Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rully Novrianto
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Apa Sebabnya Masyarakat Enggan Menerima Petugas Sensus?

Kompas.com, 28 Juni 2026, 12:57 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Mengapa sebagian masyarakat memilih menutup pintu ketika petugas sensus datang? Apakah semata-mata karena tidak ingin didata, atau ada persoalan kepercayaan yang lebih dalam terhadap kebijakan publik?

Sejak pertengahan Juni hingga akhir Agustus 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026). Melalui kegiatan ini, petugas mendatangi rumah-rumah dan pelaku usaha untuk menghimpun data mengenai aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi pemerintah, data tersebut menjadi salah satu dasar dalam menyusun perencanaan pembangunan dan kebijakan ekonomi.

Namun, di lapangan, proses pendataan tidak selalu berjalan mulus. Di berbagai daerah muncul beragam respons, mulai dari masyarakat yang menerima dengan terbuka hingga mereka yang memilih menolak atau enggan memberikan informasi.

Fenomena ini menarik untuk dicermati. Sebab, penolakan terhadap sensus tidak selalu berarti masyarakat menolak pendataan. Bisa jadi, ada persoalan komunikasi dan kepercayaan yang perlu dipahami lebih dalam.

Ketika Pendataan Menyentuh Wilayah yang Bersifat Pribadi

Sebagian pertanyaan dalam sensus menyangkut kondisi ekonomi rumah tangga maupun usaha yang dijalankan. Bagi sebagian orang, informasi seperti pekerjaan, aset usaha, atau pengeluaran rumah tangga merupakan bagian dari ranah privat.

Karena itu, ketika seorang petugas datang dan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, reaksi awal yang muncul bisa berupa kehati-hatian. Terlebih jika masyarakat belum memahami secara utuh tujuan pendataan yang sedang dilakukan.

Dalam situasi seperti ini, kemampuan komunikasi petugas menjadi sangat penting. Penjelasan mengenai manfaat sensus, perlindungan data pribadi, serta alasan mengapa informasi tersebut diperlukan akan sangat membantu membangun rasa percaya.

Sebaliknya, apabila penjelasan yang diterima masyarakat hanya bersifat formal, misalnya sekadar menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan program pemerintah, sebagian warga mungkin masih merasa belum memperoleh jawaban yang memadai atas kekhawatiran mereka.

Kekhawatiran yang Berkaitan dengan Pajak

Di media sosial sempat beredar berbagai unggahan yang mengaitkan Sensus Ekonomi dengan kemungkinan munculnya kebijakan perpajakan baru. Unggahan seperti ini ikut memengaruhi persepsi sebagian masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah melalui BPS telah menjelaskan bahwa data sensus tidak digunakan untuk kepentingan perpajakan dan dilindungi oleh undang-undang sehingga kerahasiaan data individu tetap dijaga.

Meski demikian, dalam praktiknya, tidak semua masyarakat membedakan fungsi masing-masing lembaga pemerintah. Bagi sebagian warga, seluruh proses pendataan yang dilakukan pemerintah sering dipandang sebagai satu kesatuan.

Dalam konteks tersebut, muncul kekhawatiran bahwa informasi mengenai kondisi ekonomi mereka suatu saat dapat berdampak pada kebijakan yang berkaitan dengan pajak atau regulasi lainnya.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Kata Netizen
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
Kata Netizen
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Kata Netizen
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Kata Netizen
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Kata Netizen
Kok 'Gaji Sesuai UMR' Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kok "Gaji Sesuai UMR" Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kata Netizen
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Kata Netizen
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Kata Netizen
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Kata Netizen
'Osob Kiwalan', Bahasa Identitas Orang Malang
"Osob Kiwalan", Bahasa Identitas Orang Malang
Kata Netizen
Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?
Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?
Kata Netizen
Mengapa Lingkaran Pertemanan Makin Kecil Saat Dewasa?
Mengapa Lingkaran Pertemanan Makin Kecil Saat Dewasa?
Kata Netizen
Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau
Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau