.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang siapa yang lebih berhak mendapatkan beasiswa.

Ini tentang bagaimana pendidikan dipandang sebagai hak yang semestinya dapat diakses oleh semua orang. Jika tujuan kita adalah membangun sumber daya manusia yang unggul, maka setiap jalur perlu diberi ruang yang adil untuk berkembang.

Lulusan D3 bukan kekurangan potensi, melainkan sering kali kekurangan kesempatan. Dan dalam banyak hal, yang dibutuhkan bukanlah perubahan besar, melainkan keberpihakan kecil yang konsisten.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Lulusan D3: Mengapa Jalan Kami Terasa Lebih Sempit?"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau