
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah kebahagiaan harus selalu diukur dari pernikahan? Apakah justru bisa ditemukan dalam pilihan hidup yang berbeda, termasuk saat seseorang memilih untuk tidak menikah?
Di tengah norma sosial yang kerap menempatkan pernikahan sebagai salah satu pencapaian penting dalam hidup, pilihan untuk tetap melajang masih sering dipandang sebelah mata.
Tidak sedikit yang menganggap pernikahan sebagai “tahap wajib” yang harus dilalui setiap individu.
Namun, seiring perubahan zaman, cara pandang tersebut perlahan bergeser. Semakin banyak orang yang memilih untuk single-by-choice, melajang karena pilihan sadar, dan tetap mampu menjalani hidup yang utuh, bermakna, serta bahagia.
Kebahagiaan, pada akhirnya, tidak selalu harus datang dari ikatan pernikahan. Tanpa menikah pun, seseorang tetap dapat menemukan makna hidup melalui kemandirian, pertumbuhan diri, dan ketenangan batin.
Langkah awal untuk mencapai kebahagiaan dalam pilihan ini adalah berani melepaskan diri dari ekspektasi sosial. Kebahagiaan bukanlah konsep seragam yang berlaku untuk semua orang.
Bagi sebagian individu, kebahagiaan justru terletak pada kebebasan menentukan arah hidup tanpa harus berkompromi dengan pasangan.
Saya teringat seorang rekan kerja yang memilih untuk tidak menikah. Dalam kesehariannya, ia terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri.
Ia bebas mengambil keputusan, baik besar maupun kecil, tanpa harus menunggu kesepakatan pihak lain. Waktu dan energinya ia curahkan untuk mengembangkan diri, hobi, dan karier.
Bahkan, ia berhasil membangun usaha kuliner sederhana yang kini berkembang dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ia juga telah memiliki rumah dan kendaraan pribadi.
Bagi dirinya, definisi bahagia cukup sederhana: pekerjaan berjalan lancar, kondisi keuangan aman, dan bisa menikmati waktu sendiri dengan tenang tanpa tekanan pertanyaan yang berulang tentang status pernikahan.
Di sisi lain, ada pula rekan lain yang mengambil keputusan serupa, tetapi dengan latar belakang berbeda.
Ia pernah menyaksikan secara langsung proses persalinan di rumah sakit, dan pengalaman tersebut cukup membekas hingga membuatnya memilih untuk tidak menikah dan tidak memiliki anak. Pilihan ini tentu sangat personal dan tidak bisa disamaratakan, apalagi dipaksakan.
Menariknya, tidak menikah bukan berarti hidup dalam kesendirian yang hampa. Sebagai makhluk sosial, manusia tetap membutuhkan relasi.
Mereka yang melajang justru sering kali memiliki jaringan sosial yang kuat, baik melalui persahabatan, komunitas, maupun keluarga besar.
Hubungan pertemanan, misalnya, dapat menjadi sumber dukungan emosional yang tidak kalah hangat. Keterlibatan dalam komunitas atau organisasi juga memberikan rasa memiliki (sense of belonging) yang penting bagi kesejahteraan psikologis.
Dalam beberapa kasus, kedekatan dengan keluarga besar justru menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. Ada yang merasakan peran sebagai “orang tua kedua” bagi keponakan, bahkan turut membiayai pendidikan mereka.
Relasi semacam ini menghadirkan makna yang tidak kalah dalam dibandingkan hubungan dalam rumah tangga.
Tanpa struktur kehidupan yang biasanya hadir dalam pernikahan, seseorang memiliki ruang yang lebih luas untuk merancang tujuan hidupnya sendiri. Ibarat kanvas kosong, setiap individu bebas menentukan arah dan warna kehidupan yang ingin dijalani.
Meski demikian, tantangan terbesar dari pilihan ini sering kali bukan berasal dari dalam diri, melainkan dari lingkungan sekitar. Pertanyaan seperti “kapan menikah?” atau candaan seputar status lajang masih kerap muncul dalam berbagai kesempatan.
Seorang rekan yang kini memasuki usia menjelang 50 tahun, misalnya, memiliki cara tersendiri dalam menyikapi hal tersebut.
Nah, dengan penuh percaya diri, ia menjelaskan bahwa pilihannya didasarkan pada pertimbangan yang matang. Ia juga secara perlahan mengedukasi lingkungan sekitarnya agar memahami bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda.
Alih-alih terpengaruh, ia justru membangun lingkaran pertemanan yang suportif—orang-orang yang menghargai pilihannya tanpa menghakimi. Dalam berbagai acara, termasuk pernikahan, ia tetap hadir dengan sikap santai dan penuh penghargaan.
Di sisi lain, kemandirian finansial dan kesiapan menghadapi masa depan menjadi aspek penting dalam pilihan hidup ini. Tanpa pasangan, seseorang perlu merencanakan masa tua secara lebih mandiri, mulai dari tabungan pensiun, asuransi kesehatan, hingga kepemilikan tempat tinggal.
Saya juga melihat hal ini pada seorang rekan guru yang memilih tetap melajang. Ia menjalani hidup dengan terencana: menabung secara konsisten, menjaga kesehatan, serta memastikan memiliki hunian yang nyaman. Ia juga menikmati perjalanan sendiri sebagai bentuk apresiasi terhadap hidup yang dijalaninya.
Menikah atau tidak menikah adalah pilihan yang sama-sama valid. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh status sipil, melainkan oleh kedamaian hati, rasa syukur, dan kemampuan seseorang dalam menjalani hidup yang selaras dengan dirinya.
Menjadi lajang bukanlah kekurangan. Bagi sebagian orang, itu justru merupakan bentuk kebebasan untuk merancang kehidupan yang paling autentik—sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan kebahagiaan yang mereka yakini.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Defenisi Bahagia Tanpa Menikah"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang