Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Maria Tanjung Sari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Maria Tanjung Sari adalah seorang yang berprofesi sebagai Full Time Blogger. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Menyiasati Barang Menumpuk, Kapan Disimpan, dan Kapan Dilepas?

Kompas.com, 21 April 2026, 10:56 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di antara banyaknya barang yang tersimpan di rumah, mana yang benar-benar masih dibutuhkan, dan mana yang sebenarnya hanya bertahan karena kebiasaan atau kenangan?

Setiap rumah pada dasarnya adalah cerminan dari penghuninya. Di dalamnya tersimpan berbagai barang pribadi yang tentu tidak hadir begitu saja, melainkan dibeli dengan alasan dan tujuan tertentu.

Sebagian barang dibeli karena kebutuhan, sebagian lainnya karena keinginan—misalnya tertarik promo, sedang tren, atau sekadar ingin menambah koleksi. Namun, tidak jarang setelah sampai di rumah, barang-barang tersebut justru jarang digunakan dan akhirnya hanya menjadi pajangan.

Bahkan, ada pula yang nasibnya lebih “sunyi”, tersimpan rapi di bagian dalam lemari, terlupakan seiring waktu.

Pada awalnya, barang baru memang terasa lebih menarik dan sering digunakan. Namun ketika barang sejenis kembali dibeli, posisi barang lama perlahan tergeser. Tanpa disadari, barang yang dulu dianggap penting kini hanya tersisa dalam ingatan.

Pengalaman sederhana ini sering terjadi dalam keseharian. Misalnya, saat membeli pakaian baru. Rasa percaya diri yang muncul saat mengenakan pakaian baru membuat kita lebih sering memilihnya dibandingkan pakaian lama. Akibatnya, beberapa pakaian yang masih layak pakai justru jarang tersentuh.

Fenomena ini tidak hanya berlaku pada pakaian. Di banyak rumah, kita bisa menemukan berbagai barang lain yang digunakan secara terbatas, bahkan hanya pada momen tertentu.

Ambil contoh peralatan dapur berukuran besar yang biasanya hanya digunakan saat hari raya, atau tikar lipat yang baru dikeluarkan ketika ada acara keluarga seperti arisan. Di luar momen tersebut, barang-barang ini kembali disimpan di tempat khusus.

Di sisi lain, ada pula barang-barang yang benar-benar sudah tidak digunakan, tetapi tetap disimpan. Jika ruang di rumah cukup luas, hal ini mungkin tidak menjadi masalah. Namun, bagi rumah dengan ruang terbatas, penumpukan barang bisa menjadi tantangan tersendiri.

Di sinilah pentingnya mengelola barang dengan bijak. Tidak semua barang harus disimpan, tetapi tidak semua pula layak untuk dibuang begitu saja.

Ada satu faktor yang sering membuat kita ragu untuk melepas barang lama: kenangan. Beberapa benda memiliki nilai emosional yang sulit tergantikan. Meskipun tidak lagi digunakan, keberadaannya tetap terasa berarti.

Karena itu, proses decluttering atau memilah barang sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Tidak sekadar membersihkan ruang, tetapi juga menghargai nilai yang melekat pada setiap barang.

Untuk barang-barang yang memiliki nilai historis atau emosional, menyimpannya dalam wadah khusus bisa menjadi solusi. Selain lebih rapi, cara ini juga membantu menjaga agar barang tersebut tidak mudah terbuang atau terselip.

Pada akhirnya, nasib barang lawas di rumah sangat bergantung pada keputusan pemiliknya. Apakah akan tetap disimpan, dimanfaatkan kembali, atau dilepaskan, semua kembali pada kebutuhan dan nilai yang diberikan pada barang tersebut.

Rumah yang nyaman bukanlah rumah yang penuh dengan barang, melainkan rumah yang mampu menyeimbangkan fungsi, kerapian, dan makna.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Nasib Barang Lawas di Rumah, Tergantung Pemiliknya"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Split Bill, Cara Sederhana Menjaga Kenyamanan dalam Pertemanan
Split Bill, Cara Sederhana Menjaga Kenyamanan dalam Pertemanan
Kata Netizen
Relasi Manusia dan Alam, Biawak Terdesak, dan Sapu-Sapu Mendominasi
Relasi Manusia dan Alam, Biawak Terdesak, dan Sapu-Sapu Mendominasi
Kata Netizen
Menyiasati Barang Menumpuk, Kapan Disimpan, dan Kapan Dilepas?
Menyiasati Barang Menumpuk, Kapan Disimpan, dan Kapan Dilepas?
Kata Netizen
'Single-by-Choice', Menemukan Makna Hidup di Luar Pernikahan
"Single-by-Choice", Menemukan Makna Hidup di Luar Pernikahan
Kata Netizen
Sebuah Kisah di Balik Kebiasaan Lari, FOMO yang Berbuah Sehat
Sebuah Kisah di Balik Kebiasaan Lari, FOMO yang Berbuah Sehat
Kata Netizen
CFD Cibinong, Ruang Sehat yang Masih Perlu Penataan
CFD Cibinong, Ruang Sehat yang Masih Perlu Penataan
Kata Netizen
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau