
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di antara banyaknya barang yang tersimpan di rumah, mana yang benar-benar masih dibutuhkan, dan mana yang sebenarnya hanya bertahan karena kebiasaan atau kenangan?
Setiap rumah pada dasarnya adalah cerminan dari penghuninya. Di dalamnya tersimpan berbagai barang pribadi yang tentu tidak hadir begitu saja, melainkan dibeli dengan alasan dan tujuan tertentu.
Sebagian barang dibeli karena kebutuhan, sebagian lainnya karena keinginan—misalnya tertarik promo, sedang tren, atau sekadar ingin menambah koleksi. Namun, tidak jarang setelah sampai di rumah, barang-barang tersebut justru jarang digunakan dan akhirnya hanya menjadi pajangan.
Bahkan, ada pula yang nasibnya lebih “sunyi”, tersimpan rapi di bagian dalam lemari, terlupakan seiring waktu.
Pada awalnya, barang baru memang terasa lebih menarik dan sering digunakan. Namun ketika barang sejenis kembali dibeli, posisi barang lama perlahan tergeser. Tanpa disadari, barang yang dulu dianggap penting kini hanya tersisa dalam ingatan.
Pengalaman sederhana ini sering terjadi dalam keseharian. Misalnya, saat membeli pakaian baru. Rasa percaya diri yang muncul saat mengenakan pakaian baru membuat kita lebih sering memilihnya dibandingkan pakaian lama. Akibatnya, beberapa pakaian yang masih layak pakai justru jarang tersentuh.
Fenomena ini tidak hanya berlaku pada pakaian. Di banyak rumah, kita bisa menemukan berbagai barang lain yang digunakan secara terbatas, bahkan hanya pada momen tertentu.
Ambil contoh peralatan dapur berukuran besar yang biasanya hanya digunakan saat hari raya, atau tikar lipat yang baru dikeluarkan ketika ada acara keluarga seperti arisan. Di luar momen tersebut, barang-barang ini kembali disimpan di tempat khusus.
Di sisi lain, ada pula barang-barang yang benar-benar sudah tidak digunakan, tetapi tetap disimpan. Jika ruang di rumah cukup luas, hal ini mungkin tidak menjadi masalah. Namun, bagi rumah dengan ruang terbatas, penumpukan barang bisa menjadi tantangan tersendiri.
Di sinilah pentingnya mengelola barang dengan bijak. Tidak semua barang harus disimpan, tetapi tidak semua pula layak untuk dibuang begitu saja.
Ada satu faktor yang sering membuat kita ragu untuk melepas barang lama: kenangan. Beberapa benda memiliki nilai emosional yang sulit tergantikan. Meskipun tidak lagi digunakan, keberadaannya tetap terasa berarti.
Karena itu, proses decluttering atau memilah barang sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Tidak sekadar membersihkan ruang, tetapi juga menghargai nilai yang melekat pada setiap barang.
Untuk barang-barang yang memiliki nilai historis atau emosional, menyimpannya dalam wadah khusus bisa menjadi solusi. Selain lebih rapi, cara ini juga membantu menjaga agar barang tersebut tidak mudah terbuang atau terselip.
Pada akhirnya, nasib barang lawas di rumah sangat bergantung pada keputusan pemiliknya. Apakah akan tetap disimpan, dimanfaatkan kembali, atau dilepaskan, semua kembali pada kebutuhan dan nilai yang diberikan pada barang tersebut.
Rumah yang nyaman bukanlah rumah yang penuh dengan barang, melainkan rumah yang mampu menyeimbangkan fungsi, kerapian, dan makna.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Nasib Barang Lawas di Rumah, Tergantung Pemiliknya"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang