
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Terlepas benar atau tidaknya anggapan tersebut, persepsi semacam ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan publik masih menjadi tantangan tersendiri.
Masyarakat Ingin Didengar, Bukan Hanya Didata
Dari sudut pandang masyarakat, pendataan sering kali terasa berlangsung satu arah. Negara membutuhkan informasi mengenai kondisi ekonomi warga, sementara masyarakat berharap persoalan yang mereka hadapi juga memperoleh perhatian.
Banyak pelaku usaha kecil, misalnya, masih bergulat dengan biaya operasional yang meningkat, daya beli yang belum pulih sepenuhnya, atau tantangan memperoleh akses permodalan.
Dalam situasi seperti itu, sebagian orang berharap proses pendataan juga menjadi ruang untuk memahami berbagai kesulitan yang mereka alami.
Memang, tujuan utama sensus adalah menghasilkan data statistik, bukan mengumpulkan aspirasi masyarakat.
Namun, apabila masyarakat belum melihat hubungan yang jelas antara data yang mereka berikan dengan manfaat yang nantinya dirasakan, muncul pertanyaan yang cukup wajar: untuk apa data tersebut dikumpulkan?
Pertanyaan inilah yang menunjukkan pentingnya komunikasi publik yang lebih baik mengenai bagaimana hasil sensus akan dimanfaatkan dalam penyusunan kebijakan.
Tantangan Membangun Kepercayaan Publik
Pada akhirnya, penerimaan masyarakat terhadap sensus tidak hanya ditentukan oleh kualitas instrumen pendataan, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan publik terhadap institusi yang melaksanakannya.
Kepercayaan merupakan sesuatu yang dibangun melalui pengalaman. Ketika masyarakat merasa bahwa berbagai data yang telah dikumpulkan sebelumnya benar-benar digunakan untuk menghasilkan kebijakan yang bermanfaat dan tepat sasaran, maka proses pendataan berikutnya cenderung akan lebih mudah diterima.
Sebaliknya, apabila masyarakat belum merasakan manfaat tersebut atau masih memiliki pengalaman yang kurang baik terhadap implementasi berbagai kebijakan publik, sikap skeptis akan lebih mudah muncul.
Dalam konteks inilah, pelaksanaan sensus tidak sekadar menjadi kegiatan statistik, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara negara dan masyarakat melalui komunikasi yang transparan, terbuka, dan saling membangun kepercayaan.
Menjadikan Sensus sebagai Dialog
Sensus ekonomi pada dasarnya merupakan instrumen penting untuk memahami kondisi perekonomian nasional. Data yang akurat akan membantu pemerintah menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Namun, kualitas data juga sangat bergantung pada kesediaan masyarakat untuk berpartisipasi. Karena itu, selain memastikan keamanan data, diperlukan pula upaya yang lebih intensif dalam menjelaskan manfaat nyata dari hasil sensus kepada publik.
Ketika masyarakat memahami tujuan pendataan, merasa data pribadinya terlindungi, serta melihat bahwa informasi yang diberikan benar-benar digunakan untuk memperbaiki kualitas kebijakan publik, proses sensus tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mengancam.
Barangkali di situlah tantangan terbesarnya. Bukan semata mengumpulkan data sebanyak mungkin, melainkan membangun keyakinan bahwa setiap informasi yang diberikan masyarakat akan kembali dalam bentuk kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan bersama.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kenapa Banyak Masyarakat yang Alergi Didatangi Petugas Sensus?"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang