Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yulius Roma Patandean
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yulius Roma Patandean adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

"Single-by-Choice", Menemukan Makna Hidup di Luar Pernikahan

Kompas.com, 21 April 2026, 09:49 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah kebahagiaan harus selalu diukur dari pernikahan? Apakah justru bisa ditemukan dalam pilihan hidup yang berbeda, termasuk saat seseorang memilih untuk tidak menikah?

Di tengah norma sosial yang kerap menempatkan pernikahan sebagai salah satu pencapaian penting dalam hidup, pilihan untuk tetap melajang masih sering dipandang sebelah mata.

Tidak sedikit yang menganggap pernikahan sebagai “tahap wajib” yang harus dilalui setiap individu.

Namun, seiring perubahan zaman, cara pandang tersebut perlahan bergeser. Semakin banyak orang yang memilih untuk single-by-choice, melajang karena pilihan sadar, dan tetap mampu menjalani hidup yang utuh, bermakna, serta bahagia.

Kebahagiaan, pada akhirnya, tidak selalu harus datang dari ikatan pernikahan. Tanpa menikah pun, seseorang tetap dapat menemukan makna hidup melalui kemandirian, pertumbuhan diri, dan ketenangan batin.

Langkah awal untuk mencapai kebahagiaan dalam pilihan ini adalah berani melepaskan diri dari ekspektasi sosial. Kebahagiaan bukanlah konsep seragam yang berlaku untuk semua orang.

Bagi sebagian individu, kebahagiaan justru terletak pada kebebasan menentukan arah hidup tanpa harus berkompromi dengan pasangan.

Saya teringat seorang rekan kerja yang memilih untuk tidak menikah. Dalam kesehariannya, ia terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri.

Ia bebas mengambil keputusan, baik besar maupun kecil, tanpa harus menunggu kesepakatan pihak lain. Waktu dan energinya ia curahkan untuk mengembangkan diri, hobi, dan karier.

Bahkan, ia berhasil membangun usaha kuliner sederhana yang kini berkembang dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ia juga telah memiliki rumah dan kendaraan pribadi.

Bagi dirinya, definisi bahagia cukup sederhana: pekerjaan berjalan lancar, kondisi keuangan aman, dan bisa menikmati waktu sendiri dengan tenang tanpa tekanan pertanyaan yang berulang tentang status pernikahan.

Di sisi lain, ada pula rekan lain yang mengambil keputusan serupa, tetapi dengan latar belakang berbeda.

Ia pernah menyaksikan secara langsung proses persalinan di rumah sakit, dan pengalaman tersebut cukup membekas hingga membuatnya memilih untuk tidak menikah dan tidak memiliki anak. Pilihan ini tentu sangat personal dan tidak bisa disamaratakan, apalagi dipaksakan.

Menariknya, tidak menikah bukan berarti hidup dalam kesendirian yang hampa. Sebagai makhluk sosial, manusia tetap membutuhkan relasi.

Mereka yang melajang justru sering kali memiliki jaringan sosial yang kuat, baik melalui persahabatan, komunitas, maupun keluarga besar.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Menyiasati Barang Menumpuk, Kapan Disimpan, dan Kapan Dilepas?
Menyiasati Barang Menumpuk, Kapan Disimpan, dan Kapan Dilepas?
Kata Netizen
'Single-by-Choice', Menemukan Makna Hidup di Luar Pernikahan
"Single-by-Choice", Menemukan Makna Hidup di Luar Pernikahan
Kata Netizen
Sebuah Kisah di Balik Kebiasaan Lari, FOMO yang Berbuah Sehat
Sebuah Kisah di Balik Kebiasaan Lari, FOMO yang Berbuah Sehat
Kata Netizen
CFD Cibinong, Ruang Sehat yang Masih Perlu Penataan
CFD Cibinong, Ruang Sehat yang Masih Perlu Penataan
Kata Netizen
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau