
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah wajar jika di usia dewasa kita masih menikmati komik dan buku anak-anak—dan justru menemukan ketenangan dari sana?
Belakangan ini, istilah inner child semakin sering dibicarakan. Istilah ini merujuk pada sisi “anak kecil” yang masih hidup di dalam diri orang dewasa.
Bagian diri ini menyimpan banyak hal dari masa lalu kenangan, rasa takut, mimpi, hingga kebahagiaan sederhana yang mungkin belum sempat terpenuhi.
Karena itu, tidak sedikit orang dewasa yang masih menyukai kartun, permainan masa kecil, jajanan jadul, atau benda-benda yang mengingatkan pada masa kecilnya.
Inner child tidak selalu berkaitan dengan luka, tetapi juga bisa hadir sebagai rasa penasaran yang dulu belum sempat terjawab.
Ada yang ingin membeli mainan yang dulu tidak bisa dimiliki, ada yang menikmati film animasi, dan ada pula yang tetap membaca buku cerita anak-anak meski usia sudah tidak lagi muda. Masa kecil, pada dasarnya, tidak benar-benar hilang. Ia tumbuh dan ikut membentuk diri hingga dewasa.
Barangkali itulah yang membuat komik dan buku anak-anak tetap terasa menyenangkan untuk dibaca, bahkan di usia 37 tahun.
Mimpi Besar dari Anak Kecil
Saya berasal dari sebuah kampung kecil di Indonesia timur, tempat akses terhadap bacaan sangat terbatas. Saat masih balita, taman kanak-kanak bahkan belum tersedia. Huruf demi huruf pertama kali saya kenal dari ibu, jauh sebelum memasuki bangku sekolah dasar.
Dengan penuh kesabaran, ibu mengajarkan saya membaca hingga akhirnya mampu mengeja kata-kata sederhana.
Salah satu bacaan yang paling saya ingat adalah buku tentang kemerdekaan Indonesia. Hingga kini, saya tidak tahu dari mana ibu mendapatkannya. Namun, buku sederhana itu menjadi pintu pertama yang membuka ketertarikan saya pada dunia membaca.
Sejak saat itu, apa pun yang mengandung tulisan selalu menarik perhatian. Tulisan di bungkus makanan, kaleng susu, hingga potongan teks kecil yang mungkin diabaikan orang lain, semuanya ingin saya baca.
Kebiasaan membaca pun terus berkembang. Saya kerap membuka peta atlas, memperhatikan pulau-pulau, membayangkan kota-kota besar yang belum pernah dikunjungi. Dari sana, perlahan tumbuh mimpi untuk melihat dunia yang lebih luas.
Namun, keinginan memiliki banyak buku tidak selalu sejalan dengan kondisi yang ada.
Anak Kecil dengan Bacaan yang Tidak Kecil